Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 18


__ADS_3

Supir taksi yang mengantarkan Nay menuju stasiun di buat terkejut dengan sebuah mobil hitam memotong jalan.


Nay sendiri hanya menghela nafas panjang sebab dia menganggap jika itu orang suruhan Kai.


Apalagi yang di inginkan lelaki itu!!


"Tunggu di dalam saja Non, biar Bapak yang keluar." Ujar si supir. Dia takut terjadi sesuatu dengan Nay mengingat dirinya seorang wanita.


Saat Nay sadar seseorang yang keluar dari mobil membawa senjata api, Nay mencegah kepergian si supir taksi dengan memegang pundaknya.


"Biar saya Pak."


"Bahaya Non."


Nay bergegas keluar di ikuti oleh si supir taksi yang langsung di sambut senjata api di belakang kepalanya.


Jika si supir tidak memotong jalan agar cepat sampai, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi meski keduanya harus terjebak macet. Dan faktanya, si supir sengaja melewati jalan yang sepi agar dirinya bisa berbuat tidak senonoh pada Nay.


"Jangan coba-coba hubungi polisi." Dengan gerakan kasar, salah satu dari mereka mengambil ponsel milik si supir dan membantingnya ke aspal jalan.


Nay melebarkan matanya, menatap serpihan ponsel yang berhamburan. Tentu saja dia merasa kasihan pada si supir yang di tebak sudah berumur setengah abad.


"Kenapa kalian lakukan itu!" Ujar Nay setengah berteriak. Menatap sekitar yang hanya terdapat pesawahan.


"Ikut kami Nona. Jangan melawan."


"Tidak! Aku tidak akan kembali ke tempat itu." Jawab Nay menolak.


"Kami tidak ingin berbuat kasar."


"Masuk lagi Pak." Pinta Nay pada si supir taksi. Dia menyingkirkan senjata api dan menggiringnya masuk ke dalam kemudi mobil.


"Kami tidak sedang main-main!! Masuk!!"


Kini senjata api mengarah pada tengkorak kepala Nay. Dia merasa yakin tidak akan di lukai sehingga dengan beraninya Nay berusaha membela diri.


Pelatihan yang di berikan Kai cukup membantu sampai-sampai membuat anak buah Elang kepayahan. Namun ketika timah panas menembus kaki kirinya. Seketika tubuhnya oleng dan terjatuh.


"Aaaaaagggggghhhhhhh. Kenapa tidak kau bunuh saja aku!!!" Teriak Nay nyaring. Dia duduk di atas aspal jalan sambil menggerang kesakitan.


Tanpa perduli pada keadaan Nay, para anak buah Elang yang berjumlah tiga orang bergegas membawanya masuk ke dalam mobil. Sementara si supir taksi memacu mobilnya pergi daripada harus terlibat lebih dalam lagi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Alan menerobos masuk dengan langkah tergesa-gesa. Terlihat Kai duduk di samping kolam sambil memeriksa beberapa senjata api miliknya. Di sampingnya berdiri satu orang ajudan yang merupakan anak buah Alan.


"Maaf Tuan." Ucap Alan seraya mengatur nafasnya.


"Ya ada apa?" Jawab Kai memperhatikan lekat senjata yang ada di tangannya.


"Ini tentang Nona Naysila."

__ADS_1


"Aku tidak ingin mendengar namanya lagi. Semua bantuan yang ku berikan sudah lebih dari cukup untuk menebus insiden kecelakaan itu."


Kai berusaha mengatur emosinya yang masih meluap-luap. Entah kenapa dia merasa kesal sebab Nay belum juga menghilang dari fikirannya.


"Lepaskan wanita itu. Aku tidak ingin tahu tentangnya." Imbuhnya mengembalikan senjata pada tempatnya.


Syukurlah. Berarti Nona tidak di bunuh.


"Ampun Tuan. Seharusnya saya mengatakan ini tapi berhubung ada masalah yang tidak bisa di tunda, jadi saya pergi menyelesaikannya." Kai mendongak ke Alan dengan kening berkerut.


"Apa yang kau katakan?"


"Ini tentang Nona Nay." Kai kembali membuang muka.


"Rajukan mu tidak akan berhasil. Aku sudah tidak perduli dengan wanita itu. Kau tahu jika dirinya tidak pantas di tolong dan tidak tahu terimakasih!!" Tentu saja Kai tersulut emosi karena akibat ucapan Alan membuatnya semakin memikirkan sosok Nay.


"Nona Nay pernah di panggil Sisil dulu." Sontak Kai kembali menoleh cepat.


"Kau bicara apa?"


"Saya tidak sengaja mendengar obrolan Nona dengan temannya." Kai langsung berdiri seraya membuang nafas kasar.


Jika memang dia Sisil, berarti perasaan ku..


"Apa kau tidak salah dengar?"


