Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 55


__ADS_3

Setelah mendapatkan pembalut, Nay berjalan ke toilet yang letakkan di belakang. Kai sengaja di suruh menunggu pada tempat duduk di depan. Menurut Nay, sesuatu yang akan di berikan sangat sensitif sehingga mau tidak mau Kai menuruti permintaannya agar si wanita tidak malu.


Setibanya di dalam, Nay menatap ke arah belakang. Terdapat pintu tembusan yang bertujuan menggampangkan para tamu keluar masuk. Cukup mencurigakan namun Nay tetap melangkah untuk mencari keberadaan si wanita.


"Nona. Kamu di bilik mana?" Teriak Nay mengecek satu persatu bilik." Saya membawa pesanan mu." Imbuhnya menjelaskan.


Nay terpekik ketika sebuah benda keras menempel di punggungnya. Sontak saja langkahnya terhenti seraya melirik ke sosok bertudung di belakangnya.


"Ikut aku jika kamu tidak ingin isi perut mu keluar." Ancamnya berbisik. Benda keras tersebut merupakan ujung senjata api.


Nay mengikuti apapun perintah si penodong tanpa berprotes. Dari jauh terlihat Hendra berdiri di bawah sebuah pohon bersama si wanita.


Berarti Mas Hendra berkerja sama dengan Elang? Tega sekali dia melakukan ini padaku .


"Aku tahu siapa yang menyuruh mu." Tebak Nay pelan. Keadaan di sana sangat sepi sebab para pengunjung lebih suka menggunakan kamar mandi dalam kamar.


Sudah bersarang di otak Nay jika Elang lah pelakunya. Kai pernah membahas soal kecurigaannya pada Jessy yang pasti berhubungan dengan Hendra.


Yang terlihat juga sesuai ucapan Kai. Elang hanyalah seorang pengecut dan tidak berani mengambil resiko. Dia selalu bersembunyi di balik anak buahnya karena rasa takutnya akan kematian.


"Oleh karena itu Nona harus jadi penurut. Saya hanya menjalankan tugas."


Dengan gerakan cepat Nay menyikut perut si lelaki bertudung lalu membalikkan tubuh. Di tangannya sudah terdapat senjata yang di ambilnya dari balik dress-nya.


"Kau terkejut? Jatuhkan senjata mu." Pinta Nay tersenyum simpul. Menatap ke lelaki bertudung yang kini tidak berkutik." Jatuh kan atau nyawamu akan ku habisi!! Menurutmu Tuan mu akan menolong? Kau tidak berharga baginya." Meski Nay tidak yakin akan mengenai sasaran. Tapi mengatasi hal genting seperti sekarang membutuhkan keberanian meskipun terbesit rasa takut.


Duuuuppppp


Si lelaki seketika terkulai saat sebuah peluru menembus kepalanya. Nay menoleh ke arah kanan dan mendapati Kai berdiri tidak jauh darinya.


Pandangannya beralih pada sebuah pohon di mana Hendra berdiri. Sosok itu kini sudah menghilang bersamaan dengan sebuah mobil hitam yang melaju kencang.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa tidak berteriak?" Ujar Kai panik. Menatap sekitar yang hanya ada tanah lapang dan sebuah jalan yang bisa di lalui satu arah.


"Dia menodong ku." Jawab Nay duduk berjongkok. Kai merebut senjata dari tangannya dan menyimpannya. Aku tidak menyangka jika ini lebih menegangkan daripada saat latihan.


Tentu saja tubuh Nay terasa lemas, meskipun tadi dia mencoba untuk berani. Senjata itu terasa asing di tangannya walaupun dia sempat berlatih bersama Kai dulu.


"Lewatlah area belakang. Di sini tidak ada CCTV." Kai berbicara lewat panggilan telepon agar si lelaki bertudung bisa di amankan. Semua itu di lakukan karena Kai tidak ingin ada campur tangan polisi." Sudah ku katakan jika wanita itu mencurigakan. Untung saja aku ke belakang." Kai mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Nay.


"Tidak apa Mas sebagai latihan." Kai menghela nafas panjang ketika menyadari tubuh Nay bergetar. Dulunya dia pernah berada di posisi tersebut. Takut, bergetar tapi lambat laun dia mulai terbiasa bergumul dengan senjata dan darah


Tidak perlu menunggu waktu lama. Satu menit kemudian sebuah mobil berhenti. Empat orang keluar dari mobil itu lalu menyeret mayat si lelaki dan memasukkannya ke mobil.


Kai kembali memastikan tidak ada mata CCTV yang melihat. Setelah aman, dia mengiring Nay berjalan menjauh dari lokasi menuju pusat keamanan yang letaknya cukup jauh.


Tentu saja kejadian itu membuatnya marah. Keamanan yang di lakukan Alan hanya sebatas area luar sebab privasi dari para tamu.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Sangat jarang orang mengunakan area toilet belakang. Itu kenapa tidak ada CCTV yang memantau di sana." Ujar kepala keamanan. Melihat keadaan Nay yang ketakutan membuatnya percaya pada laporan Kai soal penganiayaan dan pelecehan.


"Untuk apa kami membayar mahal di sini! Kalian tidak becus sampai-sampai membuat Istriku hampir menjadi korban!!" Kai menunjuk kasar para lelaki berpakaian serba hitam tersebut. Nay menghela nafas panjang. Mengingat pakaian lama Hendra yang dulu di ini kenakan ketika masih menjadi scurity.


