Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 56


__ADS_3

Keringat dingin mengucur ketika Hendra menyadari ada mobil yang membututi. Setelah kegagalan tugas yang di berikan, membuat Hendra berniat pergi ke luar negeri saja.


Jujur, jika semenjak mendapatkan tugas, hidup Hendra menjadi tidak tenang. Dia berusaha mengejar kesenangan seperti yang di lakukan Jessy sebelum dirinya mati. Tapi ketika kematian berada di depan mata, tubuh Hendra bergetar hebat.


"Sayang jangan terlalu mengebut." Pinta si wanita. Dia setengah mati ketakutan melihat Hendra mengebut di jalanan.


"Diamlah! Kau hanya membuat fokus ku buyar!!" Teriak Hendra geram.


Ciiiiiiiiiiiitttttttttttt!!!


Hendra membanting setir ke kanan sehingga mobil menabrak pohon besar. Cepat-cepat dia keluar tanpa memperdulikan teriakan kekasihnya.


Hendra berjalan menuruni jurang sedalam 10 meter untuk menghindari kejaran anak buah Elang. Namun naas, kakinya tertusuk akar yang mencuat dan membuat laju kakinya melambat.


"Aaaaaghhhh lepaskan!!" Teriak Hendra meronta. Di seret paksa menuju atas. Kekasihnya bahkan lebih dulu di bawa masuk ke mobil hitam tersebut. Mobil miliknya di terjunkan ke jurang yang terdapat sungai di dasarnya.


Hendra di dudukkan tepat di samping Elang sementara kekasihnya berada di jok belakang dalam keadaan pingsan.


"Lain kali saya akan mencobanya." Pinta Hendra seraya mendesis. Luka di kakinya terasa perih.


"Aku terlanjur kesal." Jawab Elang santai.


"Saya akan berusaha."


"Buuuummmmm! Waktu mu sudah habis." Mata Hendra terbelalak ketika Elang mengeluarkan sebilah pisau dari balik jasnya." Kau harus membayar kekesalan ku." Hendra menggelengkan kepalanya namun sesaat setelah itu, matanya mulai gelap.


Elang menyabet lehernya hingga darah segar mengucur deras. Dengan gilanya, Elang menusukkan pisau lebih dalam lalu menggesernya ke kanan dan kiri sampai kepala Hendra benar-benar putus.


Anak buahnya hanya bisa diam melihat kekejian di hadapannya. Jangankan untuk berprotes, melirik saja mereka tidak berani.


"Haha lihatlah." Elang merekam aktifitasnya lalu mengirimkan video pendek tersebut pada Jessy. Ponsel berbalut darah di letakkan sembarang. Tangannya mengambil tisu untuk membersihkan sisa darah pada pisau." Kremasi mayatnya." Pinta Elang tersenyum. Merasa puas atas penebusan dosa yang di korbankan Hendra. Hatinya kembali damai setelan eksekusi keji sudah di lakukan.


"Bagaimana dengan wanita ini Tuan."


"Aku ingin bermain-main sebentar dengannya." Elang terkekeh nyaring meski kegagalan kembali di dapatkan. Dia tengah membayangkan bagaimana wajah Jessy ketika melihat video yang di kirimkan.


Jessica sendiri tengah asyik bergumul dengan salah satu mainannya. Pelepasan hampir di dapatkan, membuatnya tidak memperdulikan pesan yang baru saja masuk.


Setelah mendapatkan kepuasan, Jessy tersenyum simpul. Menutupi tubuh polosnya dengan selimut seraya memandangi giggolo yang di sewa masuk kamar mandi.


Jessy meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Sambil menyulut rokok, dia memutar video kiriman Elang.


"Hendra?" Gumamnya bergegas duduk. Menyambar dress-nya dan memakainya." Apa tujuannya mengirimkan itu? Apa Elang memenuhi keinginan ku atau ini sebuah ancaman." Imbuhnya gelisah, mematikan puntung rokok yang terlanjur menyala.


"Mau kemana Tan?" Tanya lelaki muda berdiri di ambang pintu.


"Aku ada urusan." Jessy meletakan satu bendel uang di atas ranjang." Nanti ku hubungi." Si lelaki hanya tersenyum simpul menatap kepergian Jessy. Dia berjalan menghampiri ranjang dan mengambil upahnya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Berbagai fasilitas gratis Pak Doni berikan, sebagai penebus kesalahan atas apa yang menimpa Naysila.


Pak Doni yang merupakan si pemilik bahkan khusus datang untuk menemui Kai secara pribadi. Dia mengagungkan sosok Kai yang di anggapnya lelaki hebat. Butuh skill khusus untuk bisa berada di posisi Kai mengingat umurnya masih 35 tahun.


"Sekalian, saya akan memberikan free satu malam." Imbuhnya tersenyum hangat.


"Saya tidak punya banyak waktu untuk itu. Fasilitas ini saja sudah cukup asal bisa menyenangkan hati Istri saya."


"Sayang sekali Tuan Kai. Em kalau begitu masalah ini clear. Saya berterimakasih atas pengertian Tuan yang sudah berbesar hati mengampuni pegawai saya." Nay tersenyum aneh. Sikap Kai di rasa berlebihan tapi sikap Doni lebih berlebihan.


"Hm."


