Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 36


__ADS_3

Di dalam kamar, Nay tidak dapat melakukan apapun kecuali termenung. Semua barang serta bajunya sudah di pindahkan ke kamar utama tepatnya kamar milik Kai. Sehingga dia tidak bisa mengganti baju meski terasa gatal.


Nay mencoba mencerna semua kenyataan yang terlanjur di masuki. Apalagi kini dia tidak punya pilihan selain menerima statusnya sebagai Istri Kai.


"Entahlah, aku harus berbuat apa Tuhan. Lelaki itu sudah merenggut kebahagiaan ku. Tapi... Aku yakin semua tidak bisa kembali seperti dulu." Gumam Nay berbicara pada dirinya sendiri." Mas Hendra juga sudah menikmati hidupnya dan bahkan jauh berubah." Imbuhnya lirih.


Sejak awal Nay bukan wanita yang lemah. Dari saat sekolah dia sudah ingin hidup mandiri walaupun akibat keinginannya itu membuat kedua orang tuanya sakit keras.


"Anggap saja aku menjadi zombie. Aku hidup tapi hatiku mati! Lelaki itu memang bisa memiliki ku tapi tidak hatiku."


Setelah berkata demikian, Nay beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar dan mendengus ketika melihat beberapa penjaga berdiri di tangga. Mereka menatapnya sebentar lalu menunduk.


Nay berjalan ke arah kamar utama lalu mengetuk pintunya. Beberapa saat menunggu, pintu terbuka dan memperlihatkan Kai dengan wajah datarnya. Segera saja Nay menerobos masuk tanpa melontarkan sapaan apalagi senyuman.


"Cepat sekali berubah fikiran." Ucap Kai seraya menutup pintu. Menatap Nay yang tengah memilah-milah baju.


"Bukan berubah, lebih tepatnya terpaksa! Aku tahu kau tidak mungkin membebaskan ku!" Jawab Nay ketus.


"Tentu saja. Bertahun-tahun aku mencari mu."


"Terserah kau saja. Aku tidak ingin dengar apapun alasannya. Semua yang kau lakukan tetaplah kesalahan!" Menunjuk kasar ke Kai dengan baju di tangannya.


"Jika bisa kulakukan, akan ku bangunkan lagi anakmu. Sayangnya tidak bisa."


"Kau sedang bercanda hah!"


"Aku serius. Hanya itu yang bisa ku lakukan dan ku berikan. Tapi lihatlah, mantan Suami mu menyalahgunakan perusahaan yang ku berikan." Nay berjalan menghampiri Kai dan berdiri di hadapannya.


"Itu karena wajah buruk ku! Dia tidak yakin bisa memperbaiki nya!" Kai tersenyum simpul. Kecurangan Hendra sudah terendus sejak awal.


Alan sering melapor soal kedekatan antara Jessica dengan supirnya. Awalnya Kai tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia tidak ingin tahu soal Hendra yang di anggapnya tidak penting. Tapi setelah keteledoran Alan, membuat perhatiannya sedikit tertuju pada Hendra dan keluarganya.


"Aku memang tidak mengerti masalah cinta. Tapi bukankah seharusnya dia mencoba untuk memperbaiki kulit rusak mu jika memang dia mencintai mu. Perusahaan yang ku berikan menghasilkan ratusan juta setiap harinya."


Nay terdiam lalu memalingkan wajahnya. Kenyataan tersebut baru di ketahui sekarang.


Itu memang benar.


"Hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum kecelakaan itu terjadi." Imbuh Kai berusaha menyakinkan Nay jika jalan yang di lalui benar.


"Tidak mungkin." Nay menoleh cepat.


"Alan menceritakan kedekatan Jessica dengan supirnya satu tahun lalu."


Nay menelan salivanya kasar. Kehidupan mereka memang sedikit membaik semenjak Hendra diangkat menjadi supir pribadi Bosnya walaupun waktu untuk keluarga terkikis sedikit. Nay juga tidak menyangka jika Bos Hendra berjenis kelamin perempuan.

__ADS_1


Dia berkhianat padaku? Aku tidak menyangka kalau Mas Hendra menutupi kebohongannya dengan sempurna.


Perasaan Nay kian terasa aneh. Semua lelaki yang masuk di hidupnya seakan mengecewakannya secara serentak.


"Sialan!!" Umpatnya memutar tubuh dan berjalan ke arah kamar mandi.


"Dia memang sialan." Sahut Kai.


"Kau juga sialan!!" Raut wajah Kai seketika berubah apalagi setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup kasar.


Braaaakkkkk!!!


"Bagaimana mungkin dia masih tidak patuh padaku." Eluh Kai duduk lemah di sofa. Untuk pertama kali ada seseorang yang berani mengumpatnya namun di biarkan tanpa di tindak tegas.


Tangannya meraih laptop lalu mencari artikel soal menjadi lelaki sejati idaman wanita. Sejak bertemu dengan Nay dia mempelajarinya namun belum berani mempraktekkan. Bukan hanya malu, tapi Kai merasa jika itu menjijikan dan jauh dari kebiasaannya berkata kasar juga tegas.


