Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 75


__ADS_3

Keracunan masal yang terjadi di pesta pertunangan Alex cukup menggemparkan. Media bahkan meliput kejadian yang kini menjadi topik terhangat. Puluhan orang tewas sementara puluhan lainnya kritis dan harus menjalani perawatan cukup serius.


Pihak berwajib juga ikut turun tangan untuk mengusut tuntas kasus keracunan tersebut. Hingga pemilik usaha catering di jadikan satu-satunya tersangka tunggal. Pihak kepolisian menyatakan jika keracunan terjadi karena murni akibat kelalaian si pemilik catering.


Nay menatap penuh sesal ke arah Kai yang masih terbaring lemas. Entah keberuntungan atau daya tahan tubuh yang kuat, sehingga Kai bisa melewati masa kritisnya.


Dokter menjelaskan tentang bahayanya racun yang terdapat dalam kandungan sirup. Mustahil bisa selamat jika di konsumsi dalam dosis besar.


Ada kejanggalan yang di temukan para Dokter. Dari banyaknya korban, tubuh Kai lebih banyak menelan racun seakan di sengaja.


"Tolong di rahasiakan Dok." Pinta Alan sambil menoleh ke arah Kai yang belum sadarkan diri.


"Baik Tuan. Saya juga tidak mungkin berbicara bebas kalau menyangkut Tuan Kai."


"Terimakasih Dok."


"Sama-sama. Setelah Tuan Kai sadar, baru boleh di pindahkan ke ruang perawatan."


"Hm baik." Dokter tersenyum simpul lalu berjalan keluar ruangan.


Alan menghampiri Nay yang terlihat menyesal akan kebodohannya. Hanya demi sebuah pembuktian, Kai rela hampir merenggang nyawa.


"Tenanglah Nona. Tuan saya tidak mudah di singkirkan." Ujar Alan pelan.


"Aku tidak mendengarkan peringatan nya."


"Wajar saja. Mungkin Nona belum seberapa memahami kerasnya kehidupan kami."


"Kata mereka ini murni kecelakaan." Nay memperlihatkan berita tentang keracunan tersebut. Alex di bebaskan dari tuduhan sebab terbukti tidak bersalah.


"Entahlah Nona. Em saya tunggu di luar atau.."


"Sebaiknya kamu duduk di situ saja." Menunjuk ke kursi kayu.


"Nona tidak lapar?"


"Tidak." Jawab Nay cepat. Alan tersenyum simpul kemudian duduk di kursi sesuai perintah. Seharusnya pihak catering lebih menjaga kebersihan agar tidak membahayakan nyawa customernya.


Tentu saja Nay percaya pada berita yang tersebar di media. Apalagi korbannya bukan hanya Kai, melainkan banyak orang. Menurutnya, itu wajar terjadi meski baginya begitu mengerikan, mengingat puluhan korban meninggal dan tidak terselamatkan.


.


.


.

__ADS_1


Lima menit kemudian. Kai tersadar dari pingsannya. Alat pernafasan terlihat masih terpasang di lubang hidung karena Kai sempat kesulitan bernafas.


"Alan tolong panggilkan Dokter." Alan berdiri lalu menombol bel berwarna merah." Bagaimana keadaan mu Mas?" Tanya Nay pelan.


"Apa ini?" Kai melepaskan alat bantu pernafasan bahkan mencabut jarum infus.


"Jangan di lepas Mas." Cegah Nay panik.


"Alat ini hanya untuk orang lemah." Meski pusing pada kepala masih terasa, Kai duduk tegak seakan kesakitannya tidak berarti.


"Kamu tidak sadarkan diri tadi."


"Apa kau yang membawaku ke sini Alan!!" Teriak Kai lantang. Dia sudah mengedus keganjilan dari kejadian yang menimpanya.


"Maaf Tuan. Em saya tadi hendak membawa Tuan pulang tapi Nona menyuruh saya membawa anda ke rumah sakit." Lagi lagi Kai di hadapkan dengan otak keras Nay. Dia tidak kuasa menyalahkan Alan sebab dirinya sendiri juga tidak sanggup menolak keinginan Nay.


"Kalau tadi pulang, aku takut terjadi sesuatu." Jawab Nay menjelaskan.


"Ada obat penawar racun di rumah. Berada di tempat ini seperti orang lemah saja." Ingin rasanya Kai berteriak namun niat itu tertahan ketika dia sadar hati Nay tengah sensitif.


Dokter masuk ke dalam ruangan, bersamaan dengan berdirinya Kai. Langkahnya tentu tertahan ketika menyadari kemarahan yang Kai perlihatkan dari mimik wajahnya.


