
Nay sedikit merasa malas ketika melihat mobil Kai masuk ke area proyek baru. Dia enggan bertemu Hendra namun Kai memintanya untuk ikut.
Kedatangan mereka di sambut senyuman palsu yang bisa Nay baca. Saat Hendra dan Jessy mengulurkan tangan ke arahnya, dia menolak.
"Aku bukan lagi berperan sebagai Sekertaris. Aku Istrinya." Meraih lengan Kai dan menggenggamnya erat.
"Apa yang salah dari jabatan tangan." Hendra tersenyum simpul. Menatap Nay dari atas sampai bawah. Terlihat cantik dengan balutan dress mewah.
Hendra mulai membandingkan kehidupan yang sekarang dingin tak berperasaan, dengan hidupnya dulu bersama Nay yang penuh kehangatan.
Walaupun kekurangan uang kerapkali terjadi, tapi sekalipun Nay tidak pernah menuntutnya untuk berkerja keras. Berapapun jumlah uang yang Hendra berikan, di terima tanpa protesan.
Masakan sedap serta sambutan hangat selalu tersuguh saat Hendra membutuhkan asupan tenaga setelah pulang berkerja. Sementara sekarang. Rumah besar miliknya seakan tidak berpenghuni. Dingin dan sepi sehingga membuatnya terpaksa menghabiskan waktu di luaran bersama sembarang wanita. Tubuhnya terlihat tidak terurus. Lebih kurus dengan lingkar hitam pada mata.
Nay iba melihat keadaan tersebut. Seburuk-buruknya Hendra memperlakukannya, lelaki itu pernah hidup bersamanya.
Namun apalah daya. Ikatan pernikahan sudah terputus. Kini Nay hanya mampu menjadi penonton atas apa yang akan Hendra tuai nanti.
"Tentu saja salah. Mari kita mulai meeting nya." Sahut Kai berjalan melewati Hendra di ikuti oleh Erik.
Jessy menghela nafas panjang sambil melirik malas ke arah ketiganya. Dia tidak menyangka jika Kai bisa benar-benar di miliki Nay. Selama beberapa tahun mengenal sosok Kai. Sekalipun Jessy tidak pernah melihat Kai bersentuhan dengan wanita walau hanya sekedar jabatan tangan.
"Kau menyukai wanita itu lagi?" Tanya Jessy setengah berbisik.
"Hm. Apa itu masalah besar untukmu." Jawab Hendra ketus. Protesan untuk Jessica selalu saja tidak di dengar.
"Tidak. Terserah kau saja, aku sudah tidak perduli."
"Aku menyesal menikah dengan mu."
"Kau masih saja berkata begitu. Jangan munafik dengan fasilitas yang kamu miliki sekarang." Jessy belum juga mengakui jika perusahaan yang di berikan pada Hendra atas perintah Kai. Sehingga Hendra mengira jika Jessy lah yang memberikan kehidupan layak untuknya.
"Aku mulai bosan."
"Aku juga."
Keduanya terdiam sampai mencapai ruang meeting. Sudah ada beberapa orang menunggu di dalam. Mereka merupakan orang pilihan Jessy yang nantinya akan mengisi jabatan pada perusahaan.
Itu kenapa Kai wajib hadir. Dia ingin melihat sendiri bagaimana penampakan orang-orang yang di anggap sempurna.
Erik membagikan surat perjanjian kontrak selama satu bulan. Jika perkerjaan mereka tidak sesuai standar, kontrak tidak akan di perpanjang.
"Mereka sudah berpengalaman Pak. Surat kontrak ini terlalu mengikat." Jessy mempelajari surat kontrak dengan perjanjian yang tentu akan membelit kuat.
__ADS_1
"Berpengalaman belum tentu baik untukku." Jawab Kai memasang wajah dingin.
"Hm baik."
"Erik akan menghandle proyek ini. Dia pengganti Han yang nantinya memantau perkembangan perusahaan."
Itu berarti setelah ini aku tidak bisa bertemu Nay..
Kai melirik sebentar ke wajah Hendra yang seketika berubah. Dia tersenyum meledek seakan sudah bisa membaca apa yang ada di dalam fikirannya.
"Apa dia sudah teruji Pak." Dewasa sekali. Sepertinya ini sasaran empuk. Semoga saja dia sedikit lunak. Tidak seperti Han yang mirip kanebo kering.
Jessy yang haus akan sentuhan, selalu saja tertarik pada orang yang baru di temuinya. Apalagi Erik cukup tampan dan dewasa sehingga membuat otak kotornya mulai bergerilya.
"Kau tidak perlu repot-repot memikirkan itu. Teruji atau tidak, itu urusan ku." Jawab Kai ketus." Kalau setuju cepat tanda tangani. Kalau ingin mundur, silahkan meninggalkan ruangan." Pinta Kai tegas.
"Bagaimana jika pekerjaan tidak bisa di selesaikan. Apa tetap tidak boleh di bawa ke rumah?" Tanya salah satunya.
"Di situ sudah di jelaskan kalau perkerjaan harus di buka pada laptop perusahaan. Email yang di sediakan tidak boleh di operasikan di laptop lain." Jawab Erik ramah.
"Jika deadline bagaimana Pak."
"Aku bukan orang yang hanya pintar memeras fikiran saja. Semua pengabdian kalian akan ku bayar dengan gaji dan fasilitas setimpal. Tapi jika kalian melanggar peraturan. Siap-siap nama kalian ku masukkan buku hitam. Tidak akan ada perusahaan yang mau menerima kalian." Jawab Kai tegas.
