
Setelah sarapan pagi. Kai berniat menemui Ibu catering yang di ketahui bernama Lastri. Ucapan yang di lontarkan pada Alex bukan sekedar omong kosong. Kai berniat membebaskan Ibu Lastri dari tuduhan. Harusnya ini jadi perkerjaan Alan dan Erik. Tapi Kai ingin membuktikan tuduhannya terhadap Alex pada Nay.
Beberapa saat menunggu, terlihat Ibu Lastri keluar dengan wajah tertunduk. Baju yang di kenakan sudah berganti menjadi kostum penjara.
"Tuan dan Nyonya siapa?" Tanya Bu Lastri pelan. Dia tidak tahu menahu soal Kai.
"Aku akan membantumu keluar dari sini tapi katakan secata detail kejadian tersebut."
"Saya yakin jika sirup yang saya gunakan tidak mengandung racun. Sirup itu juga saya beli di supermarket dan bukan produksi sendiri. Tidak ada gunanya saya melakukan itu Tuan. Untuk apa saya merusak citra baik saya pada customer. Saya sangat menjaga kebersihan makanan." Kai menoleh sejenak ke arah Nay yang terlihat hanya diam. Dia yakin jika saat ini Nay merasa kasihan pada Bu Lastri.
"Itu jenis racun mematikan. Tidak mungkin berada di dalam minuman tanpa kesengajaan." Ujar Kai seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Saya mohon Tuan. Tolong saya keluar dari sini. Saya hanya seorang janda yang ingin menghidupi anak-anaknya saya. Bagaimana nasib mereka kalau saya di penjara." Bu Lastri mulai terisak sehingga Nay semakin merasa iba.
"Akan kami usaha Bu." Jawab Nay pelan. Jika Bu Lastri bebas? Bukankah Alex yang wajib menggantikan?
Setelah berbicara selama setengah jam. Kai dan Nay terlihat kembali masuk ke dalam mobil. Kini keduanya menuju sebuah tempat pertemuan tertutup. Kai ingin melakukan negosiasi dengan Sapto agar masalahnya bisa di luruskan.
"Aku masih tidak yakin jika Alex pelakunya Mas. Bisa saja orang lain." Melihat keramahan dan kebaikan sikap Alex, membuat Nay sulit percaya kalau Alex berbuat sekejam itu.
"Aku tidak mau memaksamu untuk percaya. Aku hanya sedang menunjukkan bukti jika apa yang kamu lihat adalah cover untuk menutupi kebusukan."
"Hm. Kalau gagal bagaimana Mas? Kasihan Bu Lastri kalau harus mendekam di penjara."
"Selalu ada opsi lain Nona." Sahut Alan cepat.
"Apa itu Al?" Tanya Nay penasaran.
"Nanti Nona juga akan tahu."
Tentu saja pilihan lain sudah di rencanakan sebab Kai tidak mungkin ingin kalah dari seseorang yang di anggapnya musuh. Berapapun biaya rela dia keluarkan, asal perbuatannya bisa membuat lawan mainnya kecewa berat.
__ADS_1
Setibanya di lokasi. Kai melihat beberapa ajudan Sapto berjaga-jaga. Lokasi yang di datangi merupakan tempat yang di peruntukan untuk pertemuan tertutup.
"Kamu di bebaskan ikut bicara." Pinta Kai pelan." Tapi diam lebih baik." Imbuhnya lagi.
"Hm Mas." Sepertinya orang penting. Tempat apa ini?
Sambil berjalan menuju ruangan, Nay mengedarkan pandangannya ke tempat yang di anggap nya aneh. Lokasi yang berada di sebuah komplek perumahan namun terlihat tidak berpenghuni.
Di dalam ruangan. Seorang lelaki berperawakan kurus tengah menunggu. Di kanan kirinya berdiri dua ajudan yang bersikap selayaknya robot. Tidak bergerak dan hanya menatap lurus ke depan.
"Oh lama tidak bertemu Tuan Kai." Dengan hangat Sapto menjabat tangan Kai juga Nay. Lelaki paruh baya itu senantiasa menghormati Kai padahal umurnya jauh lebih tua dan terpaut puluhan tahun.
"Saya tidak ingin basa basi. Kasus keracunan itu melibatkan saya sehingga saya ingin mengusutnya sampai tuntas." Sapto tersenyum simpul. Sebelumnya Alex sudah memberikan kabar perihal kecurigaan Kai.
