Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 74


__ADS_3

Acara pertunangan di gelar dengan sangat mewah namun tertutup. Hanya penerima undangan saja yang bisa masuk. Alex meloloskan jika para undangan membawa pasangan mereka asal hanya satu orang.


Sebelum Kai tiba di lokasi, Alan lebih dulu meninjau lokasi. Tidak sopan memang. Tapi mau bagaimana lagi jika itu adalah standar keamanan yang wajib di lakukan.


Alex sama sekali tidak merasa keberatan ketika Alan memeriksa setiap sudut rumah termasuk bagian belakang dan kamar pembantu. Asalkan Kai mau datang, apapun akan Alex setujui.


"Bagaimana? Menemukan sesuatu yang berbahaya?" Alan tersenyum, mengedarkan pandangannya ke sekitar. Terlihat beberapa pegawai catering menata sajian untuk para tamu yang mulai berdatangan.


"Ini tugas. Maaf kalau tidak sopan."


"Apa pernah Tuanmu bersikap sopan padaku?"


"Dulu pernah." Alex tersenyum ketika ingatan tentang sikap Kai di masa lalu. Dia seorang anak laki-laki bertubuh kurus, penakut juga sangat payah. Tapi sikapnya sangat sopan dan bertutur kata lembut.


"Bagaimana caramu merubah sikap lembutnya menjadi sangat kaku?"


"Apapun bisa berubah jika hati sudah tersakiti. Em baik, aku harus melapor." Alan memperlihatkan ponselnya lalu berjalan keluar area pesta.


Selayaknya aku yang selalu di nomer duakan. Mereka tidak pernah melihat prestasi ku dan memuja-muja lelaki yang bahkan bukan anaknya.


Seperti apa yang terjadi pada Kai. Ada dendam bergejolak di hati Alex ketika dirinya di pandang sebelah mata oleh kedua orang tuanya.


Ada rasa yang mendorong dirinya untuk mengalahkan Kai. Ingin di akui paling hebat juga paling berkuasa.


🌹🌹🌹


Sementara Kai duduk santai seraya menatap Nay yang tengah bersiap-siap. Ekspresi wajahnya terlihat datar sambil sesekali menghembuskan nafas berat. Walaupun Alan sudah melaporkan perihal keamanan di kediaman Alex, tetap saja Kai merasa khawatir pada Nay dan calon anaknya.


"Sudah cukup jangan berlebihan." Kai beranjak dari tempatnya lalu mengambil alat make up dari tangan Nay.


"Hanya pemerah pipi Mas." Kai tidak bergeming. Dia menutup kotak make up sampai bersuara. Tap! Suara itu Nay anggap sebagai peringatan.


"Apapun yang kamu dengar dan kamu lihat nanti, ingat. Semua itu hanya sebagian dari sandiwara mereka." Nay mengangguk seraya tersenyum. Peringatan tersebut sudah beberapa kali terlontar." Jangan bahas soal hubungan kita." Nay menghela nafas panjang lalu berdiri.


"Aku masih ingat Mas. Aku berperan sebagai sekertaris kan bukan Istri." Ujarnya ketus.


"Untuk menjaga mu. Kenapa jawaban mu terdengar lembut." Sindir Kai pelan. Pertunangan Alex cukup menimbulkan selisih paham apalagi hati Nay kini tengah sensitif.


"Aku sekertaris mu kan?!" Kai melirik malas sambil meremas rambut tebalnya.


"Hanya sandiwara."


"Aku ingat. Tidak perlu di ulang-ulang."


"Ya oke." Jawab Kai pelan. Berjalan menghampiri Nay lalu memeluk tubuhnya. Kepala Nay di giring untuk bersandar pada pundak lalu tangan kanan Kai mengelus rambut panjangnya. Acara seperti ini membuat semuanya menjadi sulit. Seharusnya kita bisa terus berada di rumah dan menghabiskan waktu berdua. Berinteraksi dengan banyak orang sangat memuakkan.


"Kita sudah terlambat Mas." Ucap Nay mengingatkan.

__ADS_1


"Berjanji untuk tidak tersinggung. Aku mengakui mu sebagai sekertaris karena terpaksa. Lebih baik mereka tidak tahu daripada nantinya akan menganggu ketenangan mu."


"Harus berapa kali sih Mas? Aku ingat kok."


Itu karena sikap mu terlihat aneh. Kamu menjadi gampang tersinggung dan sering membuatku panik.


"Ya sudah ayo berangkat."


Kai mengecup kening Nay sejenak lalu mengiringnya berjalan keluar kamar. Keduanya menuruni anak tangga dan terlihat sebuah mobil sudah menunggu di depan pintu utama lengkap dengan supirnya.


.


.


.


.


.


Singkat waktu, setibanya di lokasi. Hiruk pikuk pesta sudah sanggup membuat Kai tidak nyaman padahal dia masih duduk di dalam mobil.


Alan mengarahkan mobil Kai ke parkiran khusus yang sengaja Alex siapkan. Tidak seperti tamu lainnya, mobil Kai di izinkan masuk ke garasi pribadi miliknya.


