
Baru saja mobil Kai terparkir di bagasi. Suara ponsel Nay terdengar berdering. Nay memutuskan untuk tidak turun dan menerima panggilan itu lebih dulu.
📞📞📞
"Ya Ca.
"Aku hamil.
Sontak mata Nay melebar mendengar kenyataan tersebut. Dia juga tidak mengharapkan itu terjadi pada sahabatnya.
"Kamu yakin?
"Aku tadi pergi ke dokter.
Suara Caca terdengar setengah berbisik sebab dirinya tengah menahan tangis.
"Jangan panik dulu. Mungkin saja itu salah. Ini masih terlalu dini Ca.
"Aku ingin seperti itu. Tapi orang tuaku sudah tahu.
"Astaga.
"Tolong Nay. Aku bingung harus bagaimana. Ayahku menuntut pertanggungjawaban sementara lelaki itu...
Tangis Caca pecah. Nay terdiam sambil terus menunggu. Kai sendiri memilih tidak ikut bicara walaupun dia sangat ingin tahu apa yang sedang Nay bicarakan.
"Kamu bisa keluar besok?
"Aku usahakan ya Nay.
"Pakai alasan pergi berkerja.
"Hm ya.
"Akan ku fikirkan penyelesaiannya. Ingat Ca, jangan berbuat nekat.
"Oke. Maaf sudah mengganggu.
"Tidak. Hubungi aku jika memang kamu ingin. Jangan merasa sendiri.
"Terimakasih.
"Sama-sama.
📞📞📞
Nay merasa takut jika apa yang menimpa dirinya akan terjadi pada Caca. Orang yang mengalami stres cenderung tidak dapat berfikir jernih seperti yang pernah di rasakannya dulu. Yang ada di otak hanya bagaimana caranya untuk mengakhiri penderitaan dan penyelesaian tercepat hanyalah bunuh diri.
"Caca hamil." Ucap Nay pelan. Merasa ikut terbebani dengan berita tersebut.
"Gugurkan saja. Tidak mungkin tikus itu mau bertanggung jawab."
"Aku juga tidak ingin dia bertanggung jawab."
"Ya sudah gugurkan saja. Besok kita akan membawanya ke dokter kepercayaan ku."
"Masalahnya kedua orang tua Caca sudah tahu. Mereka menuntut pertanggungjawaban si lelaki." Kai menghela nafas panjang. Dia turun dari mobil di ikuti oleh Nay.
"Bodoh. Kenapa dia memberitahu kedua orang tuanya." Umpat Kai lirih.
"Dia terlalu lugu bukan bodoh." Nay mencubit keras perut samping Kai yang sontak membuatnya berjingkat.
"Aku mengatai temanmu."
"Dia tidak bodoh. Prestasi nya sangat bagus. Dia hanya terlalu lugu." Kai melirik sebentar lalu tersenyum. Dia teringat soal ucapan Nay yang berusaha menjijikkan nya." Kenapa malah tersenyum Mas. Bagaimana penyelesaiannya?" Tanya Nay menuntut jawaban.
__ADS_1
"Itu masalah gampang asal temanmu tidak pemilih."
"Maksudnya bagaimana?"
"Alan memiliki banyak anak buah." Nay yang antusias langsung menghadang langkah Kai.
"Memangnya mereka mau bertanggung jawab?"
"Mereka sangat patuh."
"Tapi ini kan masalah besar Mas."
"Mereka bahkan mau mati hanya untuk menjaga nama baikku. Apa menurutmu bertanggung jawab atas janin itu merupakan masalah besar?"
Nay tersenyum merekah lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Kai. Beberapa kecupan dia hadiahkan padahal keduanya belum mencapai kamar.
Ingin rasanya Kai mendorong untuk menghindar mengingat beberapa ajudan berada di sana. Tapi keinginan itu dapat di tahan. Dia lebih memilih menahan rasa malu daripada harus meruntuhkan perasaan Nay.
"Alan!" Teriak Kai saat menyadari Alan berbalik badan dan memilih pergi.
"Mungkin besok saja saya berbicara Tuan." Jawab Alan tersenyum simpul. Dia tidak ingin menganggu kegiatan manis di hadapannya.
Nay menghela nafas ketika menyadari keadaan sekitar. Dia lupa diri karena terlalu senang.
"Aku ingin membunuh mu! Apa kau siap!" Kai berjalan mendekat dengan wajah garang. Keteledoran yang terjadi tadi siang membuatnya bersikap seperti sekarang.
"Saya siap Tuan." Kai mengeluarkan senjata lalu menodongkannya ke wajah Alan.
"Bagaimana dengan janji mu Mas." Cegah Nay merasa panik. Padahal kejadian seperti sekarang kerapkali terjadi ketika Alan melakukan kesalahan.
"Lakukan kesalahan lagi! Maka kau akan benar-benar ku bunuh!" Alan tersenyum seakan menikmati. Kai menurunkan tangannya lalu kembali menyimpan senjatanya sehingga Nay bernafas lega.
"Jasad Devan sudah saya urus."
"Berapa banyak anak buah mu yang lajang." Kening Alan berkerut mendengar pertanyaan konyol Kai.
"Jawab saja." Kai duduk, di ikuti oleh Nay.
"Banyak Tuan."
"Kumpulkan mereka besok."
"Apa ada masalah?" Tanya Alan bingung.