"Tidak Tuan. Memang saya sendiri belum yakin apa Nona Nay adalah Sisil yang Tuan cari. Tapi apa salahnya menanyakan ini terlebih dahulu daripada nanti menyesal."


"Maaf Tuan. Ponsel saya tadi mati. Saya fikir Tuan tidak akan mengusir Nona."


"Bodoh!!!" Plaaaaaakkkkkk...


Meski sebuah tamparan di hadiahkan, Alan terlihat masih berdiri tegak. Dia sudah terlatih menerima kearoganan sikap Kai.


"Apa ada masalah yang lebih penting dari Sisil!!! Kau tadi mengerjakan apa hah!!"


Sifat buruk Kai terbentuk akibat dari pembullyan. Itu kenapa terkadang dirinya tidak memiliki rasa belas kasihan pada anak buahnya meski untuk masalah membunuh, dia tidak sembarangan melakukannya.


"Saya bersalah Tuan. Maafkan saya."


"Cari dia!!!"


"Baik Tuan."


Segera saja Alan pergi dari hadapan Kai sambil menempelkan ponselnya pada telinga kanan. Dia langsung memberikan titah pada anak buahnya untuk memeriksa CCTV jalan dan menyisir terminal ataupun stasiun kereta api.


.


.


.

__ADS_1


.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja. Beberapa bukti sudah berhasil di kumpulkan termasuk noda darah pada aspal jalan akibat tembakan pada kaki Nay.


Kai duduk berjongkok lalu menyentuh tetesan darah yang sudah mengering. Sesal semakin menyelimuti walaupun dirinya belum yakin jika Nay sosok yang di cari.


Seharusnya aku melindunginya seperti yang di lakukan nya dulu..


Kai kembali berdiri. Salah satu lelaki berjaket hitam memperlihatkan laptop kecil dan berhasil mendapatkan lokasi penyekapan dari google map. Dengan cerdiknya hacker yang berkerja sama dengan Kai, mencari melalui nomer polisi pada mobil.


"Ini alamat dari pemilik mobil. Saya tidak yakin Nona ada di sana. Mungkin saja pemilik mobil berpindah nama." Ujarnya menjelaskan.


"Hm aku tahu. Kita ke lokasi dan amankan area."


Alan bergegas bertindak untuk memberikan arahan agar CCTV sepanjang perjalanan di matikan. Bukan hanya para penjahat yang bersekutu dengan Kai, tapi para pejabat, abdi negara juga pengusaha. Itu kenapa apapun permintaan Kai selalu di permudah, termasuk penonaktifan CCTV jalan.


Sementara Nay sendiri tidak sadarkan diri setelah Dokter membiusnya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang pada kakinya.


Pembiusan terpaksa di lakukan sebab Nay masih berusaha melawan dan ingin pergi dari sana.


Anak buah Elang terlihat kepayahan karena meski tubuh Nay kecil tapi cukup tangguh dalam menahan sakit. Seharusnya Nay tidak sanggup menggerakkan kakinya namun fakta berkata lain. Nay tetap bersikukuh ingin melarikan diri.


"Kalian tega sekali melukai kakinya." Ujar Dokter kepercayaan Elang.


"Dia berusaha melawan. Jika tidak kami lumpuhkan, Tuan akan marah."


Elang memperbolehkan anak buahnya melukai Nay jika itu satu-satunya cara untuk membawanya. Namun mereka di larang melukai organ penting sebab Elang menginginkan Nay dalam keadaan hidup.


"Untung lukanya tidak dalam." Dokter memotong perban lalu merekatkannya dengan plester." Berikan obat ini setelah dia sadar. Waktu saya tidak cukup banyak, hanya itu yang bisa saya berikan." Dokter mengemasi peralatannya lalu berjalan pergi keluar.


"Wanita ini bukan manusia. Wajahnya mirip boneka." Gumam salah satu lelaki yang ada di sana.


"Itu kenapa Tuan menginginkannya."


"Hm sebaiknya kita keluar. Aku belum sempat makan siang."


Seorang lelaki keluar lebih dulu, langkahnya tertahan ketika sebuah senjata api sudah di todongkan ke arahnya. Satu temannya bahkan sudah terkapar tidak berdaya akibat obat bius.


Gawat..


Satu orang lainnya berinisiatif mengirim pesan untuk Elang. Dia berharap Elang membawa bala bantuan tapi itu mustahil terjadi.


๐Ÿ’ŒTuan. Tolong kami. Kai menemukan lokasi.


Praaaaaannnggggkkkk!!!


Elang melempar ponselnya sembarangan sampai-sampai anak buahnya berjingkat.


"Katanya sudah tidak menginginkannya!!!" Teriaknya geram." Kenapa kau selalu mengganggu kesenangan ku Kai!!" Imbuhnya sambil mendengus. Kedua anak buahnya hanya mampu tertunduk tanpa berkata sepatah katapun.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2