
Di dalam ruangan pribadinya. Kai dan Nay menikmati makan siang sebelum pergi ke proyek baru yang letaknya cukup jauh. Harus menempuh waktu satu jam untuk bisa sampai di sana.
Entah Nay harus bahagia atau bersikap seperti apa. Menanggapi pembelaan semu yang di lontarkan Kai. Sebab ketika sedang berdua seperti saat ini, Kai masih saja bersikap dingin.
"Kenapa Tuan melanggar aturannya?" Tanya Nay sambil mengunyah pelan.
"Kau tidak akan ku ceraikan. Jadi aku ingin mematahkan harapan lelaki itu."
"Harapan apa?"
"Untuk kembali."
"Mustahil." Jawab Nay singkat. Setelah tahu rasa makanan, dia hanya mengaduk-aduknya." Tidak berguna melakukan itu. Aku saja sebenarnya tidak ingin menyapanya apalagi melihat wajahnya." Imbuhnya lirih.
"Tunggu sampai aku menemukan pengganti Han."
"Tidak apa. Aku menganggap semua ini bagian dari perkerjaan ku." Nay merasa senang memiliki kegiatan daripada harus berdiam diri di rumah.
Wanita ini belum juga paham jika aku menginginkan dia.
"Terus bagaimana niatmu untuk mengajariku menjadi lelaki idaman wanita incaran ku." Nay menegakkan kepalanya seraya tersenyum.
"Berarti sudah ada." Tanya Nay antusias sementara Kai memasang wajah malas.
"Hm." Kai hanya menjawab dengan bergumam.
"Aku ingin tahu seperti apa wanita itu?"
Ada di hadapan ku.
"Kau akan tahu nanti."
"Kenapa Tuan tidak menikah dengan dia saja?"
"Di rahim mu ada anakku!!!" Jawabnya kasar. Ingin berteriak nyaring di telinga Nay akan kebenaran perasaannya tapi semua masih tertahan di kerongkongan.
"Ish! Itu adalah poin terpenting. Jangan bicara kasar pada wanita." Perkataan Nay tidak kalah ketus. Makanan miliknya di geser menjauh.
"Lebih baik kasar tapi setia daripada lembut tapi pintar membual."
"Ya itu memang benar. Namun kamu tidak bisa menyamakan apa yang kamu fikirkan dengan apa yang mereka fikirkan. Kalau Tuan tidak bisa saling menghormati jangan berharap akan ada seorang wanita yang bisa bertahan." Kai terdiam seraya berpaling." Wanita hanya perlu di hargai, di sayangi juga di berikan tempat ternyaman di hati maupun di rumah. Itu menurut versi ku. Jadi Tuan harus belajar lebih lembut dalam berucap. Jangan berteriak-teriak ketika berbicara." Imbuhnya menjelaskan.
"Aku memang seperti ini. Tapi aku tidak mungkin melukai wanita yang ku cintai."
"Kalau Tuan masih bersikukuh. Lebih baik tidak perlu menjalin hubungan sebab aku yakin jika wanita itu akan lari." Kai menghela nafas panjang. Penjelasan Nay hampir sama dengan ucapan Alan." Tapi ada juga wanita yang tidak perduli pada kehangatan sebuah hubungan. Dia hanya memikirkan harta dan jabatan. Mungkin wanita seperti itu cocok untuk Tuan." Sontak Kai menoleh ke Nay dan menatapnya tajam.
"Lalu dia akan membunuh ku hanya untuk menguasai harta ku!!" Nay terkekeh kecil melihat wajah serius Kai. Lelaki di hadapannya terkadang bertingkah konyol.
__ADS_1
"Itu hanya bayangan mu saja Tuan. Wanita seperti itu akan bertahan selama harta Tuan tidak habis."
"Aku suka tipe wanita yang pertama." Nay mengangguk-angguk.
"Itu tandanya Tuan harus bisa berkata lebih lembut."
"Hm. Aku akan berusaha." Kai melihat makanan Nay yang masih utuh namun berantakan." Kenapa tidak kamu makan?" Tanyanya pelan.
"Rasanya tidak sesuai selera. Mungkin aku makan roti saja untuk mengganjal perut sampai nanti pulang."
"Makanan di kantin memang kurang enak." Kai ikut menggeser piringnya. Selera makannya kini berganti sejak dia memakan sajian yang di masak Nay.
🌹🌹🌹
Di ujung jalan sempit, Alan duduk santai di dalam mobil. Dia tengah menunggu targetnya yang di ketahui tinggal di sana.
Sudah sejak lama Kai memerintah Alan memburu kesembilan teman sekelasnya yang terlibat pembullyan. Tujuh di antara mereka sudah di eksekusi. Menyisakan dua orang terakhir termasuk Elang.
