Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 20


__ADS_3

Setelah obat pereda nyeri di minum, Nay berniat membersihkan diri. Ada beberapa bercak merah pada kakinya yang harus di hilangkan.


Nay berjalan sedikit pincang, mengambil baju ganti dari lemari lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak sadar jika Kai tengah memantaunya dari CCTV sejak kebenaran soal dirinya terungkap.


Kai menutup laptop ketika pintu kamarnya di ketuk. Dia berjalan untuk membukanya. Terlihat Alan berdiri di balik pintu dengan kepala di tundukkan.


"Bagaimana?" Tanya Kai pelan. Suasana hatinya seketika berubah walaupun dia tidak yakin Nay akan menerima perasaan terpendamnya.


"Sudah saya lakukan sesuai perintah."


"Pelakunya juga?"


"Saya tidak tahu di mana tepatnya lokasi. Semua kontak yang ada di ponsel itu tersebar ke banyak tempat." Jawab Alan tegas.


Kai menghela nafas panjang. Selama ini dia membunuh banyak nyawa hanya karena ingin menemukan Elang.


"Lantas untuk apa ke sini?"


"Tuan Herman punya waktu untuk bertemu besok." Kai tersenyum simpul. Sudah lama dia menantikan waktu luang Herman, si wakil rakyat yang pintar mencuri dan melimpahkan kesalahannya pada orang lain.


"Pukul berapa?"


"11 siang Tuan."


"Sudah kamu atur semuanya. Aku ingin lelaki itu hancur agar korbannya bisa bebas."


"Sudah Tuan."


"Hm oke. Kau boleh pergi." Alan melihat wajah tak biasa yang Kai perlihatkan.


"Em maaf lancang. Bagaimana soal Nona Nay?"


Sontak wajah Kai berubah gugup di sertai rona merah pada pipinya. Detak jantung yang awalnya di anggap penyakit kini dia ketahui penyebabnya.


"Nanti ku kabari. Pergilah." Kai menutup pintunya cepat. Dia enggan memperlihatkan perasaan bahagianya pada Alan.


"Kenapa Tuan ku." Gumam Alan berjalan menuju tangga. Belum sempat dia menginjakkan kaki di anak tangga, bunyi pesan masuk terdengar dari ponselnya.


πŸ’ŒNay adalah Sisil.


Alan mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah pintu kamar Kai yang tertutup. Ini kali pertama baginya melihat sikap konyol Kai yang di tebaknya tengah merasa bahagia.


Syukurlah. Tugas berat itu sudah terselesaikan..


Alan menganggap jika perkerjaan mencari Sisil begitu berat. Akan lebih baik jika dia di suruh membantai atau melakukan kekerasan daripada mengerjakan sesuatu tanpa kejelasan. Hal itu membuatnya turut berbahagia dan bernafas lega karena Tuannya sudah menemukan orang yang di cari.

__ADS_1


Sementara Nay sendiri tengah menikmati berendam di bak mandi dengan fikiran tertuju pada Hendra. Kata-kata yang di dengar saat di restoran merubah perasaan cinta menjadi jijik.


Nay tidak pernah membayangkan jika Hendra yang di kenalnya polos bisa berkhianat bahkan melupakan namanya begitu saja.


"Tidak mungkin ada manusia sempurna. Aku memutuskan untuk mengikuti cara main mu." Nay menghembuskan nafas berat seraya mengusap tubuhnya lembut." Aku takut akan ada perpisahan lagi meskipun nantinya kita bersama." Nay tengah berbicara pada dirinya sendiri. Dia berusaha membuka mata selebar-lebarnya agar keinginan kembali pada Hendra bisa musnah. Aku berjanji tidak akan kembali lagi..


Nay ingin berjaga-jaga jika nantinya efek samping dari operasi plastik terjadi meski Dokter sudah menjamin. Di saat keterpurukan datang untuk kedua kali, mungkin saja Hendra akan melakukan hal yang sama. Meninggalkannya dan mencampakkannya.


"Sebaiknya aku bertanya pada Tuan Kai. Kenapa dia membawaku ke sini lagi." Nay beranjak lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Setelah itu, dia memakai baju dan berjalan keluar kamar mandi.


Drrrrtt... Drrrrtt... Drrrrtt..


Nay menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat ponselnya tergeletak di meja. Nay mengambil ponsel tersebut untuk menerima panggilan.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Caca.


Langsung saja Nay menyebutkan nama tersebut sebab ponselnya hanya berisi beberapa kontak saja.


"Ini nomerku.


"Hm ya.


"Kamu di mana sekarang.


"Minta alamatnya. Aku ingin berkunjung agar kita bisa mengobrol berdua.