"Sayang. Honey. Baby. Ah.. Aneh sekali mulutku mengucapkannya." Ucapnya seraya menddesah lembut. Pelajaran mengambil hati wanita lebih sulit dari yang di bayangkan." Bagaimana caranya mengawali pembicaraan itu. Entah yang ku rasakan cinta atau sugesti. Tapi aku kehilangan rasa dengan wanita lain." Imbuhnya lirih. Menutup laptop lalu menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata.



Tidak terasa Kai benar-benar terlelap sampai-sampai dia tidak menyadari ketika Nay keluar dari kamar mandi.


Nay sendiri hanya melirik lalu duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dari pantulan cermin sosok Kai masih terlihat sehingga sesekali pandangannya beralih ke sana. Karena kurang hati-hati, Nay menyenggol botol parfum sampai terjatuh.


Pyaaaaaaarrrrrrrrrrrr..


"Apa yang jatuh?" Tanya Kai beranjak dari tempat duduknya. Tidur yang terganggu membuat kepalanya sedikit pusing.


"Botol parfum." Dengan sangat hati-hati Nay memungut serpihan kaca.


"Jangan gunakan tangan." Kai menarik lengan Nay kasar dan memaksanya berdiri.


"Kasar sekali! Lepaskan." Gerakan menyingkirkan yang Nay tunjukkan tidak kalah kasar. Sampai-sampai Kai mendengus sambil meliriknya malas.


"Tanganmu bisa terluka."


"Hatiku lebih terluka."


Tanpa fikir panjang, Kai meraih gagang telepon untuk menyuruh pembantu membersihkan kekacauan. Setelah menelfon, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Bagaimana niat mu? Apa kau masih ingin bertemu Erik?" Tanya Kai menawarkan.


"Hm ya. Ayo."


Nay sedikit melupakan hal tersebut padahal Ibu Erik memang tengah menunggu kedatangan anaknya di rumah. Cepat-cepat Nay mengekor masuk keluar kamar dan menuruni anak tangga. Terlihat Erik sudah berada di ruang tamu dengan tubuh sudah bersih dari noda darah.

__ADS_1


"Terimakasih pertolongannya." Ucap Erik lirih. Kedua tangannya masih terikat ke belakang punggung.


"Hm sama-sama Kak." Jawab Nay ramah.


"Sebenarnya Nona siapa?"


"Astaga. Kak Erik lupa dengan ku?" Kai merasa tidak rela melihat adegan sok kenal di hadapannya.


"Hm ya."


"Aku Naysila Varastika." Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Erik mengingat nama tersebut.


"Tidak mungkin jika kamu Sisil." Ucap Erik lirih. Wajah Nay berubah hampir tidak di kenali.


"Aku memang Sisil tapi aku lebih suka di panggil Nay."


"Wajahmu berubah." Nay tersenyum simpul.


"Iya. Kenapa dia masih di ikat?" Menunjuk ke arah Erik seraya menoleh ke arah Kai.


"Tidak di bunuh bukan berarti di lepaskan!" Seketika kepala Erik tertunduk. Sejak tadi dia meminta untuk pulang namun tidak di perbolehkan.


"Kalau tidak di lepas, bagaimana nasib Ibunya."


"Itu bukan urusanku. Sekarang kau sudah lihat dia baik-baik saja dan berarti tugasku selesai." Jawab Kai ketus.


"Belum selesai. Kasihan Ibunya."


"Permintaan hanya bisa ku kabulkan satu kali saja." Tentu saja Kai menolak sebab Erik berniat di jadikan tawanan.


"Sama saja berbohong!" Nay berdiri seraya menatap ke arah Erik." Di mana alamat rumahmu Kak. Aku akan memeriksa keadaan Ibumu. Percuma meminta! Monster itu tidak akan mengabulkan." Imbuhnya cukup lantang sampai-sampai suara Nay menggema di ruangan.


"Kau fikir bisa pergi dari sini?"


"Tentu bisa." Para ajudan Kai hanya mampu tertunduk. Ini juga kali pertama bagi mereka melihat ada seseorang yang berani melawan titah Tuannya." Di mana alamatnya?" Tanyanya lagi.


"Jalan melati nomer 23. Ada di gang sempit. Terlalu sulit menemukannya."


"Akan ku cari." Ketika Nay hendak melangkah, teriakan dan tarikan tangan Kai mencegah.


"Jangan melampaui batas!!! Masuk!!" Pintanya kasar.


"Tidak!!" Nay menarik lengannya kasar lalu menunjuk ke wajah Kai yang tengah memasang ekspresi kesal." Aku menyesal sudah menolong mu dulu. Kalau aku tahu kau lebih buruk dari geng badung itu.. Akan lebih baik kau kubiarkan di siksa oleh mereka." Kai terpaku dengan mata melebar. Sesaat tubuhnya mematung, menatap Nay yang berjalan melenggang keluar.


Monster? Menyesal?

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2