
Dengan pengawalan ketat, Erik di antar pergi ke rumahnya untuk mengambil buku harian dan surat wasiat. Alan memperkirakan jika kegiatannya saat ini di pantau anak buah Elang yang pintar menyamar.
Setelah berhasil mendapatkan barang yang di cari. Keduanya kembali ke rumah untuk memberikan bukti pada Kai yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
Membutuhkan waktu setengah jam untuk membaca buku harian serta surat wasiat. Kai menebak jika ada sesuatu yang spesial hingga Elang begitu menginginkan Erik sampai harus menutup semua akses ke perusahaan.
"Kau tahu kenyataannya?" Kai meletakkan buku harian dan surat di atas meja.
"Apa Tuan?"
"Elang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Dia sering mengunakan namaku dengan berpura-pura menjadi saudaraku."
Tanpa rasa malu Elang kerapkali mengunakan nama Kai sebagai alat pelancar niatnya. Tapi tetap saja dia sulit di temukan karena penampilannya selalu bergonta-ganti.
"Saya sudah melamar ke beberapa perusahaan tapi di tolak. Mereka bilang saya masuk buku hitam."
Kai menghela nafas panjang. Perkataan Erik semakin membuatnya geram dan ingin segera menemukan keberadaannya.
"Beri surat perjanjian untuknya." Segera saja Alan meletakkan selembar kertas berserta bulpen." Pelajari yang ada di dalam. Kalau kau setuju silahkan tanda tangan." Imbuhnya menjelaskan.
Erik mengambil surat perjanjian lalu membacanya. Syarat yang di berikan Kai hanya sedikit namun mengikat. Tapi fasilitas yang di berikan membuat Erik tidak terlalu lama berfikir dan langsung membubuhkan tanda tangan.
"Sudah kau pahami isinya?" Tanya Kai memastikan.
"Saya sudah sangat berterimakasih atas perawatan yang Tuan berikan pada Ibu saya. Kesembuhannya adalah prioritas utama bagi saya." Kai mengangguk-angguk seraya tersenyum simpul.
"Hm selamat bergabung." Kai mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Erik." Aku tidak bisa langsung percaya padamu. Tunjukkan padaku skill mu agar aku bisa menilai kau layak atau tidak. Untuk tiga bulan ke depan, kau wajib lapor apapun yang terjadi di perusahaan dari hal kecil sampai besar. Jangan ada yang terlewat sebab aku menyukai kesempurnaan." Kai menyodorkan sebuah laptop ke arah Erik." Pelajari semuanya di sini." Imbuhnya kembali bersandar.
Erik membuka laptop yang tidak terkunci. Dia menjelajahi beberapa berkas yang tersimpan dan membacanya sekilas.
"Bagaimana dengan keselamatan saya? Mungkin saja Elang masih menaruh dendam pada saya."
"Kau akan di awasi selama 24 jam. Tapi meski begitu, kau harus bisa mengunakan senjata untuk berjaga-jaga." Erik mengangguk patuh. Baginya perkerjaan yang di berikan Kai tidak terlalu sulit meski dia tahu bagaimana besarnya perusahaan yang akan di kelola nanti.
.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya. Nay terjaga dan selalu tidak melihat Kai di kamar meski dia bangun pagi buta sekalipun. Semalam bahkan dirinya tidak tahu pukul berapa Kai kembali ke kamar.
Padahal semalam aku ingin mengajaknya tidur satu ranjang..
Nay menurunkan kakinya dan melirik ke selimut tebal yang sudah terlipat rapi. Walaupun perasaan cinta belum terbentuk tapi Nay berniat mengajari Kai untuk membangun sebuah hubungan.
"Masih setengah enam. Kemana dia?"
Nay beranjak lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia berjalan keluar dan langsung menuju dapur.
Sudah ada bahan makanan yang tergeletak di meja. Itu berarti Kai ingin di masakan sesuai bahan yang ada. Nay sempat mengintip halaman yang hanya ada beberapa penjaga. Dia menebak jika mungkin Kai sedang berada di markas atau punya urusan lain.
Sebaiknya aku memasak agar nanti dia bisa langsung sarapan..
Sementara Kai sendiri sedang berada di sebuah tempat yang di langsir sebagai kediaman Elang. Dia sengaja datang pagi buta untuk mengintai tempat tersebut agar bisa menyergap Elang kalau mungkin ada.
