
Setelah berbaring sejenak, rasa mual Nay sedikit berkurang. Dia duduk sehingga pijatan pada keningnya terlepas. Kai menghela nafas panjang karena merasa khawatir. Setiap kali Nay merasa kesal dalam durasi tertentu. Mual hebat tiba-tiba datang bahkan terkadang sampai pingsan. Itu alasan kenapa Kai berniat menyingkir janin daripada mengancam nyawa orang terkasihnya.
Tahan. Tidak boleh banyak berkomentar daripada dia membahas soal perceraian.
"Sudah lebih baik? Apa perlu ke Dokter?" Tanya Kai pelan.
"Tidak Mas. Aku hanya mual melihat wanita tadi." Terdengar aneh, tapi itulah faktanya." Untung saja aku ikut. Kalau tidak, kamu pasti akan tergoda." Kai menghembuskan nafas berat.
"Aku tidak punya hati." Jawab Kai cepat.
"Jangan konyol Mas."
"Aku memang tidak punya hati apalagi belas kasihan. Perimbangan yang terjadi hanya jika si korban tua rentah atau miskin. Selain dua alasan itu, hatiku menghilang entah kemana." Imbuhnya menjelaskan.
"Tapi kamu selalu mengalah padaku? Apa kamu terpaksa melakukannya?"
Dia memulai perdebatan padahal aku sudah tidak banyak bicara.
"Mungkin kamu satu-satunya." Jawab Kai berharap tidak salah bicara." Kamu ikut ke kantor polisi?" Lagi lagi Kai berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ingat ya Mas. Aku tidak mau ada pembantu apalagi cantik!"
"Kamu bisa mengaturnya sesuai keinginan. Ikut atau tidak? Kalau kamu lelah, biar ku antarkan pulang."
"Aku ikut. Kemanapun kamu pergi, aku harus ikut." Jawab Nay ketus. Kai tersenyum simpul sambil menatap Nay hangat. Plaaaaaakkkkkk!!! Tiba-tiba pipi Kai terasa sedikit panas ketika Nay melayangkan tamparan.
"Agh. Kenapa lagi?" Eluh Kai mengusap-usap pipinya.
"Kau menertawakan ku!" Tunjuk Nay kasar.
"Kapan?" Meski panas, Kai menikmati tamparan tersebut.
"Pura-pura lupa padahal kau baru melakukannya!!"
"Astaga. Kalau tidak cinta, mungkin sudah ku balas perbuatannya."
"Kamu tidak terima Mas?"
"Aku terima." Kai berdiri lalu mengulurkan tangannya." Kita pergi ke kantor polisi lalu pulang. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat." Nay menyambut uluran tangan dengan wajah masam.
"Kita beli makanan manis Mas."
"Roti atau Cake?" Nay mengigit pundak Kai keras sampai pemiliknya menggelinjang." Hehe kenapa kau berubah kasar?" Untuk pertama kalinya Kai menunjukan kekehannya ke para staf yang sibuk berkerja. Cukup aneh karena sebelumnya Kai selalu memasang wajah datar.
"Aku tidak mau makanan mengandung tepung!"
"Terus apa?"
__ADS_1
"Es atau apapun asal tidak berkarbohidrat."
"Ya baik."
"Susu hamil ku juga habis."
"Oke kita beli sepulang dari kantor polisi." Wajah gembira Kai menandakan jika Nay satu-satunya wanita yang dapat mencairkan gunung esnya. Begitulah tanggapan para staf. Meski mereka tertunduk, sesekali mereka melirik ke arah Kai yang sudah masuk ke dalam lift.
Ternyata Pak Kai bisa tertawa.
Baru saja Kai akan mencapai pintu lobby. Kedatangan Alex sontak menghentikan laju kakinya. Otomatis Nay ikut berhenti melangkah dan melihat sosok yang sedang di tatap Kai tajam.
"Aku tadi ke rumah tapi para penjaga bilang kamu ada di sini." Manik nakal yang di tunjukkan Alex semakin membuat otak Kai memanas.
"Ada masalah penting?" Tanya Nay ramah.
"Tidak ada Kak. Em aku hanya ingin memberikan ini." Mengangkat keranjang buah-buahan segar." Kata Jessy Ibu hamil suka makan yang segar-segar." Imbuhnya tersenyum simpul.
Ketika Nay hendak mengambil keranjang, Kai menahan langkahnya dan dengan cepat meraih keranjang tersebut.
"Pak, tolong ke sini." Sambil menatap ke salah satu scurity.