"Tidak bisa Ca. Di sini aku hanya pesuruh. Rumah ini milik seseorang yang biasa ku panggil Tuan.


Caca mengira jika Nay berkerja menjadi seorang pembantu alias asisten rumah tangga.


"Daripada menjadi pembantu, lebih baik berkerja dengan ku.


"Aku terlanjur di kontrak.


"Oh begitu. Terus kapan kita bisa bertemu?


"Aku akan meminta izin pada Tuanku. Jika nanti di izinkan, akan ku kabari.


"Oke baik.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


Nay meletakkan ponselnya kembali bersamaan dengan terbukanya pintu kamar. Seakan tidak melihat keberadaannya, Nay mengeringkan rambut dengan hair dryer tanpa melihat ke arah Kai.

__ADS_1


"Bilang pada temanmu jika kita sudah menikah." Nay tersenyum simpul. Dia ingat jika ponsel miliknya sudah di sadap.


"Tidak. Kau Tuannya dan aku pesuruh. Pernikahan akan berakhir sesuai dengan isi surat kontrak." Kai menghembus nafas berat lalu duduk di sisi ranjang.


"Sepertinya aku berubah fikiran." Nay menoleh ke arah Kai yang juga tengah menatapnya.


"Apa maksud dengan kalimat berubah fikiran?" Setelah luka yang di torehkan Hendra, tentu Nay enggan menjatuhkan hatinya lagi.


"Itu hanya kertas yang bisa ku musnahkan."


"Hei... Kau melakukan pelanggaran dan menyukaiku." Sontak wajah Kai terasa hangat. Jantungnya berpacu cepat seiring dengan terbungkam nya mulut. Ingin segera mengakui perasaan namun Kai bingung harus bagaimana mengutarakannya.


"Bukan. Aku hanya ingin melindungi mu. Para musuh ku sudah menandai mu dan itu berarti kau dalam bahaya."


"Biarkan saja mereka membunuh ku. Sejak awal aku memang ingin mati." Jawab Nay ketus.


"Jangan bodoh kamu."


"Aku tidak berminat kembali pada Mas Hendra. Aku ingin memulai hidup baru di tempat lain."


"Hm. Biasakanlah." Jawab Kai seraya berdiri. Dia ingin segera pergi agar sikap gugupnya tidak terbaca oleh Nay.


"Biasakan apa?"


"Sekarang ini tempat barumu, kehidupan barumu." Ujarnya dengan posisi memunggungi. Tanpa Nay ketahui, Kai tersenyum.


"Aku ingin sendiri dan menjadi wanita normal." Jawab Nay sambil berjalan menghadang Kai yang akan pergi.


"Itu mustahil sebab kau Istriku." Kai tidak perduli dan terus berjalan menuju pintu. Cepat-cepat Nay ikut keluar meski kakinya masih terasa nyeri. Dia tidak ingin terkunci di kamar seperti burung dalam sangkar." Masuklah, untuk apa kau ikut keluar?" Masih saja Kai mengeluarkan suara buruk untuk menutupi perasaannya yang bergejolak.


"Aku bosan di kamar."


"Seharusnya kau beristirahat agar kaki mu tidak banyak bergerak."


"Ada hal yang lebih menyakitkan daripada luka di kakiku."


Berarti lelaki itu sudah menyia-nyiakan Sisil ku. Jika dia terbukti bersekongkol dengan pengecut itu, kau akan ku buat menderita atas hidupmu sampai-sampai kau tidak ingin hidup lagi seperti yang sudah kau lakukan pada Sisil ku..


Tanpa sadar Kai termenung sehingga membuat Nay yang melihatnya kian merasa aneh.


"Tuan? Apa kau baik-baik saja?" Kai tersadar dari lamunannya. Dia berpaling seraya menghembuskan nafas berat.


"Hm ya. Silahkan berkeliaran sesukamu asal berada di area rumah."


Kai beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar. Nay terpaku sebentar kemudian memutuskan untuk turun.

__ADS_1


"Seharusnya dia menyediakan makanan yang enak-enak." Gumam Nay seraya menuruni anak tangga." Apa yang ku harapkan. Mana mungkin lelaki robot itu punya niat seperti itu." Eluhnya berjalan ke dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil beberapa roti juga minuman ringan lalu melahapnya. Tuhan. Aku tidak memiliki tujuan hidup. Hanya janin ini saja. Nay mengusap perutnya yang rata. Meski janin itu tercipta bukan atas dasar cinta, namun dia berjanji akan melindunginya selayaknya anaknya sendiri.


🌹🌹🌹


__ADS_2