Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 64


__ADS_3

Jessy sengaja duduk di Cafe sendirian. Dia berharap Elang mendatanginya agar permasalahan pada hidupnya cepat selesai. Jessy ingin hidup bebas dan memanfaaatkan dendam Kai untuk menyingkirkan Elang, satu-satunya orang yang membuat hidupnya terkekang. Namun aneh. Tidak ada pergerakan apapun padahal Jessy sudah dua jam berada di sana.


Biasanya dia muncul tiba-tiba..


Jessy tidak mengetahui jika kini Elang memiliki umpan yang lebih lezat. Dia tidak lagi mengharapkan Jessy bahkan sudah tidak ingin tahu kabar tentangnya.


Elang menyebut jika apa yang di lakukan sekarang adalah sebuah penghabisan. Para anak buahnya di babat habis tidak tersisa sementara untuk mencari pengganti sangatlah sulit.


Kini Elang memfokuskan pantauannya pada Caca yang tengah duduk bersanding dengan Erik. Sejak pagi tadi keduanya sibuk menerima tamu. Walau undangan terbatas, namun seluruh keluarga besar Caca turut hadir memberikan restu.


"Besok aku sudah harus sibuk." Ujar Erik pelan. Dia menatap ke Caca yang duduk terpaku.


"Hm iya. Tidak apa. Aku sudah tahu dari Nay." Erik menghela nafas panjang. Menyadari setitik keanehan pada diri Caca. Meski perkenalan keduanya sangatlah singkat, namun sikap Caca semenjak tadi pagi terasa janggal.


Kemarin dia terlihat sopan. Tapi kenapa hari ini dia begitu angkuh? Padahal aku menaruh kasihan padanya.


Terlihat Caca meraih ponsel barunya pemberian Elang. Dia berniat menghubungi Nay lewat telepon.


📞📞📞


"Kenapa kamu tidak hadir Nay?


Kini raut wajah Caca berubah gembira. Dia ingin mendalami aktingnya agar Nay cepat memenuhi keinginan untuk bertemu.


"Kadonya sudah kamu terima. Maaf Ca, aku tidak bisa hadir.


"Padahal ini pernikahan ku. Seharusnya kamu hadir dan menginap.


Nay tertawa kecil sementara Caca menghela nafas panjang nan berat.


"Tidak bisa Ca. Maaf.


"Tapi lain kali bisa kan? Aku rindu padamu.


"Tetap tidak bisa.


"Usahakan ya Nay.


"Tidak.


"Aku butuh teman curhat.


"Datanglah ke rumah. Biar Kak Erik yang mengantar.


📞📞📞


Tut.. Tut... Tut...


Nay memeriksa layar ponselnya untuk memastikan panggilan yang tiba-tiba terputus. Dia mencoba menghubungi Caca lagi namun tidak mendapatkan jawaban.


Sepertinya dia marah? Ah biarkan saja.


Ponsel di letakkan kembali. Nay berharap Caca menghubunginya lagi agar dirinya tidak berfikir macam-macam.

__ADS_1


"Apalagi yang di minta teman mu itu?" Tanya Kai seraya fokus pada laptopnya.


"Hal wajar yang di minta para sahabat."


"Apa itu?"


"Dia mengharapkan kedatangan ku." Kai tersenyum simpul seakan tengah mengejek.


"Ingatlah Baby. Pernikahan itu hanya bohong. Erik sudah berbaik hati mau bertanggung jawab. Bilang padanya untuk tidak berharap terlalu tinggi."


Nay memahami jika mungkin Kai tidak mengerti arti persahabatan dan pertemanan. Tapi tetap saja, sebenarnya dia ingin datang untuk memberikan selamat.


"Ya Mas." Jawab Nay patuh. Kai menutup laptop lalu berdiri." Kamu mau kemana?" Tanyanya pelan.


"Alan sudah datang. Ada beberapa hal yang perlu di bicarakan."


"Hm ya sudah." Nay memilih berbaring sedangkan Kai berjalan keluar kamar untuk menemui Alan yang ternyata datang bersama Erik. Sengaja dia meninggalkan rumah Caca untuk membicarakan sesuatu yang menurutnya penting.


"Sudah kau pastikan. Mungkin saja mereka pergi makan?" Tanya Kai seraya duduk.


"Nomer mereka sudah tidak aktif sejak semalam Tuan. Awalnya saya menebak jika mungkin mereka kehabisan daya." Jawab Alan menjelaskan.


"Saya baru sadar jika sejak pagi tidak melihat mereka." Imbuh Erik menimpali.


Alan kehilangan kontak dengan dua anak buahnya yang di tugaskan mengawasi Caca.


"Apa ada yang mencurigakan?"


"Keseluruhan acara berjalan baik Tuan. Saya malah melihat keanehan pada Caca sendiri." Kai menghela nafas panjang. Sejak awal masalah ini memang bukan urusannya. Dia terpaksa terlibat hanya karena permintaan Nay.


Lagi lagi Kai menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Sesungguhnya dia bosan menghadapi masalah soal Elang yang seolah tidak berujung.


"Apa perlu Caca di bawa ke markas untuk di mintai keterangan?" Ujar Alan menyarankan.


"Dia akan marah."


"Mungkin juga sulit untuk membuatnya jujur." Sahut Erik menimpali. Dia merasa jika Caca tengah menyembunyikan sesuatu.