"Maaf Tuan. Saya hanya ingin menuruti permintaan Nona." Ujar si Dokter menjelaskan meskipun Kai tidak bertanya.


"Terimakasih Dok." Ucapan Alan hanya di balas dengan anggukan kepala.


Sepanjang perjalanan, Kai menatap sekitar. Suasana rumah sakit terlihat ramai daripada sebelumnya. Teriakan histeris juga tangisan pecah terdengar sesekali ketika nyawa dari korban keracunan tidak bisa di selamatkan.


Setibanya di mobil, Alan memberikan ponsel miliknya sebelum melajukan mobil. Kai membaca sekilas berita tersebut. Dia mengembalikan ponsel seraya tersenyum simpul.


"Sudah kau utus seseorang untuk menanyai pihak catering." Tanya Kai pelan.


"Sudah Tuan. Dia bilang wanita itu terlihat tertekan dan terpaksa mengiyakan tuduhan."


"Siapa yang menangani kasus?"


"Pak Sapto."


"Urus pertemuan ku dengannya besok." Pinta Kai tegas. Kini tatapannya beralih pada Nay yang sejak tadi memperhatikannya dari samping." Sudah percaya? Aku tidak mungkin berbohong." Imbuhnya pelan. Ingin marah namun tidak kuasa melakukan.


"Itu murni kecelakaan."


"Menurut mu begitu?"


"Ya Mas. Korbannya sangat banyak."

__ADS_1


"Itu tandanya dia menginginkan kematian ku sampai-sampai tidak perduli pada nyawa yang lain." Raut wajah Nay berubah tidak percaya. Dia kembali mengira jika Kai terlalu berfikiran negatif.


"Kejadian semacam ini sering terjadi."


"Hm." Jawab Kai singkat sebab merasa lelah berbicara.


"Kamu sudah benar-benar sehat kan Mas?"


"Racun murahan itu tidak akan bisa membunuh ku. Yang bisa mengambil nyawaku hanya Tuhan bukan mereka." Kau mulai berani menunjukkan wajah asli mu.


"Kamu sampai pingsan tadi."


"Asal kamu dan calon anak kita baik-baik saja." Kai tidak ingin banyak bicara apalagi membahas soal kecurigaannya. Dia tahu Nay tidak sanggup menerima itu sebab orang di sekitarnya pintar menyembunyikan kebusukkan.


🌹🌹🌹


Alex menatap geram ke arah ponselnya ketika membaca laporan korban meninggal. Targetnya tidak tercatat di sana bahkan tidak tercantum pada korban kritis.


Alan dengan sigap menyembunyikan sosok Kai dari awak media begitu juga Dokter yang menangani. Tentu saja nama Kai tidak tercatat sebab saat itu Kai langsung di bawa pergi sebelum ambulance datang.


"Kau terlalu menyepelekannya." Ledek Jessy tersenyum simpul. Dia sempat mengingatkan Alex jika Kai tidak mudah di bunuh.


"Aku mencampurkan dosis besar pada minumannya."


"Kesakitan membuat tubuh Kai tidak mudah terluka. Aku ingin tahu bagaimana permainan ranjangnya." Dengusan terdengar berhembus. Alex yakin jika Kai sekarang tengah kritis. Rasanya Jessy tidak banyak membantu.


"Tidak mungkin jika dia baik-baik saja. Aku yakin dia sekarang tengah merenggang nyawa."


"Kalau kau yakin. Untuk apa panik?"


"Namanya tidak ada di daftar bodoh!!" Tak!!! Alex melempar ponselnya kasar.


"Anak buah Kai sangat banyak. Kau itu termasuk orang baru."


"Kau tahu apa hah!!" Teriak Alex geram. Sikap aslinya di perlihatkan. Keramahan yang di tunjukkan semata-mata ingin menutupi bagaimana bengisnya dia.


"Terus bagaimana? Informasi yang ku katakan benar adanya. Kai itu bukan orang sembarangan yang mudah kau tumbangkan. Orang yang memburunya bertahun-tahun saja sekarang tidak ada kabarnya. Lalu? Kau berharap bisa menghabisinya setelah bertemu beberapa hari? Itu mustahil terjadi."


Sudah bisa di pastikan jika Alex adalah dalang di balik keracunan tersebut. Dengan tega dia menumbalkan banyak nyawa hanya untuk memuluskan rencana. Pemilik catering yang tidak bersalah, harus rela di jadikan kambing hitam oleh Sapto, jenderal bintang lima yang sudah menerima suntikan dana milyaran rupiah.


🌹🌹🌹


Kalau ingin lanjut 🎉Dukung cerita ini ya guys 😁


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2