Tega sekali kamu Mas. Kenapa kamu masih mengusik kehidupan ku padahal aku ingin melupakan semua perlakuan buruk mu. Apa kau sedang berada di bawah tekanan atau kau melakukan ini hanya untuk mencapai kesenangan mu?


Braaaakkkkk!!


Seketika Nay berjingkat ketika Kai mengebrak meja sambil menunjuk kasar. Bola matanya hampir keluar dengan memasang ekspresi geram.


Rupanya para keamanan berusaha membela diri. Mereka tidak secara langsung menyalahkan dirinya juga kemarahan Kai yang berlebihan.


"Bukan seperti itu maksud kami."


"Panggil kepala keamanan kalian! Aku ingin bertemu!"


"Baik Tuan sebentar."


Sementara salah satu scurity menelfon. Pandangan Kai beralih pada Nay yang sejak tadi memilih diam. Kejadian tadi membuat Nay semakin percaya jika dirinya tidak bisa memiliki kebebasan untuk berpergian.


Perlahan, tangan kanan Kai menyentuh punggungnya lalu mengusap-usapnya lembut meski tidak ada ucapan yang terlontar. Kai tengah menahan diri untuk berkata kasar pada Nay sebab emosi tengah mengoyak fikirannya.


Lima belas menit kemudian. Seorang lelaki paruh baya datang. Dia merupakan kepala keamanan di hotel. Salah satu scurity membisikkan sesuatu pada si lelaki paruh baya yang tengah memperlihatkan wajah gelisah.


"Maaf atas keteledoran anak buah saya Tuan Kai." Ternyata lelaki itu sangat mengenal Kai sebab dirinya merupakan mantan polisi yang sudah pensiun.


"Minta maaf."


"Tapi Pak kami."


"Ku bilang minta maaf!!" Pintanya membentak.


"Baik. Kami minta maaf atas keteledoran kami Tuan." Padahal tadi sudah! Lelaki ini saja yang terlalu banyak berputar-putar.


"Pasang CCTV di area belakang. Untung aku masih menghormati mu." Ucap Kai seraya menatap si ketua scurity.


"Saya minta maaf atas nama anak buah saya Tuan. Nanti ide itu akan saya bicarakan pada pemilik tempat ini."


"Hm." Nay berdiri, sempat tersenyum sejenak sebelum keluar dari pos penjagaan.


"Tadi kami sudah minta maaf Pak." Celoteh scurity yang merasa jika kau terlalu berlebihan.


"Ya terus saja melawan jika kau ingin di bantai berserta keluarga mu." Seketika senyum para scurity berubah canggung.


"Maksud Bapak apa?"


"Jika lelaki lelaki itu menyewa tempat ini, kalian harus mengetatkan penjagaan. Dia bukan orang sembarangan."

__ADS_1


"Memangnya dia siapa?" Tanyanya merasa penasaran.


"Kalian tidak perlu tahu siapa lelaki itu. Kalau terlibat masalah dengannya, akan lebih baik kalian diam. Aku akan menghubungi Pak Doni untuk membicarakan pemasangan CCTV tambahan." Ujar si kepala scurity berjalan keluar ruangan.


.


.


.


.


Di kamar, Nay masih terlihat merenung setelah kejadian tadi sementara Kai tengah mengumpat pada Alan melalui telepon. Keteledoran kembali terjadi sampai-sampai Nay hampir di culik. Bukan tanpa alasan Nay memilih diam. Selain terkejut, dia juga tengah menimbang atas keterlibatan Hendra.


"Seharusnya tadi bidik kepalanya langsung." Nay menoleh seraya tersenyum tipis.


"Rasanya lebih menegangkan daripada latihan Mas. Aku juga takut ada yang melihat. Bukankah nantinya aku di sebut pembunuh."


"Senjata api ini sudah di lengkapi peredam suara." Kai mengeluarkan senjata api milik Nay dan meletakkannya di atas meja. Nay meliriknya seraya menghela nafas panjang.


Apa sosok hitam yang menyayat leher Mas Hendra adalah Kai? Apa harus ku sembunyikan atau berkata jujur saja?


"Untuk masalah pihak berwajib. Itu bukan masalah besar." Kai membaca kebimbangan dan ketakutan yang terpatri pada wajah Nay." Apa yang tengah kamu sembunyikan." Tanya Kai tegas.


"Bukankah kamu tahu aku sering bermimpi buruk Mas."


"Ya mimpi apa?"


"Hendra." Kai mendengus sambil menyadarkan punggungnya.


"Dia terlibat?" Tanya Kai tidak merasa terkejut.


"Mungkin saja kamu adalah sosok hitam yang membunuh Hendra." Kai malah terkekeh renyah. Menurutnya, Hendra bukanlah orang yang penting selama dia tidak merayu Nay.


"Hm ya. Jika seandainya tadi aku tahu. Tapi ku rasa nyawanya bukan milikku sekarang." Nay kembali menoleh dengan wajah bertanya-tanya.


"Kenapa begitu?"


"Pengecut itu mungkin sudah membunuhnya." Nay menelan salivanya kasar. Kembali menatap lurus ke depan sambil menikmati pemandangan danau.


Kalau yang di katakan Mas Kai benar. Apa ini buah pengkhianatan yang akan dia tuai?


🌹🌹🌹


Maaf jika ada typo 🙏


Terimakasih dukungannya 🥰🌹

__ADS_1


__ADS_2