Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 90


__ADS_3

Nay duduk seraya memasang wajah geram. Tatapannya tajam ke arah pintu dan berharap Kai kembali menjemputnya.


Sudah sepuluh menit yang lalu, Nay mencoba mengendor pintu dengan benda-benda yang ada di sana. Kamar terlihat berantakan. Perabotan berserakan tidak beraturan seperti habis terkena gempa. Nay sangat kesal dengan cara curang Kai menghentikannya.


Prannnngkkkkk...


Nay melempar sebuah vas bunga ke arah CCTV yang ada di sudut ruangan sampai serpihannya berceceran.


"Kau akan mendapatkan akibat dari kecurangan ini Kai! Lihat apa yang bisa ku lakukan!!" Teriak Nay tidak terkendali. Dia beranjak dari tempatnya untuk mencari barang-barang yang bisa di gunakan merusak pintu.


Kekesalannya sangat mendorong kuat dan memaksanya berbuat kasar nan arogan. Nay sendiri tidak mengerti tentang apa yang terjadi padanya. Dia hanya merasa marah, kemarahan yang meluap-luap dan tidak pernah di rasakan sebelumnya.


Apa karena perasaan kehilangan tidak ingin di rasakan lagi. Atau benih Kai tengah mengendalikan sistem syarafnya? Yang pasti Nay berusaha bisa keluar dari kamar agar bisa menangkap Alex dengan tangannya.


"Sialan!! Dia sudah menyingkirkan semua senjata!!" Umpatnya bersandar lemah pada lemari. Masih saja matanya menjelajahi ruangan dan berharap menemukan sesuatu.


Tiba-tiba saja bibirnya tersungging ketika Nay melihat teko terisi penuh dengan air. Dia berjalan menghampirinya lalu membawanya ke arah pintu dan menguyur layar dengan air tersebut.


Tidak terjadi sesuatu sebab smart door lock ternyata tahan terhadap air. Namun Nay tidak ingin menyerah, kini dia membuka laci perhiasan miliknya lalu mengambil batu permata berbentuk runcing. Nay kembali ke pintu lalu menekan-nekan layar dan berusaha merusaknya dengan permata tersebut.


Tak!


Akhirnya layar tersebut retak meski sedikit. Nay semakin kuat menekan sampai retakan mulai membentuk lubang. Dia meletakkan permata sembarangan lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil beberapa kaleng minuman bersoda.


Nay menguyur layar ke bagian yang terlihat berlubang. Ada sedikit percikan api sebelum akhirnya layar mati.


Klek!


Nay tersungging ketika mendengar kunci pintu terbuka secara otomatis. Tangan kanannya menurunkan gagang pintu dan bergegas saja dia keluar.


"Nyonya." Ujar Jessy panik. Cemilan di tangannya langsung terlepas ketika melihat Nay keluar dari dalam kamar.


"Di mana Suami ku?" Tanya Nay tegas.


"Sudah berangkat. Em sebaiknya Nyonya kembali ke kamar. Katanya, Tuan Kai hanya sebentar." Jessy sudah mendalami perannya sebagai asisten Nay sehingga dia terbiasa memanggil Nay dengan sebutan Nyonya.


"Kau tahu, dia menipu ku!!" Menunjuk ke dadanya.


Aku bingung. Kenapa sikap Nay terlihat mirip Kai.


"Siapa Nyah?"


"Tuan mu!!" Jessy tertunduk seraya tersenyum. Situasi aneh kerapkali Nay suguhkan ketika merasa kesal pada Kai.

__ADS_1


"Ini untuk kebaikan.."


"Berikan senjata mu." Nay merentangkan telapak tangannya ke arah Jessy.


"Untuk apa?"


"Berikan saja." Jessy memberikan senjata api miliknya. Nay bergegas turun dan otomatis dia mengekor.


"Saya bisa terkena masalah kalau Nyonya sampai keluar."


Nay tidak menjawab. Dia mengambil sabuk yang biasanya melingkar di pahanya. Nay menyimpan senjata api di sana juga dua buah pisau.


Aku yang lebih lama mengenal kerasnya kehidupan. Tapi kenapa aku merasa Nay sudah berpengalaman dalam mengoperasikan senjata.


"Katakan pada Tuanmu kalau aku pergi dan tidak akan kembali sebelum misiku selesai." Jessy tersenyum aneh. Langkahnya di percepat mengikuti kemana Nay berjalan.


"Beliau bisa membunuh saya."