"Ada apa Tuan."
"Ambil ini." Tanpa basa-basi Kai memberikan keranjang buah pada si scurity.
"Ambil atau ku buang ke sampah!" Segera saja keranjang tersebut di ambil.
"Terimakasih Tuan."
"Hm." Alex terlihat tersenyum simpul meski hatinya bergejolak hebat. Perbuatan yang di anggapnya penghinaan berhasil di pertontonkan ke publik.
"Mas itu tidak sopan."
"Itu pantas untuk membalas perbuatan seseorang yang tidak sopan." Jawab Kai santai.
"Kak Kai selalu menganggap ku pengganggu padahal aku tulis memberikan buah-buahan itu. Aku ikut khawatir dengan keadaan Kak Nay."
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa membelikan buah-buahan yang lebih berkualitas dan pastinya tidak beracun." Alex mencoba memperlihatkan mimik biasa saja walaupun dia tersindir.
"Kita lihat hasilnya besok Kak. Kalau scurity itu tewas berarti tebakanmu benar" Padahal aku sudah menyuntikkan obat penggugur kandungan. Untung saja aman untuk lelaki dewasa. Aku tidak suka melihat Nay mengandung keturunan mu.
"Aku tidak perduli! Lebih baik kau tidak perlu repot-repot mengurus kebutuhan Istriku."
"Hm baik. Em kalian mau kemana?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Suara buruk Kai membuat mereka menjadi tontonan para staf yang sibuk dengan perkerjaannya masing-masing. Alex tentu merasa malu.
"Serius kau tidak tahu?" Tatap Kai tajam.
__ADS_1
"Aku memang tidak tahu."
"Sekutu mu meminta bantuan padaku. Aku ingin mengolok-oloknya dan menertawakan hidupnya sekarang."
"Sekutu siapa?"
"Sapto. Hidupnya hancur karena berani membohongi ku. Bagaimana dengan nasib mu setelah ini? Kau ingin membunuh ku kan? Kita lihat siapa yang akan terbunuh! Sialan!!!" Kai mendorong kasar pundak Alex lalu melanjutkan langkahnya. Dia tidak membiarkan Nay angkat bicara untuk melontarkan pembelaan.
Sialan! Dia mempermalukan ku.
Alex berjalan ke arah lift. Dia memiliki janji dengan Erik untuk membahas masalah proyek baru.
Setibanya di ruangan pribadi Erik, Alex menerobos masuk sambil mendengus kesal. Tatapan matanya menusuk dengan hati tercabik.
Erik yang melihat hal tersebut, tersenyum simpul kemudian menutup laptopnya. Dia berjalan menghampiri Alex seraya menepuk pundaknya lembut.
"Apa kau tidak bisa memberikan obat tersebut. Aku tidak ingin melihat Nay mengandung anaknya!" Umpat Alex kasar.
"Tidak bisa Pak. Terlalu beresiko bagi saya."
"Lantas apa rencana mu untuk memisahkan mereka?"
"Saya masih berusaha mencari celah. Pak Alex sabar saja."
"Terlalu lama! Aku muak melihat kebersamaan mereka." Erik mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Tuan bukan orang sembarangan. Meski tidak terlihat, anak buahnya di mana-mana. Kalau Pak Alex salah melangkah, masalah akan menjadi runyam. Bisa-bisa nyawa kita berdua yang jadi taruhan."
"Ya oke! Aku tunggu rencana mu! Xu grup akan menjadi milik mu jika kita berhasil menyingkirkan nya!" Hanya dalam mimpi. Aku tidak mau di nomer duakan lagi. Aku hanya sedang memanfaaatkan ketidaksetiaan mu sebagai pemulus rencana ku.
"Baik Pak. Nanti saya kabari."
"Hm."
"Sebaiknya Bapak menuju ruang pertemuan, saya takut ada yang curiga."
"Oke." Alex menghela nafas panjang kemudian keluar ruangan menuju ruang pertemuan.
Setelah memastikan aman, Erik berjalan menuju rak buku dan mengambil camera yang tersembunyi di sana.
Anda fikir mudah untuk membuatku berkhianat? Sangat tidak mungkin aku mengkhianati orang yang sudah memberikan kehidupan untuk Ibuku. Bukan Tuanku yang akan hancur, tapi kau yang akan hancur lalu ABRA grup menjadi milikku.
๐น๐น๐น
Maaf, kesehatan ku sedang tidak baik๐
Terimakasih dukungannya ๐นโค๏ธ
__ADS_1