Sudah satu jam berlalu, tidak ada pergerakan apapun membuat Kai sedikit frustasi. Tapi ketika dia melihat seseorang keluar dari dalam, bibirnya tersungging menatap sosok Elang berjalan menuju mobil bersama empat anak buahnya.
Alan memberi aba-aba untuk waspada. Kai menginginkan Elang terbunuh di tangannya dengan cara berduel agar dia dapat membuktikan jika dirinya lebih kuat. Sebenarnya cara tersebut sangat beresiko namun apalah daya, Alan senantiasa menaati apapun peraturannya.
"Di sini rupanya." Sapa Kai tersenyum simpul.
"Astaga teman lama." Ujar Elang membalas sapaan.
"Kau pintar sekali bersembunyi. Kenapa tidak memenuhi undangan ku." Elang menatap sekitar. Terlihat sepi namun dirinya tahu jika anak buah Kai sudah mengepungnya.
"Aku sibuk."
"Oh sibuk?" Ujarnya tertahan." Sibuk bersembunyi seperti tikus pengecut." Kai terkekeh, menatap rendah ke arah Elang.
"Sebaiknya lain kali kita bertemu. Aku harus pergi ke beberapa urusan."
Mesin mobil terdengar sudah di nyalakan. Alan dan anak buahnya bersiap membidik untuk berjaga-jaga.
"Ingin lari lagi?"
"Aku tidak sedang lari." Baru saja satu kakinya melangkah. Kai sudah menodongkan senjata api ke arah Elang.
__ADS_1
"Ikut bersama ku atau ku lubangi kakimu." Elang terkekeh nyaring sambil menepuk-nepuk body mobilnya.
Namun seketika Kai memiringkan tubuhnya ketika sebuah timah panas melesat ke arahnya. Elang ingin menggunakan waktu tersebut untuk kabur tapi Alan berhasil membidik lengan Elang yang langsung masuk ke dalam mobil.
Peluru yang sempat menyentuh pundak membuat jas yang Kai kenakan di hiasi noda darah. Tangannya menggedor-gedor pintu mobil sambil beberapa kali melesatkan tembakan.
Dengan gerakan cepat mobil Elang menerobos pintu pagar yang belum sepenuhnya terbuka. Kai masih berusaha menembak tapi rupanya mobil sudah di lengkapi dengan ban anti peluru sehingga Elang bisa kembali kabur.
Tanpa menunggu aba-aba, salah satu mobil mengikutinya sementara Alan keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Kai.
"Sialan!!" Umpat Kai tanpa perduli pada luka di pundaknya. CCTV yang sudah di nonaktifkan membuatnya kesulitan melacak mobil tidak berplat tersebut.
"Anda terluka Tuan." Untung bagi Kai sebab peluru hanya menyerempet pundaknya yang tidak tertutupi baju anti peluru.
"Kejar dia sampai dapat!!" Pintanya seraya mendengus.
"Sudah saya suruh mereka mengikutinya."
"Hm kita kembali. Aku takut dia khawatir." Kai berjalan menuju mobilnya di ikuti oleh Alan.
"Bukankah sebaiknya kita tembak saja di tempat Tuan." Perkataan seperti sekarang kerapkali Alan lontarkan agar pemburuan Elang selesai.
"Aku tidak ingin di sebut lemah!! Aku akan membunuhnya tanpa senjata!!" Luka pada masa lalu yang teramat dalam membuat psikologi Kai terganggu. Dia menginginkan nyawa Elang dengan cara yang lebih kejam. Membunuhnya secara perlahan agar Kai bisa mendengar rintihan dan erangan kesakitan dari mulut Elang.
"Baik Tuan."
Alan mengambil ponsel dari saku jaketnya untuk menerima panggilan yang berasal dari anak buahnya.
📞📞📞
"Bagaimana bisa?
"Maaf Bos. Mobilnya masuk ke area jalan raya. Kami kesulitan untuk menyusul.
📞📞📞
Kai terdiam sebab dirinya tahu akhirnya akan seperti apa. Elang begitu lihai dalam hal melarikan diri dengan cara memanfaaatkan keadaan yang terjadi di sekitarnya.
Meski emosi terasa meluap-luap, Kai tidak ingin menyerah dan akan terus memburunya sampai keinginan tersampaikan.
__ADS_1
🌹🌹🌹