
Tertulis jelas aturan dalam surat perjanjian kontrak pernikahan yang harus Nay jalani selama dirinya mengandung benih dari Kai. Tapi yang membuat Nay binggung, Kai tidak menginginkan sebuah sentuhan apalagi harus melakukan adegan ranjang.
"Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa aku hamil anak mu tapi aku di larang menyentuh mu?" Nay yang tidak tahu-menahu masalah tekhnologi modern tentu tidak memahami istilah rahim pengganti.
"Jika kau setuju tanda tangan saja." Jawab Kai tidak ingin banyak bicara tapi wanita di hadapannya membuatnya terus saja berbicara.
"Pernikahan bukan permainan Tuan."
"Daripada kau mengandung tanpa kejelasan."
"Ini terlalu gila. Aku tidak mau melakukannya."
"Astaga." Kai mencengkram erat kepalanya seraya menghembuskan nafas berat." Menurut mu berapa biaya yang harus di keluarkan agar kau kembali cantik?!! Nominal itu sudah setimpal." Imbuh Kai mulai tersulut emosi.
"Seorang anak tidak ternilai harganya."
"Jadi kau memilih bunuh diri dan menjadi arwah penasaran." Alan berpaling, dia menyembunyikan senyumannya dari Kai yang tengah memasang wajah geram." Aku hanya meminjam rahimmu lalu kau dapatkan kecantikan juga Suamimu itu." Penolakan Nay membuat niat Kai semakin menggebu-gebu. Pembullyan yang di alami pada masa lalu membuat otaknya sekeras baja.
"Bagaimana jadinya anak itu nantinya."
"Kau tidak perlu susah-susah memikirkan hal itu!! Lakukan perintah dariku dan kau dapatkan yang kau mau."
Nay kembali terdiam. Jujur saja jika dia menginginkan kehidupannya yang dulu. Hangat dan sangat manis walaupun Hendra hanya menyuguhkan hidup sederhana.
Apa bisa kulit keriput ini di kembalikan?
"Bagaimana?!! Aku tidak punya banyak waktu. Jika kau setuju tanda tangani surat perjanjian itu, tapi jika tidak. Kau akan ku antarkan kembali ke jalanan."
"Hanya melahirkan anak?" Tanya Nay lirih.
"Ya. Lahir kan anak untukku. Setelah anak itu lahir! Pernikahan juga akan berakhir."
"Aku harap esok Tuan tidak mempersulit semuanya. Aku masih sangat mencintai Suami ku." Kai terkekeh kecil. Ucapan dari Nay seakan tengah menebak jika suatu saat dirinya bisa jatuh cinta.
Sementara tujuan Nay mengucapkan itu adalah. Dia berniat kembali pada Hendra setelah berhasil mengembalikan kecantikannya. Bukan hanya itu saja. Nay ingat jika dulunya dia selalu menjadi primadona. Banyak lelaki yang menginginkannya tapi hatinya sudah terlanjur berlabuh pada Hendra. Hal itu membuatnya takut jika suatu saat Kai sulit melepaskannya.
"Itu hal mustahil. Setelah anak itu lahir kau boleh bebas dan kembali pada Suami mu."
"Kalau memang seperti itu. Tolong tambahkan satu perjanjian. Jika setelah anak itu lahir, pernikahan kita juga berakhir tanpa menyisakan cerita. Aku tidak mau hubungan pernikahan ini mengikatku." Kai mengisyaratkan Alan untuk melepaskan ikatan tangan Naysila.
"Tambahkan sesuai kemauan mu walaupun aku tidak mungkin melakukan itu. Aku hanya meminjam rahimmu saja, tidak lebih." Nay mengangguk. Menambahkan satu kolom perjanjian lalu menandatanganinya.
"Kenapa Tuan tidak menikah saja." Masih saja Nay bertanya.
"Jangan banyak bertanya." Kai berdiri lalu mengambil surat perjanjian dari hadapan Nay." Malam ini kau akan terbang ke Korea. Aku sudah menyiapkan tiket juga perawatan terbaik untuk mengembalikan kecantikan mu." Imbuhnya tanpa menatap Nay.
__ADS_1
"Ku fikir pernikahannya akan terjadi sekarang."
"Hah. Kau ingin membuatku malu! Berkaca lah! Bagaimana buruknya wajahmu sekarang!" Alan menghembuskan nafas berat. Seharusnya Kai tidak pantas berkata demikian sebab dirinya ikut bersalah atas apa yang terjadi pada hidup Naysila.
Alan akan menghadapi masalah besar jika saat itu dia tidak bisa menangkap salah satu orang incaran Kai. Hal itu membuat dirinya di haruskah bergerak cepat sampai-sampai mobil yang di kendarai kurang berhati-hati dan menabrak motor Naysila.
"Ternyata Tuan sejenis dengan mereka. Ku fikir Tuan orang baik." Ucap Nay sedikit di tekan. Sikap orang sekitarnya menambah beban fikiran di otaknya.
"Sejenis apa?"
"Menghukum seseorang atas kesalahan yang tidak di perbuat. Menurut Tuan, aku mau berada di posisi ku sekarang? Tapi orang seperti Tuan tidak bisa mengerti masalah itu dan hanya mampu mencibir."