"Kasus di tutup Tuan. Tersangka merupakan pemilik catering yang lalai."
"Saya tadi bertemu dengannya. Dia berkata tidak merasa melakukannya."
"Mana ada maling yang mengaku."
"Anda bicara apa Tuan. Saya tidak pernah menerima dana seperti itu. Harta saya tidak akan habis tujuh turunan."
"Saya tahu ini adalah tahun terakhir anda menjabat sebagai Jenderal. Saya tidak menyangka jika hal itu membuat anda membela seseorang yang bersalah." Tentu saja ucapan Kai membuat Sapto tersinggung.
"Itu sesuai dengan penyelidikan." Jawabnya menyangkal.
"Anda sudah menghancurkan usahanya orang lain yang tidak bersalah. Akibat dari perbuatan anda akan membuat anak-anak dari si pemilik catering terlantar. Bukankah anda tahu bagaimana watak saya ketika melihat itu? Apalagi kasus ini melibatkan saya. Fikirkan lagi penawaran yang saya berikan."
Dengusan kasar terdengar berhembus. Sapto tidak ingin di sebut buruk apalagi harus mengakui suntikan dana yang sudah di terima dari Alex. Sesuai tebakan, apa yang di katakan Kai benar adanya. Meski dana pensiun tetap Sapto dapatkan. Tapi itu semua tidak dapat memenuhi kehidupan glamor dari Istri dan anaknya.
"Anda sudah mencemarkan nama baik saya!" Ucapnya seraya berdiri. Menunjuk kasar ke wajah Kai.
__ADS_1
"Uang bisa meruntuhkan kejujuran."
"Saya berkata yang sebenarnya! Kasus itu murni akibat kelalaian si pemilik catering! Dia juga hanya di hukum selama satu tahun!!"
"Racun itu tidak bisa terbentuk meski kemasan sirup kadaluarsa. Menurut anda saya percaya dengan itu? Dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah melibatkan pihak kepolisian. Inilah alasannya." Nay menghela nafas panjang. Perdebatan terasa memanas sehingga dia memilih duduk diam.
"Tidak berguna saya hadir di sini!"
"Hm kehadiran anda memang tidak berguna dan membuang waktu saya." Jawab Kai tersenyum kecut.
"Anda akan menyesal sudah melakukan ini."
"Saya tunggu ancaman anda. Saya akan melihat apa yang bisa anda lakukan pada saya."
Tentu saja Sapto menciut nyalinya. Di tahu jika Kai bukan orang sembarangan. Itu kenapa Sapto memanfaatkan perdebatan untuk melarikan diri dari sana daripada harus terlibat lebih dalam lagi dan membahayakan nyawa keluarganya.
"Sialan!!" Umpatnya berjalan keluar di ikuti oleh dia ajudan.
Kai menghembuskan nafas berat. Penawarannya tidak di terima sehingga opsi lain terpaksa di lakukan. Kai merasa ikut bertanggungjawab sebab tujuan utama Alex adalah membunuh dirinya.
"Kamu masih percaya dengan orang seperti mereka Baby? Kepolisian sudah di pimpin orang yang tidak jujur. Bagaimana dengan anak buahnya. Apa kamu memahaminya? Tidak semua orang munafik tapi jika mereka di ancam, menurut mu bagaimana?" Nay hanya terdiam dan tidak bersuara." Mau tidak mau mereka harus mau tunduk. Kehilangan perkerjaan dan pembantaian pada keluarga akan menjadi ancaman. Itu kenapa aku selalu bertindak sendiri. Memuakkan sekali melihat orang semacam mereka." Kai berdiri lalu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Nay.
"Terus bagaimana nasib Bu Lastri Mas?"
"Selalu ada jalan. Dia akan bebas besok pagi." Nay terlibat tersenyum. Dia turut merasa bahagia dengan kebebasan Bu Lastri.
"Secepat itu?"
"Hm ya. Erik dan Alan akan mengurusnya."
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
"Kecurangan wajib di balas dengan kecurangan agar orang yang menyuruh merasa bahagia karena kegagalan rencananya." Kai mulai membayangkan bagaimana kesalnya wajah Alex jika rencananya menjadi berantakan. Sengaja Kai tidak menyebutkan nama sebab dirinya yakin kalau Nay belum sepenuhnya percaya.
🌹🌹🌹