"Untuk bertanggungjawab atas kehamilan Caca." Sahut Nay menjelaskan.
"Teman Nona?"
"Hm ya. Kamu keberatan?"
"Sama sekali tidak Nona. Besok saya akan mengumpulkan data mereka. Sangat tidak mungkin jika mereka semua saya datangkan ke sini."
Nay bernafas lega ketika melihat mimik wajah Alan yang terlihat biasa saja. Itu berarti tugas tersebut tidaklah berat sehingga permasalahan Caca bisa di selesaikan sementara waktu.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya...
Jessy terkejut melihat Erik duduk di ruangan pribadinya. Biasanya ruangan tersebut hanya boleh di masuki oleh dirinya tapi dengan lancangnya Erik duduk santai di sofa seakan tengah menunggu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jessy terbata.
"Saya hanya menjalankan tugas." Jawab Erik santai.
"Tugas apa?"
__ADS_1
"Dari Tuan Kai. Sekarang perusahaan ini bukan milik anda." Jessy terkekeh lalu berjalan menghampiri Erik.
"Apa yang kau katakan?"
"Anda lupa surat perjanjian ini." Erik menyodorkan copy an surat perjanjian.
"Aku tidak berkhianat!" Jawab Jessy berteriak.
"Sebaiknya anda bicarakan dengan Tuan Kai. Saya hanya menjalankan tugas." Erik berdiri setelah membereskan berkas-berkas.
"Di mana aku bisa menemuinya?"
"Beliau datang ke PT. JACO siang ini. Permisi." Erik tersenyum simpul kemudian melangkah pergi, meninggalkan Jessy yang tengah memasang wajah geram.
Apa Hendra ketahuan? Bagaimana jika perusahaan ku benar-benar hilang!!
Kerapkali Kai mengunakan cara kotor seperti sekarang. Merampas perusahaan hanya karena alasan pengkhianatan. Dia tidak pernah perduli pada penilaian soal dirinya yang di anggap buruk.
Publik tidak akan bisa memahami pola fikir Kai. Orang yang di singkirkan sebagian besar memiliki sifat tamak dan mementingkan dirinya sendiri.
Jessy memutuskan untuk pergi. Tapi seseorang berjas rapi menghentikan niatnya. Dengan sedikit memaksa dia membawa Jessy kembali masuk ke dalam ruangan.
"Siapa?" Tanya Jessy setengah berteriak. Kekayaannya akan terancam menghilang sehingga otaknya tidak dapat berfikir jernih.
"Kai semakin pintar!!" Suara si lelaki membuat mata Jessica seketika membulat.
"Elang.." Gumamnya lirih.
"Ya aku!!" Penampilan Elang lagi lagi berbeda. Jessy sempat tidak mengenalinya." Dia membakar markas yang baru ku beli tiga hari yang lalu!" Umpatnya kesal.
Markas yang di maksud Elang adalah tempat di mana Jessy menemuinya kemarin. Tempat yang berpindah-pindah membuat Jessy selalu bertanya tentang lokasi terbaru Elang.
"Kau membunuh Hendra?" Tanya Jessy pelan. Elang terkekeh renyah lalu duduk di sofa.
"Dia tidak becus."
"Apa itu berarti kau ingin membantu ku. Bukankah aku pernah menyuruh mu menyingkirkan Hendra."
"Kau fikir kau siapa hah!!" Elang memperlihatkan tatapan menusuk." Itu peringatan untuk mu bodoh!! Kau akan bernasib sama jika kau terus saja menunda titah ku!!" Jessy berpaling, menelan salivanya kasar. Tentu saja jawaban tersebut yang di dapat sebab sejak dulu Elang sulit di ajak kompromi dan selalu mementingkan dirinya sendiri.
"Aku sudah berusaha."
"Berusaha memuaskan naffsu mu!!"
"Kau tidak tahu Kai seperti apa orangnya. Perusahaan ini bahkan sudah berpindah tangan padanya." Elang memasang wajah terkejut lalu beranjak dari tempatnya. Dia berdiri tepat di hadapan Jessy.
"Perusahaan ini?"
"Ya. Apa Hendra ketahuan berkhianat sampai-sampai perusahaan ini di ambil alih." Elang terdiam sambil tersenyum simpul." Kenapa kau malah tersenyum? Bantu aku." Jessy berharap Elang bisa membantunya untuk merebut perusahaannya kembali.
"Temukan berkas Xu grup! Akan ku berikan kau bagian 20 persen."
"Aku menyerah untuk itu." Secepat kilat Elang mencengkram rahang Jessy kasar seraya memelototinya.
"Menyerah berarti mati. Katakan jika kau ingin itu sekarang. Akan ku penuhi dengan senang hati."
Gawat!! Aku bisa mati!! Apa sebaiknya aku pergi keluar negeri.
"Aku hanya tidak mau miskin." Darah segar mengalir dari sudut bibir. Elang melepas cengkraman nya lalu membalikkan badannya menatap jendela.
"Aku akan menyokong hidupmu setelah berhasil. Paling tidak, rencanakan penculikan untuk Naysila. Aku ingin dia jadi milikku."
Elang merasa jika kelemahan Kai terletak pada Nay mengingat keduanya terlihat semakin mesrah. Bukan hal mudah menundukkan Kai yang terkenal tidak berhati dan tidak berperasaan.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Maaf jika typo bertebaran 🙏
Terimakasih dukungannya..