"Pesta ini terlalu mewah untuk janda tua itu." Gumam Kai ketika baru saja keluar dari mobil.


"Bukan itu maksudku."


"Terus bagaimana? Janda itu fakta! Kau menikahinya kan."


"Ya maaf. Aku salah berbicara."


"Belajarlah untuk tidak berbicara sembarangan."


Kejadian seperti ini hal yang paling Kai takuti. Seringnya Nay tersinggung dan marah-marah membuat Kai berfikir jika lebih baik berada di rumah.


"Ya sudah kita pulang saja kalau kamu marah." Ajaknya sambil berharap di dalam hati. Mungkin saja Nay mau dan itu akan menjadi keberuntungan untuknya.


"Aku tidak marah."


"Hm kamu sedang bernyanyi. Ayo Baby. Selesaikan lalu pulang."


Keduanya melangkah pergi sementara Alan memilih berjalan berlainan arah. Dia merasa sudah mengamankan area lokasi. Ada pemeriksaan ketat yang di tujukan pada tamu undangan seakan Alex berusaha memfasilitasi tamu kehormatan yaitu Kai.


Seorang pelayan terlihat menghampiri Kai dan Nay untuk menunjukkan tempat yang sudah Alex khususkan. Tanpa banyak bertanya Kai mengiyakannya. Selain karena Alan sudah mengamankan lokasi, Kai juga senantiasa waspada.


"Silahkan Tuan." Si pelayan menunjuk sebuah meja dengan ibu jari.

__ADS_1


"Acaranya di mulai pukul berapa?" Tanya Kai seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kenapa Alex hanya mengundang mereka?


Pemandangan di hadapannya terlihat sedikit ganjil. Seharusnya Alex mengundang para pemilik perusahaan bukan kaki tangannya.


"Pukul tujuh tepat Tuan."


"Hm." Kai duduk dan masih mengedarkan pandangannya. Berharap acara segera di mulai agar dia tidak terlalu lama berada di sana. Ada yang tidak beres.


Jessy dan Alex memasuki area pesta. Keduanya berdiri di panggung kecil yang ada di sana. Alex sempat melambai sejenak ke arah Nay sebelum akhirnya melontarkan kata-kata manis untuk Jessy seakan keduanya saling mencintai.


Para tamu bersorak turut bergembira. Bersamaan dengan itu, para pelayan muncul secara bersamaan. Di tangannya terdapat nampan yang berisi sirup berwarna merah. Terlihat menggiurkan apalagi aroma sirup tercium ketika di letakkan.


"Silahkan." Kata si pelayan ramah. Kai menatap gelas yang terlihat sama.


"Tunggu." Cegah Kai ketika Nay akan meneguk sirup tersebut.


"Kenapa Mas?" Tentu saja Nay menanyakan alasannya.


"Mungkin saja ada racun di dalamnya." Nay menghela nafas panjang. Dia merasa Kai terlalu banyak berfikir negatif apalagi setelah melihat para tamu menikmati sirup beraroma wangi tersebut.


"Semua orang meminum nya Mas. Setelah pertukaran cincin, kita berikan kado lalu pulang." Nay akan meminum sirup tapi Kai malah merebutnya dan membuangnya.


"Aku serius. Jangan di minum."


"Buang fikiran buruk mu sedikit saja Mas."


"Kamu selalu tidak percaya dengan apa yang ku katakan." Rasanya Kai merasa lelah harus berdebat dengan topik yang sama. Padahal dia berusaha menuruti permintaan Nay untuk datang ke acara yang menurutnya memuakkan.


"Kamu hanya perlu melunakkan sikapmu."


"percayalah padaku."


"Akan ku buktikan jika sirup itu tidak beracun." Nay berusaha merebut sirup milik Kai namun dengan cepat di hindari.


"Biar aku." Kai meneguk sirup dalam satu kali nafas." Mana mungkin aku rela menjadikan mu dan calon anak kita kelinci percobaan. Mintalah pada pelayan kalau nanti aku baik-baik saja." Imbuhnya seraya meletakkan gelas kosong.


"Memang banyak orang munafik Mas. Tapi tidak semuanya begitu."


"Waspada adalah satu-satunya cara agar selamat." Kepala Kai mulai terasa berat di iringi mual pada perut.


"Tebakan yang salah akan menyinggung perasaan seseorang."


"Perduli apa aku."


Paru-paru Kai terasa sesak dengan pandangan berkunang-kunang. Pembicaraan Nay bahkan tidak mampu di dengar lagi. Hanya gerakan mulut yang terlihat samar.


"Mas. Kamu kenapa?" Nay merasa panik ketika wajah Kai di penuhi keringat. Tepat di saat momen bertukar cincin, para tamu undangan yang meminum sirup tubuhnya seketika ambruk tidak sadarkan diri. Mulutnya di penuhi busa bahkan beberapa dari mereka sampai kejang-kejang.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2