
Di sebuah ruangan kedap udara yang terdapat meja memanjang dengan banyak kursi. Kai melangkah masuk lalu duduk di salah satu kursi yang terletak di ujung meja.
Pertemuan tertutup seperti sekarang, kerapkali Kai hadiri. Dia menyediakan ruangan khusus agar pembicaraan tidak mencuat keluar sesuai keinginan pemesan.
Permintaannya bermacam-macam. Ada yang berniat kerja sama agar perusahaan bisa berkembang tapi permintaan yang paling banyak tetaplah keinginan saling menjatuhkan satu sama lain.
Satu menit kemudian, seorang lelaki paruh baya berperawakan pendek masuk ke dalam ruangan bersama dua orang ajudan bertubuh besar.
"Maaf sedikit terlambat." Ujar Herman tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa silahkan duduk." Jawab Kai mempersilahkan.
"Langsung saja Tuan Kai. Em saya tidak memiliki banyak waktu." Herman menyerahkan sebuah berkas dan menggesernya ke arah Kai." Itu persyaratan yang Tuan inginkan. Em saya ingin semua aset perusahaan di atas namakan Pak Bowo." Ujarnya menjelaskan.
Kai mengambil berkas lalu memeriksanya. Lelaki berperut buncit itu selalu saja melakukan kecurangan dan melimpahkannya pada orang lain ketika kejahatannya mulai terendus.
Awalnya Kai tidak mengetahui hal itu dan selalu membantu agar urusannya berjalan lancar. Namun beberapa Minggu lalu ada seseorang yang juga meminta bantuan padanya. Dia meminta sebuah perlindungan dari ancaman Herman.
Dari situ Kai mulai tahu jika selama ini dia membantu seseorang yang salah dan merasa di manfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Si tua ini sudah terlalu kenyang. Istrinya bahkan di mana-mana. Aku menyesal sudah membantunya.
"Siapa Pak Bowo?" Tanya Kai meletakkan berkas di atas meja.
"Dia saingan terberat saya. Posisi Direktur utama hampir dia geser. Kalau sampai itu terjadi, apa kata rakyat nanti. Mereka akan menyebut saya sebagai koruptor padahal saya sudah kaya sejak lahir." Jawabnya begitu angkuh. Terkekeh kecil seraya menjelajah ke ruangan tertutup di sekitarnya. Hanya ada sebuah cermin besar yang tepat berada di belakang Kai.
"Bukankah itu faktanya." Sontak Herman menoleh cepat.
"Tuan bicara apa?"
"Perbuatan mu sangat tidak gentle. Kau sudah memakan banyak uang orang miskin sementara mereka harus membayar pajak setiap bulannya."
Raut wajah Herman berubah pucat namun dia mencoba menutupinya dengan tertawa renyah.
"Tuan Kai bisa saja. Tenang saja, dananya sudah daya siapkan." Salah satu ajudan maju dan meletakkan sebuah koper berisi uang.
Braaaakkkkk!!!
Kai menggeser koper sampai jatuh sehingga semua isinya berhamburan ke lantai.
__ADS_1
"Apa yang Tuan lakukan."
"Lebih baik aku merampok orang kaya yang tamak daripada harus memakan uang dari rakyat kecil." Jawab Kai tersenyum simpul. Sikapnya begitu tenang walaupun dia bisa membaca situasi yang kurang kondusif.
Herman sudah memperlihatkan wajah kesalnya dan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk melakukan rencana tambahan.
"Saya tidak pernah melakukan itu Tuan."
"Itu artinya kau mengotori kepercayaan ku."
"Kenapa seperti ini Tuan? Tolong jangan di persulit."
Perusahaan Xu grup yang Kai miliki merupakan perusahaan terbesar se-Asia. Apalagi jaringan gelap yang berjalan di belakangnya membuat kekuasaannya kian menguat.
"Aku tidak mempersulit. Ku berikan waktu lima menit dan kau harus jujur." Jawab Kai mengancam.
"Jujur masalah apa?"
"Itu tandanya kau tidak jujur!!" Teriak Kai geram." Aku bukan orang sembarangan yang bisa kau bodohi! Kau menyingkirkan banyak orang hanya untuk kesenangan mu pribadi sementara Istri mu malah kau terlantarkan!" Setelah kelicikan Herman terkuak. Kai menyuruh Alan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal kehidupan pribadi Herman.
Istri pertamanya di telantarkan bahkan jarang di nafkahi sementara Herman sibuk mengurus kelima Istri mudanya dan berniat akan menambahnya lagi jika dia berhasil menyingkirkan Pak Bowo.
