Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 60


__ADS_3

Mobil Jessy melaju ke wilayah puncak. Sesuai informasi, anak buah Elang memberitahu soal alamat markas terbaru mereka. Namun sayangnya Jessy tidak bisa berkata sejujur-jujurnya.


Seharusnya Jessy menjelaskan jika harus menunggu beberapa jam bahkan beberapa hari untuk bisa menemui Elang. Itu berarti Elang belum tentu ada di tempat. Dia selalu menunggu keadaan benar-benar aman untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan seperti sekarang.


Alan bersama salah satu anak buahnya duduk di jog belakang sementara Jessy menyetir. Senjata api sudah mereka siapkan. Jessy melajukan mobil di bawah tekanan dan ancaman.


Kai memilih untuk tidak ikut karena lebih mementingkan keselamatan Nay. Pemburuan juga belum tentu membuahkan hasil sehingga Alan memutuskan untuk turun tangan sendiri.


"Jangan berkhianat lagi Nona. Beruntung Tuan Kai memberikan kesempatan." Jessy memasang wajah masam sambil fokus menyetir.


"Aku juga akan tetap mati karena Elang akan memburu ku!" Jawabnya ketus.


"Kita semua memang akan mati suatu saat nanti. Tapi paling tidak, kita mati dengan tenang karena memihak seseorang yang benar."


"Tidak ada bedanya mereka? Sama-sama manfaatkan orang lain." Alan terkekeh begitupun anak buahnya.


"Memangnya kau tidak?" Tanya Alan balik." Kau memanfaaatkan Hendra dan merebutnya dari Nona Nay. Jangan terlalu banyak melontarkan pembelaan. Aku tahu bagaimana buruknya dirimu." Imbuh Alan tersenyum simpul.


"Dia berubah menjadi monster! Itu kenapa Hendra pergi!"


"Jangan munafik. Kalian berselingkuh jauh sebelum kecelakaan itu. Tapi ya sudah. Dia milik Tuanku sekarang."


Jessy tidak bergeming. Dia memarkir mobilnya di bahu jalan yang berdekatan dengan Vila tujuannya. Satu mobil lain menyusul dan berhenti di belakang mobil Jessy.


Lokasi sangat terpencil. Tidak ada CCTV, jarak antara Vila lain puluhan meter sehingga menggampangkan Alan untuk beraksi.


"Kau jaga dia. Jangan segan-segan menembak jika dia berusaha kabur." Pinta Alan pada anak buahnya. Dia turun dari mobil dan langsung berjalan menuju Vila.


Tidak ada basa basi, pengampunan atau negoisasi. Dua orang penjaga di tembak mati dan di gantikan dengan anak buahnya. CCTV yang terletak di depan juga tidak luput dari bidikannya.


Untuk melancarkan aksinya, Alan sengaja membawa sebuah kotak berbungkus kertas coklat. Dia ingin menjadikannya alasan agar pintu kokoh di hadapannya terbuka.


Alan menunjukkan paket ke arah lubang pintu untuk menyakinkan. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki bertubuh tinggi tegap.


"Tidak ada yang memesan paket." Ujarnya menolak. Menutup pintu dengan gerakan cepat namun tidak lebih cepat dari Alan.


"Di mana Tuanmu." Ancam Alan menodongkan senjata.


Dasar wanita sialan!!


"Dia tidak ada di tempat." Jawabnya dengan wajah panik. Dia tahu nyawanya berada di ujung tanduk.


Duuuuppppp!!!

__ADS_1


Tanpa fikir panjang Alan melubangi tengkorak kepalanya lalu menyerbu masuk dan memeriksa setiap sudut ruangan. Selayaknya permainan di dalam game, Alan menembak satu persatu beberapa anak buah Elang tanpa peringatan. Bibirnya tersenyum simpul, menikmati kegiatannya sekarang.


"Semua sudut ruangan aman Bos." Alan menghembuskan nafas berat. Merasa kecewa saat menyadari Elang tidak ada di sana.


"Ambil ponsel mereka. Jangan sampai terlewat." Pinta Alan tegas.


"Baik Bos."


Setelah ponsel di kumpulkan, mayat-mayat di seret masuk ke mobil untuk di musnahkan. Beberapa jirigen bensin di siramkan ke seluruh sudut Vila dan beberapa lainnya di letakkan di dalam.


"Hahahaha.. Habiskan uangmu untuk bersembunyi." Ujar Alan menyalahkan pemantik lalu melemparkannya.


Bluuuuuummmmmm.....


Api melahap Vila mewah tersebut. Alan dan anak buahnya meninggalkan lokasi tanpa jejak. Mobil melaju menuju kediaman Kai.


Jessy masih di bawa ikut serta. Alan tidak berani membebaskan jika titah Kai belum di terima.


Singkat waktu, setibanya di lokasi. Kai mencoba membuka ponsel yang memiliki keamanan kata sandi. Tentu bukan hal mudah sehingga terpaksa hacker di datangkan agar ponsel bisa di operasikan.


Sambil menunggu hacker datang, Nay menyuguhkan minuman juga makanan ringan pada Jessy. Nay tersenyum simpul, dia meletakkan nampan. Matanya sempat melirik ke arah Kai yang tengah duduk di sofa lain bersama Alan.


"Silahkan Nona." Ujar Nay sopan.


"Tidak perlu sok bersikap manis padaku!" Jawab Jessy ketus.


"Kau pasti dendam padaku kan. Aku merusak rumah tangga mu dan kau menyuruh Suami mu membalas dendam padaku." Nay tersenyum seraya mengangguk.


