
Satu bulan kemudian..
Korea
Enam hari yang lalu, Nay di nyatakan sembuh. Operasi pergantian kulit berjalan sangat baik seakan-akan Tuhan mengizinkannya. Respon pada tubuh Nay begitu bagus sehingga kulit buatan itu menempel sempurna.
Sebelumnya dokter sudah menjelaskan jika operasi ini masih dalam proses uji coba. Namun Nay tidak perduli itu dan tetap melanjutkan niatnya untuk memperbaiki kulit terbakarnya.
Hidup dengan wajah ini sama halnya seperti mati.
Nay tidak perduli jika nantinya nyawanya terenggut paska operasi. Dia meniatkan semua hanya untuk bisa memperbaiki hubungan pernikahan.
Mungkin hal tersebut yang membuat operasi berjalan lancar. Regenerasi sel kulit merespon dengan baik dan membuat penyembuhan Nay terhitung cepat.
Setelah mengemas semua barang-barang, Nay berjalan keluar kamar untuk menemui beberapa orang suruhan Kai. Wajah melongok yang di perlihatkan kedua lelaki di balik pintu, menandakan jika kini Nay kembali cantik bahkan lebih cantik.
"Satu jam lagi pesawat lepas landas Nona."
"Hm. Aku juga ingin segera pulang." Nay berjalan melewati keduanya menuju lift apartemen. Meski kagum, kedua lelaki itu terlihat tertunduk sebab mereka tahu jika wanita yang mereka jemput merupakan calon Istri Tuannya.
Hanya butuh satu tahun lagi. Setelah aku berhasil mengandung lalu melahirkan. Aku bisa kembali pada Mas Hendra..
Nay tersenyum cantik. Wajahnya lebih dari kata sempurna. Padahal dirinya meminta untuk tidak merubahnya terlalu banyak. Namun rupanya dokter spesialis itu memberikan perawatan terbaik. Apalagi dengan senang hati Nay mau di jadikan model untuk promosi inovasi terbaru dari dunia kecantikan.
Sementara Kai sendiri tengah memaki-maki Alan akibat ketidakmampuannya menemukan Sisil, cinta pertamanya. Dia berharap wanita idamannya itu segera di temukan sehingga dia tidak harus menikah dengan Nay.
Alan sendiri di buat bingung setengah mati sebab Kai tidak mempunyai banyak pengetahuan soal sosok Sisil. Bagaimana mungkin Alan bisa menemukan jika Kai hanya mengetahui nama dan sebuah tanda lahir saja.
"Cegah mereka untuk tidak banyak makan agar otaknya tidak terlalu tumpul!!" Tidak ada yang bisa Alan lakukan kecuali menundukkan pandangannya. Dia sudah kehilangan cara merajuk Kai untuk mengakhiri pencarian Sisil." Pukul berapa wanita itu tiba di sini?" Tanyanya seraya duduk. Nafasnya berhembus kasar, menahan amarah yang bergejolak di hati.
"Besok pagi Nona sudah tiba di Indonesia."
"Persiapkan semuanya. Undang relasi penting saja untuk menjadi saksi sebab pernikahan itu hanya sementara."
"Baik Tuan."
Alan berjalan keluar ruangan meninggalkan Kai yang tengah di rundung kegelisahan. Penantiannya selama ini terasa sia-sia. Di umurnya yang sudah menginjak 35 tahun, cinta pertamanya belum juga di temukan.
"Aku sudah memberikan sketsa wajah. Kenapa anak buahku tollol sekali!!" Umpat Kai lagi dan lagi.
Padahal Kai merasa yakin, jika Sisil adalah jodoh untuknya. Karena dengan hanya memikirkannya, sosok Sisil sanggup membuat Kai gelisah setengah mati.
"Apa dia sudah meninggal dunia? Atau ke luar kota? Ah.. Sial!! Aku tidak akan menikah kecuali dengannya. Setelah mendapatkan anak dari wanita itu. Aku sudah tidak harus memikirkan soal keturunan!! Bertemu atau tidak, aku tetap akan mencintai Sisil saja."
__ADS_1
Terdengar sangat gila ketika melihat ketidakpastian yang di anggap takdir. Namun hati Kai begitu yakin jika pertolongan yang di berikan Sosok Sisil bukan hanya kebetulan. Dirinya yakin jika itu semua adalah takdir yang menandakan jika Sisil adalah jodohnya.
🌹🌹🌹
Hendra tersenyum seraya duduk di kursi kebesarannya. Hidupnya berubah 90 derajat semenjak menikah dengan Jessica meski sembunyi-sembunyi.
Alasan Jessy menyembunyikan pernikahan Hendra abaikan, sebab sebenarnya dia sudah bosan hidup susah. Selama 8 tahun mengarungi biduk rumah tangga bersama Nay. Peruntungannya hanya terhenti pada perkerjaan scurity.