"Silahkan nikmati tempat ini Tuan. Saya permisi." Setelah bersalaman, akhirnya Doni pergi.


"Ucapan orang itu berputar-putar Mas."


"Sangat banyak orang sejenis dia. Pilihlah." Kai meletakkan banyaknya fasilitas yang di tawarkan.


"Besok saja Mas."


"Untuk memulihkan kondisi hati mu."


"Aku baik-baik saja. Kita tidur saja ya." Perasaan canggung kembali menghampiri, ketika Nay menumpukan kepala pada paha kanannya.


Nay meraih jemari yang masih terasa kaku ketika ingin memulai. Dia menyelipkan jarinya di sela lalu meremasnya lembut.


"Kamu tahu apa yang lebih mujarab untuk mengembalikan perasaan Mas." Tanya Nay pelan.


"Ingin tahu?"


"Ya Baby."


Nay kembali duduk lalu menggeser tubuhnya mendekat. Tangan kanannya menyentuh dagu Kai dan memutarnya sedikit.


"Tidak perlu sungkan jika ingin ini." Bibir Nay mendekat, memulai lummatan. Dia tahu kalau Kai masih membutuhkan pelatihan agar tidak lagi terbesit rasa ragu ketika meminta.


"Bagaimana dengan kondisi tubuhmu." Tanya Kai di sela nafasnya yang memburu.


"Aku sudah berpengalaman Mas, tenang saja."


Keduanya mulai terbawa hasrat. Kembali melakukan percintaan panas selayaknya pasangan baru pada umumnya.


Rasa takut seketika luntur, tergantikan kepuasan dan senyuman mengembang. Nay terkulai lemah dalam posisi duduk dengan tubuh keduanya yang masih terpaut.


Otak batu Kai seketika retak dan sebentar lagi hancur. Dirinya semakin mencintai wanita yang merupakan cinta pertamanya.


"Ingin tidur?" Tanya Kai pelan.


"Memangnya kamu tidak ingin Mas."

__ADS_1


"Mustahil aku tidur setelah kejadian tadi. Sebaiknya kamu beristirahat." Kai berdiri dengan posisi tubuh Nay yang masih bergelayut. Dia membaringkan tubuh itu lalu memungut celana dan memakainya.


"Kita pulang saja Mas."


"Besok kita pulang." Kai kembali berbaring dan otomatis Nay mendekat.


"Daripada tidak aman."


"Alan akan lebih waspada, tenanglah."


Nay mulai memejamkan mata. Dia yakin selama Kai ada di dekatnya, tidak perlu merasa khawatir soal keamanan.


Tapi lagi lagi mimpi buruk mendatangi. Nay melihat Hendra menangis sambil menenteng kepalanya sendiri. Tentu saja Nay terkejut meski tetap melangkah maju. Berniat bertanya namun suaranya mendadak hilang. Dari jauh terdengar suara Kai memangil. Saat itu juga Nay terjaga dengan mimik wajah khawatir.


"Kamu kenapa?" Tanya Kai panik.


"Kamu benar Mas. Mungkin saat ini Hendra sudah tidak lagi ada." Kai menghela nafas panjang. Sungguh dia merasa kesal membahas sosok tersebut.


"Itu bukan urusan mu lagi."


"Aku hanya sekedar bercerita tentang mimpiku." Nay melirik ke jam dinding. Masih pukul delapan malam, itu berarti dia tidur selama dua jam.


"Menyebalkan sekali bangun di jam segini. Aku tidak akan bisa tidur lagi." Eluhnya sambil memungut dress yang tergeletak di sisi ranjang.


"Tidak apa. Nanti ku temani berganda. Em.. Kamu ingin makan di luar atau di kamar saja?"


"Di restoran depan maksudnya?"


"Hm. Kamu ingin?"


"Ya sudah. Aku mandi dulu ya. Kamu sepertinya sudah mandi." Nay berdiri tepat di hadapan Kai. sikap yang di tunjukkan masih terlihat kaku padahal mereka sudah bercinta sebanyak 2 kali.


"Aku mandi saat kamu tidur." Kai merasakan usapan lembut jemari Nay yang tengah membelai rambut setengah basah miliknya. Sungguh dia merasa nyaman dengan perlakuan tersebut.


"Kamu akan terbiasa setelah ini Mas. Kita harus sering melakukannya agar kamu tidak lagi canggung." Nay merengkuh kepala Kai lalu mengecup puncaknya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Protes Kai meski menikmati.


"Menjinakkan mu hehe." Kai tersungging, menghirup kuat aroma tubuh Nay.


"Hm. Sesuai keinginan. Aku akan pulang tanpa membawa permasalahan."


"Bukan permasalahan Mas tapi jangan membawa amarah ketika kita sedang berdua. Untuk permasalahan, kamu bisa bertukar fikiran denganku."


Mana mungkin aku bisa marah setelah percintaan tadi..


"Iya."


"Oke aku akan mandi." Nay kembali mengecup puncak kepala Kai lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Dia ingin menjinakkan ku. Pintar sekali mengarang." Kai tersenyum, menghela nafas panjang, mencoba mengendalikan perasaannya yang berdebar-debar. Aku berjanji tidak akan menunjukkan kemarahan ku padanya..


🌹🌹🌹


__ADS_2