
Alan bergegas membius kedua anak buah Elang lalu menyeretnya masuk ke salah satu mobil. Tanpa arahan, Alan mengerti jika Kai menginginkan sebuah eksekusi tanpa jejak.
Ketika Kai melakukan panggilan ke kontak bernama Bos. Nomer tidak dapat di hubungi sebab ponsel Elang sudah berubah menjadi serpihan kecil.
"Sialan!!! Dasar pengecut!! Lihat saja! Kau akan menyesal sudah mempermainkan ku!"
Kini tatapan Kai beralih pada Nay. Meski mimik wajahnya tidak memperlihatkan rasa iba. Namun hati Kai merasa tidak terima dengan apa yang di perbuat, jika seandainya Nay merupakan Sisil yang selama ini dia cari.
"Bakar mereka hidup-hidup. Rekam dan kirim pada semua kontak yang ada di sana." Pinta Kai menyerahkan ponsel pada Alan. Dia mengangkat tubuh Nay dan membawanya pergi masuk mobil.
Sementara Kai pulang ke rumah, mobil Alan justru berbelok ke lain arah. Dia menuju ke lokasi yang biasa di gunakan untuk membantai orang tidak penting seperti ketiga anak buah Elang.
"Lihat. Apa Tuan kalian datang menolong." Gumam Alan tersenyum simpul. Dia merasa beruntung memiliki Tuan sebaik Kai. Meski cenderung kejam, tapi Kai selalu melindungi orang yang sudah mengabdikan hidup padanya.
Setibanya di lokasi. Dengan di bantu tiga orang, Alan menyeret tubuh mereka lalu membuangnya di lubang yang tersedia. Sengaja dia duduk sambil menikmati minuman ringan dan menunggu ketiganya sadar.
"Kalau Nona bukan target yang di cari bagaimana Bos?" Ujar salah satunya. Dia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya.
"Setidaknya di selidiki dulu. Aku merasa Tuan Kai tertarik pada Nona. Bukankah kalian tahu jika itu Tuan tidak gampang tertarik." Ketiga anak buahnya mengangguk-angguk. Mereka paham Kai sedingin apa orangnya.
.
.
.
Setengah jam kemudian, salah satu dari korban tersadar. Dia menatap sekitar sambil menyumpal hidungnya karena bau tidak sedap akibat terlalu banyak nyawa yang di eksekusi di tempat tersebut. Kepalanya mendongak ke atas, memperhatikan Alan dan yang lain.
"Itu neraka. Cepat bangunkan temanmu." Teriak Alan seraya terkekeh.
"Tolong keluarkan saya dari sini. Saya berjanji akan memihak kalian."
"Hahaha tidak bisa. Sekali musuh tepat musuh." Salah satu dari anak buah Alan merekam kegiatan sementara dua lainnya mengambil bensin yang tersimpan di gudang.
"Tolong. Jangan bunuh kami."
Tanpa rasa belas kasihan, ketiganya di guyur dengan bensin sampai-sampai semuanya tersadar dari pingsannya.
"Jangan Tuan tolong kami." Ucapnya memohon.
"Aku sudah tidak lama mencium aroma daging bakar manusia."
Alan menyalahkan pemantik rokok lalu menjatuhkannya sehingga api langsung menyulut tubuh ketiganya. Sambil tersenyum tipis, Alan menikmati setiap erangan dan rintihan menyayat hati dengan ketiga anak buahnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Kai menghela nafas panjang ketika dia memeriksa luka pada kaki Nay. Meski begitu, dia memanggil Dokter kepercayaannya untuk memberikan perawatan lanjutan.
"Dia baik-baik saja Tuan. Janinnya juga. Beruntung karena rahim Nona sangat bagus dan menjadi pelindung agar obat biusnya tidak melukai janin." Ujarnya menjelaskan seraya mencatatkan sebuah resep." Maaf. Saya terburu-buru dan tidak membawa obat. Ini bisa di tebus agar nantinya Nona tidak kesakitan." Imbuhnya meletakkan secarik kertas di meja.
"Hm terimakasih."
"Sama-sama Tuan. Saya permisi."
Setelah Dokter berjalan pergi, Kai menyuruh anak buahnya menebus obat sebelum Nay sadar. Tapi saat dia kembali, Nay terlihat sudah duduk di tepian ranjang dan berusaha berdiri.
"Aku tidak paham apa mau mu? Kau mengusir ku lalu kembali membawaku ke sini dan menghadiahkan tembakan pada kaki ku!" Nay berdiri tegak tanpa perduli pada nyeri di kakinya. Hatinya lebih terluka daripada sakit yang di derita.