"Tidak mungkin. Kau orang pilihan ku."


"Saya mohon Nyonya. Saya.."


"Jangan mengikuti ku!" Nay berbalik badan dan menodongkan senjata api ke arah Jessy." Tuan mu sudah membuatku kesal. Dia harus di hukum. Katakan pesan itu padanya!" Nay kembali melangkah pergi ke arah luar.


Sementara di tempat lain, baru saja Kai menyisir area jalan hutan yang sempat di lalui Alex.


Alan menghampirinya dengan wajah tegang dan menunjukkan pesan dari Jessy.


"Pastikan kebenarannya?!" Jawab Kai panik.


"Nona sudah keluar dari rumah. Jessy tidak bisa berbuat apapun sebab di ancam akan di bunuh."


"Dasar wanita tidak berguna. Kita kembali!!"


Terpaksa Kai masuk ke dalam mobil padahal tinggal beberapa langkah lagi dia menemukan motor yang sempat Alex kendarai.


Alan berusaha menghubungi kontak para anak buahnya yang berjaga di rumah. Tapi aneh, panggilan darinya tidak di jawab. Hal itu membuat wajah Alan kian panik. Apalagi kontak milik Erik pun tidak dapat di hubungi.


Astaga bagaimana ini? Kenapa Erik juga tidak bisa di hubungi? Apa mereka di ancam Nona?


Padahal yang terjadi sesuai rencana. Para penjaga begitupun Erik, terkapar tidak berdaya akibat obat tidur dengan dosis tinggi.


Setelah menyelesaikan tugasnya, kedua pemuda suruhan Alex pergi. Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh lagi apalagi mereka tahu seluk beluk tentang Kai yang cenderung tertutup.

__ADS_1


Nay menatap pekarangan yang sepi. Para penjaga tidak sadarkan diri bahkan ada yang sampai terjatuh dari pohon. Dia membaca keganjilan tersebut dan malah tersenyum simpul sambil terus berjalan menuju pintu gerbang utama.


Sudah ku katakan Mas. Dia mengincar ku. Ingat pada Elang? Kamu gunakan aku untuk memancing nya. Lalu kenapa kamu tidak melakukannya lagi? Aku senang membantu agar urusan mu cepat selesai.


Ciiiiiiiiiiiitttttttttttt!!!!


Sebuah mobil mengerem mendadak tepat di samping Nay. Langkahnya terhenti, menatap ke arah pintu mobil tersebut.


Tap!


Pintu tertutup kasar. Alex keluar dari dalam lalu bersandar santai pada body mobil sambil menatap ke arah Nay.


"Mau kemana Kak." Sapa Alex tersenyum.


"Oh astaga. Kau datang sendiri." Alex sedikit kesal ketika melihat mimik wajah Nay yang malah memperlihatkan sebuah kebahagiaan.


"Kak Nay menunggu ku." Alex terkekeh renyah untuk menyamarkan niatnya yang akan mengambil senjata api dari saku celananya.


Dupppp!!!


Dengan cekatan Nay membidik tangan kanannya sehingga membuat senjata milik Alex terlempar. Perih luar biasa Alex rasakan sebab peluru sempat menyerempet kulitnya.


"Pakai ini!!" Nay melemparkan pisau ke arah Alex. Senjata miliknya di buang lalu dengan gilanya Nay mengeluarkan satu pisau lagi dan menggenggamnya erat." Kau ingin membunuh anakku kan?" Imbuhnya seakan tidak memiliki rasa takut pada Alex.


"Aku membenci si penitip benih. Dia mencintai mu dan itu berarti aku juga harus membenci mu." Alex membungkuk dan mengambil sebilah pisau di kakinya.


"Perkenalan yang sangat hangat. Tapi rupanya kau seorang Iblis yang menyamar."


"Kamu tidak mengerti rasanya di singkirkan. Kedua orang tuaku bahkan mengagungkan nama Suami mu."


"Itu karena dia hebat. Sangat berbeda dengan lelaki berhati busuk seperti mu." Nay mulai melangkah maju begitupun Alex yang terlihat berjalan mendekat.


"Hahahaha. Itu memuakkan Kak. Aku wajib membunuh mu untuk menghancurkan hidupnya."


"Tidak semudah itu Alex. Dia benihnya, kau akan tahu sekuat apa dia."


Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum Alex mulai mengayunkan tangannya dan berusaha melukai perut Nay.


"Aaaaaghhhhhh...."


🌹🌹🌹


Tunggu lanjutannya besok ya 😁

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2