Para calon pegawai menelan salivanya kasar. Mereka masih tidak bergeming dan memikirkan keputusan yang akan di ambil.
Memang terdengar seenaknya. Namun mau bagaimana lagi jika itu peraturan yang harus di taati. Kai tidak pernah memaksa seseorang untuk berkerja padanya. Tapi melihat nominal besar dan fasilitas yang akan di dapatkan. Orang mana yang tidak tergiur. Gaji besar, mobil mewah bahkan fasilitas rumah akan di berikan sebagai imbalan kesetiaan.
Kalau begini. Bagaimana caranya bisa memanipulasi? Aku tidak mau rugi dan sengaja membawa orang bodoh-bodoh ini..
"Kami keberatan Pak. Ini sama halnya menjual nyawa kami."
Kai tersenyum simpul. Kecurangan yang akan di lakukan Jessy sudah terendus.
"Hm silahkan keluar." Menunjuk ke arah pintu ruangan yang terdapat dua orang ajudan.
"Kami berjanji akan mengabdikan keahlian kami ke perusahaan ini." Jawabnya menimbang.
"Aku tidak butuh orang berpengalaman. Aku butuh seseorang yang setia."
"Tunggu Pak Kai. Kalau seperti ini, kita akan kesulitan mencari pegawai." Sahut Jessy ingin mempertahankan orang pilihannya.
"Itu tugasmu bukan tugasku. Sulit atau tidak, perjanjian kontrak tidak bisa di rubah lagi." Jawab Kai lantang. Hendra menghela nafas panjang begitupun Jessy yang sontak memasang wajah kesal." Jangan mencoba menipu. Aku tahu apa yang akan kalian rencanakan." Kai menatap tajam ke arah Jessy seakan ingin memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Saya hanya ingin perusahaan ini cepat beroperasi."
"Bukan cepat beroperasi, tapi kau ingin menguasainya kan." Jawab Kai menebak. Jessy mengisyaratkan para calon pegawai pergi dari ruangan. Sudah bisa di pastikan jika calon pegawai merupakan orang yang di rancang untuk menguasai perusahaan.
"Saya ingin mencari yang terbaik untuk perusahaan agar bisa berkembang."
"Tidak perlu repot-repot. Di belakang perusahaan sudah tertera namaku. Kau tahu maksudku Jessy?"
"Saya tahu Pak." Kai memberi isyarat para ajudan untuk menutup pintu ruangan.
"Erlangga sempat menemui Istri ku. Dia hendak merayunya atau bahkan akan menculiknya. Apa kau yakin tidak tahu keberadaannya di mana?" Intonasi dari pertanyaan Kai terdengar datar namun mampu membuat wajah Jessy seketika panik.
"Saya tidak mengenalnya."
"Aku hanya bertanya. Kenapa wajahmu berubah tegang? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Bukan hanya Jessy, kini Hendra di liputi kekhawatiran kalau sampai persekutuannya di ketahui.
"Pertanyaan itu sudah sering di lontarkan." Kai sering melontarkan kecurigaan namun Jessy tidak juga mengakui.
"Karena aku masih tidak percaya padamu." Jessy mencoba tersenyum untuk menutupi kebohongan.
"Mana mungkin saya tidak memberitahu kalau memang saya mengenal Erlangga."
"Semoga saja itu benar. Jika sampai aku tahu kau berkhianat. Blummm!! Nyawamu akan melayang dan ku kirim ke neraka!"
Jessy tersenyum simpul begitupun Hendra. Erik membereskan lembaran kertas kontrak kerja lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Katanya hanya sebentar." Protes Nay memecah pembicaraan yang terasa memanas." Aku ingin pulang dan bersantai." Seketika suasana menjadi kondusif. Amarah Kai yang hampir meledak, langsung merendah begitu mudah.
"Beruntung nya menjadi Istri Pak Kai. Tidak perlu berkerja dan hidupnya terjamin." Jessy berusaha mencairkan suasana untuk menutupi ketegangan hatinya.
"Ada yang lebih beruntung daripada itu." Jawab Nay tersenyum simpul. Seakan bersikap ramah meski rasanya dia tidak ingin bicara.
"Apa itu Nona?"
"Menjadi Suamimu." Nay beralih menatap ke arah Hendra yang juga tengah menatapnya.
"Nona bercanda? Wajahku tidak sesempurna Nona." Jawab Jessy bertujuan meledek.
"Ini hanya wajah palsu yang ku dapatkan dari operasi. Tapi ku rasa itu tidak masalah asal cinta yang ada di dalam hati tidak palsu." Hendra merasa tersindir dengan ucapan tersebut." Aku hanya merasa tidak sabar pada kehidupan seseorang yang lebih memilih cinta imitasi daripada.. Ah sudahlah, itu hanya masa lalu. Ayo pulang. Akan ku masakkan sesuatu yang spesial." Kai tersenyum canggung tanpa melontarkan protesan.
"Meeting hari ini gagal. Besok aku akan mencari kandidat lain sebab kalian tidak becus melakukannya!!" Kai dan Nay berjalan keluar di ikuti oleh Erik juga dua ajudan.
"Curang sekali. Karena tidak teliti, kita harus terjebak di situasi seperti ini!" Umpat Jessy setengah berbisik.
__ADS_1
"Entahlah terserah." Hendra berjalan lemah menuju pintu keluar. Ucapan dari Nay berputar-putar di otaknya. Rasa sesal kembali terbesit meski dirinya tidak mungkin bisa kembali.
🌹🌹🌹