"Tidak akan ada maling yang mengaku." Umpat Kai seraya mendengus.


Alan sendiri merasa bingung harus bertindak seperti apa mengingat Caca merupakan sahabat Istri dari Tuannya. Dia takut salah melangkah hingga kembali menewaskan seseorang yang tidak bersalah.


"Saya punya ide cukup gila Tuan. Tapi sebelum saya mengutarakan ini, saya mohon untuk tidak marah. Keputusan tetap berada di tangan anda. Saya hanya sekedar memberikan masukan agar masalah ini segera selesai."


"Hm apa katakan."


Alan menjelaskan ide yang bersarang di otaknya. Sangat menguras emosi sebab Kai sempat mengumpatnya bahkan menunjuk-nunjuk nya kasar. Tapi ketika Erik ikut angkat bicara dan berusaha meredam amarah. Intonasi suara Kai terdengar lebih pelan.


"100 lawan 1000. Saya rasa dia tidak akan berkutik." Kai membuang nafas kasar dan belum memutuskan.


"Jika Tuan setuju. Pencabutan saham untuk JANS GRUP akan saya proses besok."


"Kalian tahu apa yang sedang bicarakan?" Tanya Kai menekan ucapannya. Dia setengah mati menahan emosi atas ide yang di bicarakan Alan barusan.

__ADS_1


"Jika ini gagal. Saya akan membunuh diri saya sendiri sebagai penebusan nyawa." Jawab Alan tegas.


"Hm Tuan. Dulu dia sering titip salam pada saya." Sontak manik Kai membulat.


"Pesan apa?"


Erik sedikit bercerita tentang masa sekolah. Terutama saat Elang kerapkali menitipkan salam untuk Nay yang sekalipun tidak di respon.


"Maksud mu? Dia menyukai Istriku?" Erik mengangguk pelan. Menjadi satu-satunya saksi ketertarikan Elang sejak masa sekolah.


"Saya yakin. Kalau dulu Elang sudah bergerak bebas. Mungkin saat ini Nay sudah di rusak olehnya."


Kai duduk tegak dan memasang wajah geram. Rasa cemburu bergejolak sebab sedikitpun Nay tidak pernah bercerita soal itu.


Kalau tujuanmu adalah dia. Bersiaplah bertemu dengan ku..


"Aku setuju." Dengan berat hati Kai mengucapkannya. Kenyataan ketertarikan Elang membuat amarahnya menghantam kuat.


"Saya berjanji akan mengerahkan semua anak buah saya." Kai berdiri seraya memasang wajah datar.


"Bukan janji itu yang harus kau ucapkan." Ujar Kai pelan.


"Lalu apa Tuan?"


"Jika aku mati dalam insiden ini. Bunuh dia. Aku tidak ingin dia di miliki oleh siapapun terutama pengecut itu." Alan menghembuskan nafas berat begitupun Erik yang langsung melirik ke arahnya." Jawab!!! Apa kau mampu!!! Jika kau tidak mampu jangan pernah mengawali rencana itu!!" Teriak Kai geram.


"Siap Tuan." Jawab Alan cepat.


"Hm. Ku pegang janjimu."


Kai berjalan menaiki anak tangga sementara Erik dan Alan masih pada posisi yang sama. Keduanya menatap kepergian Kai sampai benar-benar menghilang dari pengelihatannya.


"Aku bosan menangani masalah ini." Gumam Alan pelan.


"Sudah berjalan puluhan tahun. Tapi Tuan Kai begitu dendam pada Elang."


"Dia mengambil orang tua kami dengan cara yang keji. Aku satu-satunya saksi hidup bagaimana terpuruknya Tuan saat Mama meninggal. Beruntung, dia memiliki orang seperti ku yang bisa melatihnya menjadi orang hebat hehe." Erik tersenyum simpul ketika mendengar Alan membanggakan dirinya sendiri.


"Kalian bersaudara?"


"Oh tidak. Aku hanya anak angkat. Orang tua Tuan Kai begitu baik padaku. Mereka membiayai pendidikan ku juga hidupku. Tapi sayangnya aku tidak berminat sekolah dan lebih memilih menjadi pemimpin para brandal jalanan." Erik mengangguk-angguk. Meski dia mengakui kekejaman Kai, namun di balik itu, ada sebuah berita memilukan.


"Sebelum ini, siapa yang menduduki posisiku?"


"Reihan. Partner terbaik. Otaknya cerdas dalam dunia bisnis sementara aku dalam hal kekuatan hehe. Tapi ku rasa kau cukup layak. Aku sering mendengar Tuan memuji kinerja mu."


"Asal Ibuku di rawat dengan baik. Apapun akan ku berikan."


"Oke sudah cukup. Kita atur strategi agar kau bisa pulang dan menikmati malam pertama." Erik terkekeh kecil. Dia tidak pernah memikirkan itu dan menganggap pernikahannya dengan cara sebatas tugas.


"Lebih baik aku menyibukkan diri. Mana mungkin aku menggauli wanita hamil."


Alan tersenyum kemudian mulai merancang strategi tentang rencana yang di sebutnya sebagai akhir. Dia siap mati jika mungkin itu satu-satunya hal yang harus di lewati agar rencana kali ini bisa berhasil.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2