"Bukan sepenuhnya kesalahan mu. Perselingkuhan tidak akan terjadi tanpa persetujuan kedua belah pihak." Nay menatap Jessy tajam. Tangannya meraih senjata api yang tersimpan di paha nya lalu menunjukkannya pada Jessy." Kalau aku berniat balas dendam, mungkin sekarang kau sudah tidak mampu berceloteh." Raut wajah Jessy berubah tegang. Dia tidak menyangka jika wanita yang di anggapnya lembut, menyimpan sebuah senjata api.


Bagaimana mungkin dia membawa benda berbahaya itu.


"Makanlah. Nyawamu bukan milikku." Nay kembali menyimpan senjatanya." Aku hanya berusaha menjamu tamu." Jessy tersenyum aneh lalu mengambil satu buah kue.


"Kalau kamu ingin. Nyawanya bisa jadi milikmu." Sahut Kai duduk di sisi Nay. Jessy menelan makanannya pelan, cukup muak mendengar obrolan tersebut.


Memangnya nyawaku mainan. Bisa di serahkan sesukanya. Sialan Elang. Seharusnya dia menolongku..


"Tidak terimakasih. Bagaimana? Apa lokasinya sudah di temukan?" Tanya Nay ingin tahu.


"Orang yang paham dengan itu, sedang ada di perjalanan." Kini pandangan Kai beralih pada Jessy." Kenapa pemburuan ini bisa gagal?" Jessy meneguk sirup dingin di hadapannya meski terbesit ketakutan jika Nay meracuninya.


"Aku panik. Lupa untuk memberitahu jika Elang tidak mungkin langsung datang."

__ADS_1


"Lupa atau sengaja, mana aku tahu."


"Terserah jika kau tidak percaya."


"Bicaralah sopan. Aku bukan temanmu." Jawab Kai sambil mengutak-atik senjatanya. Jantung Jessy seketika berpacu cepat. Dia takut jika nyawanya terenggut hari ini.


"Maaf."


"Aku tidak butuh maaf mu tapi kejujuran mu. Kesempatan hidup sangatlah mahal. Kau sudah berkhianat begitu lama dan beruntung aku tidak membunuh mu. Apa yang dia cari? Berkas Xu grup?" Jessy terdiam sesaat sebelum melontarkan jawaban.


Apa aku jujur saja? Tapi kedua orang ini sama-sama akan membunuh ku..


"Hm salah satunya itu."


"Ada di perut ku. Tikus itu akan memiliki nya jika dia berhasil membunuh ku." Nay menghela nafas panjang. Jawaban tersebut terdengar mengerikan." Aku berusaha adil di sini. Mari bertemu dan kita berduel. Tapi lihatlah, Tuan mu selalu kabur padahal Xu grup otomatis menjadi miliknya kalau dia bisa membunuh ku." Jessy mencoba menguasai situasi agar dirinya bisa hidup bebas dan normal.


"Dia memang seperti itu."


"Tapi kau memihak nya."


"Terpaksa."


"Apa yang paling kau inginkan di dunia ini?" Kai mencoba melontarkan penawaran untuk Jessy. Hal itu di lakukan sebagai bentuk pengampunan dengan syarat persekutuan.


"Hidup bebas. Jujur saja jika saya terbebani dengan tugas dari Elang."


"Bisa ku penuhi. Perusahaan mu akan ku kembalikan bahkan mungkin akan ku tambahkan. Tapi.. Jadilah anak pintar." Jessy sudah menebak soal penawaran yang di lontarkan Kai." Tugasmu tidak akan berat. Kau hanya mencari tahu lokasi dan setelah itu, biar Alan yang mengurus." Imbuhnya tersenyum simpul.


"Saya sudah tidak memiliki kontak anak buahnya lagi. Mereka sudah anda bunuh."


"Keahlian mu kan berakting. Gunakan itu untuk mengelabuhi nya."


"Saya takut anda ingkar."


"Itu yang tidak kau ketahui dariku. Menurut mu aku bisa berada di sini tanpa orang kepercayaan? Aku tidak pernah menyepelekan sebuah pengorbanan seperti yang di lakukan tikus itu pada anak buahnya. Rahasia dari kekuasaan yang mengakar kuat karena aku memiliki orang-orang yang bisa ku percaya. Mereka menjual nyawanya padaku dan ku beli dengan harga setimpal." Tanpa aba-aba Alan meletakkan selembar surat perjanjian di hadapan Jessy.


"Pelajari Nona. Jika tidak percaya, kau boleh bertanya pada mereka." Menunjuk ke para ajudan.


Jessy membaca keseluruhan dari surat perjanjian. Memang sama-sama mengikat namun Kai tidak menerapkan sistem asal-asalan seperti yang di lakukan Elang.


Itu kenapa dia memiliki banyak anak buah. Di segani banyak orang dan bisa sukses dalam bidang bisnis. Kai memberikan banyak fasilitas. Bukan hanya harta tapi sebuah penghargaan akan di berikan meski nyawa melayang.


Jessy mulai membanding-bandingkan. Apalagi kematian Hendra di abaikan begitu saja. Jangankan penghargaan, jasad Hendra bahkan tidak di ketahui ada di mana.

__ADS_1


"Saya mau. Asal saya bisa bebas dan perusahaan bisa saya miliki." Hahahaha.. Kalau Elang mati otomatis hidupku menjadi tenang. Kai tidak paham, jika bukan dia yang memanfaatkan tapi aku.


🌹🌹🌹


__ADS_2