
Tatapan Nay kini tertuju pada Hendra yang tersenyum simpul ke arahnya. Cepat-cepat dia berpaling lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kai.
"Tuan tahu di sini ada.."
"Aku tahu." Jawab Kai pelan, hampir tak terdengar. Nay menjauhkan bibirnya sambil tersenyum canggung." Dia Naysila, panggil saja Nay. Dia sekertaris saya." Imbuh Kai menjelaskan. Untuk apa di tutupi lagi. Aku tidak ingin lelaki itu merebut Sisil dariku.
"Oh astaga nama yang indah. Em setelah ini bisakah kita makan siang bersama, sekalian ajak Nona Nay juga." Kai tersenyum simpul. Sudah terbaca kebusukan relasinya yang ingin menjadikan Nay sebagai bahan pelancar bisnis.
Sangat banyak para investor juga relasi yang memiliki sifat hidung belang. Itu kenapa Han malas memiliki sekertaris wanita untuk menghindari hal-hal memuakkan seperti sekarang.
Terkadang mereka juga berusaha memancing dan menggoda untuk memuluskan bisnis mengunakan wanita. Tapi Kai sudah memberikan titah untuk menolak kerjasama jika relasinya melakukan itu.
Sudah bisa di tebak, jika para lelaki yang menatap Nay nakal adalah orang-orang baru yang belum tahu seluk beluk tentang peraturan tambahan di Xu grup.
"Hm begitu." Kai mengambil surat perjanjian kontrak lalu merobeknya. Para relasi tercengang dengan wajah kebingungan.
"Ke kenapa Pak Kai..." Tanyanya terbata.
"Kerja sama kita batal. Apa kurang cukup adegan ini." Dengan kasar Kai membuang sobekan kertas ke wajah salah satunya.
"Tidak bisa begitu Pak. Di surat perjanjian sudah tertulis jika salah satu dari kita membatalkan, maka harus membayar denda sejumlah uang yang tertera." Tegasnya sambil memperlihatkan salinan.
"Proyek bahkan belum berjalan. Kau mau menipu ku!" Tunjuk Kai kasar. Kemarahannya semata-mata ingin menjaga harkat dan martabat Nay sebagai Istrinya juga wanita yang di cintai.
"Perjanjian tetaplah perjanjian. Saya baru tahu jika Pak Kai orang yang tidak konsisten."
"Ya terserah. Tuntut aku jika kau merasa benar." Jawab Kai menantang.
Beberapa lelaki saling melihat, mereka tidak memiliki bukti untuk menuntut namun mereka tidak ingin kerja sama gagal.
"Kenapa anda tiba-tiba membatalkan kontrak kerja kita Pak? Kami ingin alasan yang jelas."
"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin." Jawab Kai santai. Belum ingin mengakui Nay di depan publik untuk mengikis hal-hal yang tidak di inginkan.
"Sebaiknya kalian keluar dari ruangan. Keputusan Pak Kai tidak bisa di ganggu gugat." Sahut Jessica melontarkan pembelaan dengan harapan Kai semakin mempercayainya.
Segera saja beberapa lelaki membereskan berkas sambil memasang wajah masam. Beberapa dari mereka melontarkan umpatan bahkan menutup pintu ruangan dengan sedikit membantingnya.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba Tuan?" Tanya Nay seraya membereskan berkas. Dia masih berusaha acuh pada Hendra seakan lelaki itu tidak ada di sana.
Nay memanggil Kai dengan sebutan Tuan. Itu berarti tebakan Tuan Elang salah. Aku yakin mereka tidak punya hubungan. Bukankah Jessy bilang jika Kai tidak normal?
"Mereka menatap mu jadi ku batalkan."
Dugaan yang bersarang di hati Hendra seketika runtuh. Apalagi Kai bukan tipe lelaki yang pintar membual sehingga apa yang di katakan adalah apa yang di rasakan.
Kenapa lagi lelaki ini? Apa dia berusaha merayu ku di depan mantan Suami ku?
"Setelah ini kita mengunjungi proyek baru yang ada kota X bersama Pak Hendra dan Bu Jessica." Menunjuk ke arah Hendra dan Jessica namun tidak berani menatap.
"Kenapa tidak merespon ucapan ku tadi?" Nay tersenyum simpul.
"Ucapan yang mana?"
"Membatalkan proyek hanya karena mereka menatap mu." Nay tersenyum aneh.
"Itu berlebihan. Tapi terimakasih." Jawabnya pelan.
"Mereka merendahkan mu. Itu hal yang memang harus di lakukan."
"Saya tidak mengerti." Ucap Nay lirih. Belum paham arti dari pembicaraan para relasi.
"Mungkin dia masih terlalu lugu." Jawab Hendra membuat tatapan Kai kini beralih padanya.