Sebuah motor terlihat masuk ke gang sempit yang memiliki jarak sekitar 100 meter. Hanya motor yang bisa melintas sehingga Alan memutuskan turun lalu membidik ban belakang mengunakan senjata api tanpa suara. Sontak saja motor itu oleng dan terjatuh begitupun Erik yang terlihat tersungkur di tanah.
Alan berjalan mendekat dengan kedua anak buahnya. Tiga lainnya berjaga untuk memastikan tidak akan ada warga melintas.
"Pantas saja kau sulit di cari. Ternyata kau tinggal di gang sempit ini." Sapa Alan tersenyum simpul. Erik Mendongak dengan wajah kebingungan.
"Siapa?" Tanyanya pelan.
"Kemana?" Tanyanya tidak mengerti.
"Bertemu Tuanku."
"Siapa Tuanmu." Dengan gerakan cepat Alan menodong senjata api pada punggung Erik.
"Ikuti aku jika kau tidak ingin senjata ini melubangi perutmu." Pinta Alan pelan.
"Kenapa kalian mengancam ku?"
"Jangan banyak bicara. Ikut kami." Alan mengiring Erik menuju mobil.
Aku harus kabur dan berteriak agar ada yang menolong ku.
Niat tersebut cepat-cepat di lakukan. Erik melepaskan diri lalu berusaha kabur. Terpaksa, Alan membidik kakinya sehingga Erik tersungkur di tanah sambil mengerang kesakitan.
"Aaaaaaaaaagggghhhhh tolong!!!" Teriaknya seraya mendesis.
"Sayang sekali nyawamu bukan milikku."
Kedua anak buah Alan menyeret tubuh Erik dan di masukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
Alan menunduk lalu mengambil tanah yang terdapat bekas darah dan membuangnya di parit kecil. Setelah itu, Alan menghubungi kontak anak buahnya untuk segera membawa motor milik Erik. Tujuannya agar jejak barang bukti tidak terendus sehingga pihak berwajib tidak dapat menemukannya.
"Lepaskan aku!!!" Teriak Erik meronta-ronta. Kakinya terasa panas akibat peluru yang bersarang di sana.
"Minta pengampunan pada Tuan. Aku hanya pesuruh." Jawab Alan tersenyum simpul.
Motor melaju menuju rumah Kai. Jarak tempuh hanya menghabiskan waktu setengah jam.
Setelah sampai tujuan, Erik di seret paksa masuk ke markas melalui pintu depan.
Saat pintu ruang terbuka, mata Erik terbelalak melihat Devan meringkuk di sudut ruangan dengan keadaan lemas. Tebakan buruk langsung bersarang di otak Erik. Dia takut nyawanya terenggut padahal di rumah sederhananya tengah terbaring Ibunya yang sedang sakit.
"Tempat apa ini." Gumam Erik terbata.
"Nanti kau juga tahu."
Alan tersenyum lalu menutup pintu ruangan tanpa perduli pada teriakan Erik.
"Tolong keluarkan!! Ibuku sedang sakit di rumah!!!" Teriaknya seraya menggedor.
"Percuma. Sebaiknya kau simpan tenaga untuk bertemu dengan Tuan yang agung." Erik membalikkan tubuhnya ke arah Devan.
"Kau siapa? Dan ini tempat apa?"
"Aku Devan. Ini tempat penyiksaan dan mungkin akan jadi tempat terakhir kita." Meski sekujur tubuh Devan terasa nyeri namun nyatanya dia masih bertahan hidup.
"Tidak mungkin. Bagaimana dengan nasib Ibuku."
"Percuma kau meminta pengampunan. Mereka tidak punya hati jika kau memang pernah terlibat masalah." Erik mengerutkan keningnya. Dia belum menyadari jika kenakalan remaja dulu membuatnya harus menjadi salah satu target Kai.
"Aku hanya staf biasa. Terlibat masalah apa?" Tanya Erik bingung.
"Entahlah. Mereka menculik karena aku Adik dari Elang, padahal aku tidak tahu apa-apa." Erik terdiam sambil mengingat nama yang di sebutkan Devan.
"Erlangga.. Elang?" Erik bergumam menyebut nama asli Elang.
"Erlangga prawira."
"Siapa nama orang yang di sebut Tuan?" Tanya Erik lirik.
"Kai. Kailan Putra Pratama." Sontak mata Erik melebar. Nama itu cukup melekat di ingatannya mengingat penyesalan yang muncul terlambat.
Erik mengait-ngaitkan keterpurukannya dengan perbuatannya dulu. Anak Istrinya meninggal akibat bunuh diri karena tidak sanggup mendengar hinaan atas kemiskinan mereka.
Apa dia masih menyimpan dendam padaku?
🌹🌹🌹
__ADS_1