Sebelumnya Hendra berkerja sebagai buruh dengan upah minimun. Namun seorang teman menawarkan perkerjaan scurity meski dirinya harus melewati sebuah pelatihan selama satu bulan. Dia cukup bersyukur kala itu karena meski seorang scurity Istrinya sangatlah cantik.
Semenjak Jessy mengangkatnya menjadi supir pribadi. Perlahan rasa cinta Hendra meluntur. Keadaan Nay membuatnya semakin tenggelam dalam gemerlap dunia hingga dia memutuskan untuk menyerah.
"Beda Istri, beda rejeki." Gumam Hendra tertawa kecil. Dia sudah benar-benar melupakan sosok Nay yang dulunya menjadi satu-satunya wanita di hatinya.
Cklek..
Jessy keluar dari balik pintu dan duduk tepat di hadapan Hendra.
"Elang sudah menunggu di Cafe seberang jalan."
Hari ini Jessica mengajak Hendra untuk melancarkan rencananya. Dia berharap Hendra lebih pintar darinya agar Xu grup segera bisa di kuasai.
"Kamu tahu aku tidak seberapa paham soal bisnis."
"Apa kamu yakin aku bisa melakukan itu?"
"Aku yakin sayang. Elang adalah Bos yang sesungguhnya. Dia menolong ku ketika aku terpuruk."
Selayaknya Nay, Jessica dulunya seorang janda miskin tanpa anak. Dia berkerja di tempat pellacuran dan Elang memungutnya lalu memanfaatkan keterpurukan nya.
Jessy tidak memahami jika seseorang yang di sebut Elang sebagai musuhnya adalah ketua Mafia berdarah dingin. Sengaja Elang memanfaatkan Jessy untuk menyembunyikan identitas miliknya. Dia tidak ingin tertangkap Kai sebelum Xu grup berhasil di kuasai.
"Aku percaya padamu."
"Hm Ayo. Ingat sayang. Ini rahasia. Kamu tidak boleh bercerita pada siapapun termasuk, Han."
Han merupakan orang kepercayaan Kai yang khusus di tugasnya mengurus beberapa perusahaannya. Dia di wajibkan berkerja selayaknya robot, mengikuti segala perintah yang di lontarkan Kai melalui Alan.
"Aku masih ingat peringatan itu."
Hendra beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar tanpa tahu seluk beluk tentang Elang, musuh bebuyutan Kai yang berusaha merebut kekuasaan. Kekuatan yang tidak seimbang membuat Elang terpaksa memanfaatkan orang sekitarnya untuk di jadikan tumbal.
Setibanya di Cafe, Hendra dan Jessica masuk walaupun tulisan closed terpasang di pintu.
__ADS_1
Hendra menatap sekitar yang sepi sebab Cafe tersebut memang di sewa untuk pertemuan mereka.
Di ujung ruangan, terlihat beberapa orang berdiri di sekitar seorang lelaki berjas hitam. Wajahnya tertutup masker sehingga Hendra tidak bisa melihat parasnya.
Clap!!
Lampu tiba-tiba padam ketika Hendra akan mencapai meja. Terlihat Elang melepaskan masker yang di kenakan sehingga wajahnya tersamarkan.
Hendra duduk di ikuti oleh Jessica, dia sempat menoleh sejenak namun Jessica mengisyaratkan untuk berbicara sesuai aturan.
"Sudah tahu tujuanku memanggil mu?" Hendra mengangguk, sedikit melirik ke Elang yang berumur tidak jauh darinya.
"Iya Tuan. Em tapi saya tidak seberapa paham dunia bisnis."
"Kau cukup belajar tentang strategi dan akting. Masalah lainnya biar anak buahku yang urus."
"Lalu, apa tugas saya."
"Cari tahu di mana letak berkas Xu grup, hanya itu."
Perintah yang terdengar sederhana namun sangat sulit. Sudah hampir empat tahun Elang mengincar berkas tersebut tapi tidak ada seorangpun yang berhasil membawakannya.
"Saya harus memulai semua dari mana?"
"Bersikaplah lugu tapi berprestasi. Aku yakin Han akan merekrut perusahaan mu untuk berkerja sama."
"Bagaimana bisa berprestasi, saya hanya mantan satpam." Elang mengisyaratkan anak buahnya untuk meletakkan sebuah map hijau.
"Pelajari itu." Jessy menghela nafas panjang. Map itu juga pernah berada di tangannya namun dia gagal menjalankan misi.
"Baik Tuan."
"Hm pergilah." Setelah tersenyum sejenak Jessy dan Hendra pergi.
"Tetap awasi wanita itu. Aku takut dia mencari perlindungan pada Kai. Kalau dia berbuat macam-macam, lakukan seperti biasa."
Tanpa Hendra sadari, Jessy memanfaatkan dirinya agar terlepas dari kematian. Elang sempat akan membunuhnya namun karena Hendra, dirinya bisa bernafas lega dan terlepas dari ancaman Elang.
🌹🌹🌹
Minta dukungannya teman-teman..
__ADS_1
Terimakasih 🥰