"Sangat lugu. Itu kenapa aku harus melindungi dia dari lelaki semacam mereka. Bukankah itu tugas seorang Suami." Ujarnya tersenyum simpul.
Seketika wajah Hendra pucat pasi, mendengar kenyataan jika kini Nay sudah menikah dengan Kai, target misinya juga pemilik perusahaan terbesar se-Asia.
"Tidak mungkin." Tanpa sadar Hendra melontarkan kalimat tersebut.
"Apa yang tidak mungkin?" Tanya Kai cepat.
"Kenapa Tuan melanggar aturannya?" Protes Nay ingin tahu tujuan Kai mengakuinya sebagai Istri.
"Apa kamu ingin kembali padanya." Menunjuk ke arah Hendra.
__ADS_1
"Bukan begitu. Saya hanya ingin melakukan sesuai dengan surat perjanjian." Kai menghembuskan nafas berat. Pembahasan itu membuatnya sedikit kesal.
"Aku tidak ingin membicarakannya. Surat itu sudah ku musnahkan."
"Selamat ya. Ternyata kamu sudah menikah. Aku tidak menyangka." Nay menatap tajam ke arah Hendra. Dia begitu muak dengan wajah itu.
"Aku juga tidak menyangka kita di pertemukan dengan cara ini." Nay kembali ingat ketika dirinya bersujud di kaki Hendra untuk memintanya tetap tinggal.
"Kamu sudah mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku." Hendra berdiri lalu mengulurkan tangannya namun Nay tidak menyambutnya.
"Aku terpaksa berada di posisi ini." Jawab Nay lirih. Kai hanya diam seakan ingin memberikan Nay waktu untuk berbicara." Tuan Kai sudah membantu memperbaiki wajahku." Jessica melirik malas. Dia tidak menyangka jika sosok sempurna di hadapannya adalah mantan Istri Hendra yang buruk rupa." Tujuannya, agar hubungan kita bisa kembali baik. Tapi.. Pemandangan di hadapan ku sudah lebih dari cukup untuk membuka mataku lebar. Aku baru tahu, jika cinta mu sangat mudah di tukar dengan harta dan jabatan." Hendra menghela nafas panjang. Menyadari kesalahannya namun dia terlanjur masuk terlalu dalam kesenangan sesaat duniawi.
"Kamu tahu keadaan mu seperti apa dulu. Aku juga terpaksa.."
"Kau menikmatinya!!" Tunjuk Nay kasar." Syukurlah jika sekarang kau bahagia atas hidupmu." Imbuh Nay lirih setelah beberapa saat diam.
"Kita sudah memilih jalan masing-masing." Semoga saja Nay mau berteman dengan ku agar Tuan Elang bisa menculiknya..
"Bukan kita tapi kau." Jawabnya menyangkal.
"Aku ingin kita lupakan masa lalu. Em sekarang kita bisa menjalin hubungan sebagai teman." Hendra kembali mengulurkan tangannya.
"Tidak. Terimakasih." Jawab Nay menolak.
"Kamu masih cemburu padanya." Tanya Jessica meledek." Lelaki memang tidak pernah bisa setia dengan satu wanita." Imbuhnya seraya tersenyum simpul.
"Bukan cemburu. Tapi... Aku memilih mati daripada berteman dengan nya." Nay membalas ledekan Jessica dengan senyuman mengembang." Memang dulu aku berharap ingin kembali. Tapi ku fikir wajah ini terlalu sempurna untuk pengusaha amatir seperti dia." Kai tersenyum simpul. Dia merasa ikut bangga saat Nay bisa mengimbangi pembicaraan Jessica.
"Itu bukan kecantikan alami Nona. Beruntung Tuan Kai mau menikahi mu meski hanya pernikahan kontrak." Jessica tersulut emosi. Dia tidak sedang cemburu pada Hendra melainkan Kai.
Selama bertahun-tahun dia mencoba mendekati Kai namun harus menelan pil pahit, sementara Nay dengan mudah membuat Kai menikahinya.
"Yang terpenting itu hasil akhirnya. Di rahimnya ada calon anakku." Kai mengusap perut rata Nay." Buruk pada wajah bisa di perbaiki tapi buruk pada hati akan sulit di perbaiki. Ku rasa sudah cukup membahas masa lalu. Setelah makan siang kita bertemu di lokasi proyek baru." Kai berdiri begitupun Nay. Keduanya berjalan keluar meninggalkan Jessy dan Hendra tanpa berpamitan.
"Bodoh sekali Kai!! Masih banyak wanita yang lebih baik daripada wajah plastik itu!!" Umpat Jessy lirih.
"Tapi Nay memang wanita yang baik." Bukan bermaksud membela. Namun Hendra tahu seluk beluk tentang sifat Nay sejak lama. Wanita yang senantiasa membuat suasana rumah menjadi hangat dengan masakan juga sikapnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