"Berapa banyak uang rakyat yang kau pakai?" Masih saja Kai mempermasalahkan hal tersebut.
"Itu bukan urusanmu."
Herman merasa terdesak dan terancam. Apalagi sampai Kai membeberkan kebusukannya ke publik. Segera saja dia memberi isyarat pada kedua ajudannya setelah memastikan ruangan benar-benar aman.
Tepat di saat Kai di todong senjata api, tangan Kai lebih dulu membalas balik dengan menodongkan senjata tepat ke wajah Hendra.
"Aku sudah banyak melewati kepahitan. Aku memiliki ribuan nyawa dan sekarang kau ingin mengancam ku dengan senjata murahan itu." Tubuh Herman bergetar. Senjata api milik Kai jauh lebih canggih." Katakan, apa benar kau memakai uang rakyat. Ini pertanyaan terakhir jika kau masih menyanyangi nyawa mu." Herman malah terkekeh. Dia sudah menempatkan beberapa ajudan untuk berjaga-jaga di depan padahal mereka sudah berhasil di lumpuhkan.
"Memangnya kenapa kalau aku ingin memanfaatkan uang itu untuk bersenang-senang. Aku tidak bisa menjadi patung seperti mu. Memiliki banyak wanita sangatlah menyenangkan." Setelah kata-kata itu terucap, kedua ajudan Herman terkejut ketika sebuah senjata menempel di punggung mereka.
"Hm bagus. Kau akan membusuk di dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan semuanya."
Mata Herman terbelalak ketika dia melihat cermin yang memperlihatkan beberapa orang berjajar termasuk Istri pertamanya.
Selain Pak Bowo dan pemilik perusahaan, beberapa aparat berwajib yang berkerjasama dengan Kai turut hadir dan menyaksikan.
__ADS_1
"Sialan Kau!!" Umpat Herman dengan wajah pucat pasi. Dia akan kehilangan kesenangan yang sudah menjadi candu.
"Terimakasih Tuan Kai." Ujar salah satu aparat berwajib. Penyelidikan soal kasus korupsi akhirnya terkuak kebenarannya.
"Sama-sama." Jawab Kai tersenyum simpul.
"Tega kamu Mas." Kai melirik sebentar ke arah Istri Herman yang mengingatkannya pada Almarhum Ibunya. Hal itu menjadi salah satu alasan Kai menjebak Herman.
"Sekarang aku tahu! Ternyata kau yang memakan uang perusahaan selama ini!!!"
"Sebaiknya kalian selesaikan masalah ini di luar. Aku tidak ingin mengotori tempat suci ku." Pinta Kai seraya berdiri.
Meski dirinya selalu berkecimpung dalam perbuatan kriminal tapi terkadang pihak berwajib membutuhkan Kai untuk memecahkan hal yang berbelit seperti sekarang.
"Sekali lagi terimakasih Tuan. Saya berjanji tidak akan melibatkan anda. Mari ikut saya Pak."
Herman di seret paksa keluar ruangan sementara Kai memilih kembali duduk sambil menunggu rombongan pergi.
Kai merogoh ponselnya yang ada di kantung celana. Dia ingin melihat kegiatan apa yang sedang di lakukan Nay.
Keningnya berkerut ketika dia tidak menemukan Nay di seluruh sudut rumahnya. Para penjaga bahkan terlihat tidur seakan sengaja di lumpuhkan.
"Alan!!!" Teriak Kai seraya beranjak dari tempatnya di susul Alan yang langsung masuk.
"Ada apa Tuan?"
"Lihat!" Dengan gerakan kasar Kai memberikan ponsel miliknya." Kenapa mereka tidur! Di mana Istriku!" Imbuhnya geram.
"Sa saya tidak tahu Tuan."
"Dasar bodoh!! Aku akan memecat kalian semua kalau sampai Istri ku tidak di temukan!!"
Kai mengambil lagi ponselnya lalu berjalan keluar dan masuk mobil. Sambil terburu-buru, Alan menghubungi kontak milik anak buahnya yang sedang bertugas berjaga di rumah Kai namun tidak ada jawaban.
Gawat ini!! Kalau sampai rumah di bobol, Tuan bisa membunuh ku.
Alan masuk mobil lalu memacunya cepat. Mimik wajahnya terlihat gelisah di sertai rasa takut. Nyawanya akan terancam jika sampai Kai kembali kehilangan Nay.
🌹🌹🌹
__ADS_1