Perkataan Nay mengingatkan Kai pada pembullyan yang terjadi padanya. Ketika dia di hukum publik atas kelemahannya kala itu.
"Tidak perlu banyak bicara. Sebaiknya kau membersihkan diri dan bersiap pergi nanti malam." Kai beranjak dari tempatnya. Kakinya terayun pergi keluar kamar di ikuti oleh Alan dan yang lain.
Nay menatap lemah ke arah pintu kamar yang tertutup. Maniknya memperhatikan sekitar kamar yang terlihat begitu mewah.
Mencurigakan. Untuk apa lelaki itu menjeratku? Apa dia benar-benar berniat menolong ku?
Terbesit kecurigaan sebab selama ini tidak ada orang yang perduli pada kehidupan Nay paska wajahnya berubah buruk. Sementara Kai memberikan penawaran gila yang mungkin bisa membukakan jalan untuknya agar bisa kembali pada Hendra.
Hanya melahirkan anak lalu bercerai. Setelah itu aku bisa hidup tenang bersama Mas Hendra lagi.
"Lihat sayang." Jessy menunjukkan sebuah rentetan pesan pemberitahuan soal transferan uang hasil dari perusahaan." Kamu tidak perlu susah mengelola. Uang sudah mengalir di ATM pribadi mu." Hendra menatap nanar layar ponselnya. Bukan hanya puluhan juta tapi ratusan juta berhasil masuk ke rekeningnya.
"Ini serius uang ku?"
"Hm. Kau bisa membeli apapun dengan uang ini."
"Terimakasih sayang."
"Hm ya sama-sama. Em jangan lupa persiapan untuk pernikahan kita." Mimik wajah Hendra seketika berubah. Walaupun Jessica memang terlihat cantik namun dia tidak pernah membayangkan jika pernikahannya dengan Nay akan hancur." Kenapa? Apa kamu masih memikirkan wanita itu?" Imbuh Jessica menebak.
"Seharusnya aku mencari dia dahulu. Kata temannya dia tidak ada di tempat."
"Akan lebih baik jika wanita itu tidak ada di dunia ini. Wajahnya buruk sekali."
Aku masih tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan cobaan seperti ini. Apa memang jodoh pernikahan kita memang sampai di sini?
"Ah sudahlah. Sebaiknya kamu merenung sampai kamu sadar kalau keputusan ini benar." Jessy beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?"
"Ada pertemuan penting."
__ADS_1
"Biar ku antar."
"Tetap duduk." Jessy mencegah Hendra yang akan beranjak." Aku bisa pergi sendiri." Imbuhnya seraya tersenyum manis.
"Aku hanya butuh waktu."
"No sayang. Kepergian ku bukan karena hal itu. Relasi ku kali ini orang yang sangat spesial. Aku harus pergi sendiri."
"Hm baik. Hati-hati di jalan."
"Ya. Sampai jumpa nanti." Setelah memberikan beberapa kecupan, Jessy melangkah keluar apartemen lalu masuk ke dalam lift. Dia turun ke lantai 4 dan berjalan menghampiri sebuah kamar.
Setelah membunyikan bel, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki. Jessy di giring masuk untuk menemui seseorang yang di sebutnya relasi.
"Sampai kapan?" Tanya si lelaki yang di ketahui bernama Elang.
"Kau fikir ini hal mudah. Jika aku salah melangkah, nyawaku jadi taruhannya." Elang menghela nafas panjang. Dia merasa tidak sabar menguasai perusahaan milik Kai melalui Jessy.
"Bukankah kau ahli merayu lelaki?"
"Tidak untuk Kai. Dia sulit tertarik. Ku rasa lelaki itu tidak normal."
"Kau saja yang tidak becus!"
"Terus saja berkata demikian. Aku tidak akan membantu mu!!" Elang tersenyum kecut sambil mengisyaratkan pada kedua anak buahnya." Apa ini?" Tanya Jessy terbata ketika dua buah senjata api siap melubangi tengkorak kepalanya.
"Bukan kau yang berhak mengancam, tapi aku!!"
"Jauhkan senjata ini. Aku sudah berhasil menguasai beberapa perusahaan nya."
"Perusahaan kecil itu! Aku ingin Xu grup menjadi milikku!!" Jessy tidak berani berkutik. Dia tengah berada di tengah dua kubu yang saling bermusuhan.
Kai tengah mencari keberadaan Elang yang ternyata dulunya salah satu dari pelaku bullying. Elang bahkan yang mempelopori pembullyan tersebut. Dia menaruh dendam pada Kai sebab ternyata dulu Ayah Kai merupakan saingan bisnis Ayahnya.
"Itu tidak mudah."
"Kau harus bergerak cepat. Jangan sampai Kai mengendus kerjasama kita sebelum kau berhasil menguasai perusahaan itu."
Sialan!! Dia fikir gampang melakukan itu!!
"Hm ya. Aku akan meminta bantuan."
"Sekarang kau pergi!" Segera saja Jessica beranjak dari tempat duduknya dengan gerakan kaku. Setelah masuk ke dalam lift dia mengumpat sejadi-jadinya karena merasa terjebak dalam ambisinya sendiri.
🌹🌹🌹
__ADS_1