"Aku menyelamatkan mu." Jawab Kai dengan nada meninggi. Dia masih saja terbawa arus kesal pada sosok di hadapannya.
"Menyelamatkan? Benarkah? Lalu ini apa!!" Menunjuk ke arah kakinya.
"Bukan aku yang melakukannya."
"Omong kosong. Kau mulai menyebalkan lagi. Bagaimana mungkin makhluk robot seperti mu tercipta." Kai menghela nafas panjang. Nay benar-benar membuat julukannya sebagai ketua Mafia tidaklah berarti.
"Duduk. Ada beberapa hal yang perlu ku tanyakan. Dan lagi? Apa kaki mu tidak sakit?"
"Aku mau pergi. Biarkan aku hidup tenang. Aku ingin keluar kota dan memulai hidup baru dengan anakku." Mengusap perutnya yang rata.
"Kau bahkan menyuruhku membunuhnya. Kau tidak punya rasa malu mengakuinya."
"Tapi kau berjanji memberikannya padaku setelah dia lahir."
"Aku berbohong. Mana mungkin begitu."
Emosi Kai semakin terkoyak. Dia berusaha menekannya agar situasi tidak semakin runyam. Apalagi Nay bukan tipe wanita lemah sehingga apapun pembelaan yang di katakan Kai selalu bisa di patahkan.
"Duduk. Percuma kau melawan."
"Apa yang kau inginkan?"
"Ada beberapa hal yang perlu ku tanyakan."
"Hm katakan lalu biarkan aku pergi." Terpaksa Nay duduk di tepian ranjang sementara Kai duduk di sofa.
"Kau alumni Pelita Internasional?" Tanya Kai mulai memasang wajah serius. Jantungnya berpacu cepat seakan takut pada Jawaban yang akan di terima.
"Untuk apa?"
"Jawab saja."
__ADS_1
"Hanya sampai SMP kelas dua. Aku pindah dari sana karena kasihan pada keluarga ku. Biaya sekolah di sana sangat mahal." Kai menghela nafas lembut dengan jantung semakin berdetak tidak beraturan.
"Kau punya tanda lahir di sini." Mengangkat tangan kanannya.
"Apa maksud dari pertanyaan mu? Apa kau salah satu fans fanatik ku?"
Paras cantik Naysila membuatnya menjadi siswi populer walaupun dirinya hanya bertahan selama dua tahun. Bukan hanya siswa SMP yang mengidolakan tapi para siswa SMA yang memang letak sekolahnya menjadi satu.
"Cerewet sekali. Kau tinggal jawab." Ujar Kai ketus.
"Hm." Nay melihat tanda lahirnya yang sudah tidak lagi ada." Dia menghilang karena kecelakaan itu." Imbuhnya pelan.
"Nama asli mu Sisil?" Nay menegakkan kepalanya.
"Kau benar-benar fans ku?"
"Astaga. Jawab dulu?" Kai sangat tidak sabar menunggu jawaban.
"Aku membenci panggilan itu."
"Berarti iya?"
"Hm."
Nafas Kai berhembus berat. Bibirnya tersungging seakan merasakan kepuasan setelah beberapa tahun memutuskan sendiri. Pencariannya membuahkan hasil meski dalam ketidaksengajaan.
Aku tidak mengingkari janji. Aku sudah menemukan mu dan kita menikah.
"Gila." Umpat Nay kembali berdiri. Kai tersadar dari lamunannya lalu berjalan menghampiri Nay untuk menghalau langkahnya.
"Kita masih syah Suami Istri. Sebaiknya kamu beristirahat." Nay sedikit mendongak ketika suara halus Kai terucap. Matanya memicing, memperhatikan wajah canggung Kai.
"Apa yang terjadi dengan mu Tuan." Tanya Nay malah merasa aneh sebab selama ini Kai hobi berteriak padanya.
"Sudahlah. Ikuti aturannya. Aku menyuruh anak buah ku membeli obat agar rasa nyeri di kaki mu berkurang." Ini sinyal yang di hasilkan dari Sisil? Aku tidak sedang sakit jantung. Sebaiknya aku menyiapkan hati agar bisa bersikap tenang. Kalau ku katakan sekarang, aku takut dia menertawakan ku.
"Aku baik-baik saja. Biarkan aku pergi."
"Kamu Istriku. Beristirahat lah."
Dengan gerakan kaku, Kai berjalan keluar kamar dan tidak lupa menguncinya. Otomatis Nay hanya bisa pasrah sebab kunci pintu memakai kata sandi.
"Aaaaaghhhh sakit sekali." Eluh Nay kembali duduk. Dia berusaha tidak mengeluh agar Kai tidak menganggapnya lemah.
🌹🌹🌹
__ADS_1