
Elang menatap tajam lurus ke depan sementara dokter langganannya mengeluarkan timah panas dari pundaknya. Kejadian pagi ini mengoyak emosi. Seharusnya Kai tidak mudah mengetahui lokasi tempat persembunyian yang baru di belinya dua bulan yang lalu.
Rumah itu bahkan berada jauh dari pemukiman warga meski tergolong kompleks mewah. Bangunan yang ada di sekitarnya jarang di huni sebab pemiliknya para pengusaha sibuk. Mereka sering menghabiskan waktu di luar negri untuk berbisnis berserta keluarganya sehingga rumah mewah itu di biarkan terbengkalai.
"Lukanya tidak seberapa dalam Tuan." Ujar si dokter menempelkan plester untuk pengait perban.
"Kau boleh pergi!" Jawabnya setengah mengumpat.
Setelah memastikan dokter keluar ruangan. Elang berteriak nyaring untuk memanggil keempat anak buahnya. Mereka bergegas memenuhi panggilan dan berdiri sambil tertunduk.
"Bodoh kalian!!!" Umpatnya mendengus kesal.
"Maaf Tuan."
"Pasti kalian tidur sampai-sampai tidak melihat keberadaan mereka!!"
Keempatnya terdiam. Mereka memang sedikit bersantai dan tidak menyangka jika Kai dengan cepat menemukan lokasi.
"Siapa yang berjaga setelah jam 12 malam." Tanya Elang lantang.
"Saya Tuan." Dua orang lelaki mengangkat tangan kanannya seraya tertunduk.
"Bodoh!!!" Elang mengeluarkan senjatanya lalu menembak mati dua anak buahnya. Dua lainnya tertunduk dengan tubuh bergetar. Mereka takut jika peluru sampai melubangi tengkorak kepalanya." Ini adalah peringatan untuk kalian juga! Aku masih memberikan kesempatan! Kalau kalian lengah dan membuat nyawaku terancam! Nasib kalian akan sama seperti mereka!" Menunjuk ke dua mayat yang terkapar.
"Baik Tuan. Maafkan kami."
Tiba-tiba saja ponsel Elang bergetar. Dia mengambilnya dan memeriksa. Bibirnya tersungging ketika nama Caca tertera di layar.
"Bereskan mayatnya." Pinta Elang beranjak dari tempat lalu berjalan keluar.
"Ya Tuhan." Eluh salah satunya seraya menatap kedua mayat temannya.
"Sudah terlanjur No. Mau mundur juga tidak bisa. Bagaimana nasib keluarga mereka." Ujarnya setengah berbisik.
Elang terkenal sebagai Bos yang tidak memiliki toleransi. Semua anak buahnya di wajibkan patuh tanpa ada fasilitas setelah kematian mereka. Bergabung menjadi anggota sama halnya seperti mati. Itu kenapa dia sulit mendapatkan orang kepercayaan. Para anak buahnya selalu berakhir merenggang nyawa.
🌹🌹🌹
Nay yang tadinya menyambut kedatangan Kai dengan senyuman. Sontak memasang wajah terkejut ketika dia melihat noda darah di jasnya.
Awalnya Nay fikir darah tersebut berasal dari korban. Tapi saat jas di lepas, terdapat luka goresan cukup dalam.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nay seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari kotak P3K. Alan tersenyum simpul dan memilih pergi, sementara Kai membasuh lukanya di keran setelah melepas rompi anti peluru.
"Mencari apa?"
"Di mana kotak P3K?"
"Ada di markas."
__ADS_1
"Biar ku ambilkan."
"Aku bukan bocah. Ini hanya luka kecil." Nay menatap ekspresi wajah Kai yang datar. Itu menandakan kalau luka itu tidak membuatnya kesakitan.
"Mungkin aku belum terbiasa melihat noda merah itu." Eluh Nay memilih berpaling.
"Kamu harus terbiasa. Hal seperti ini sering terjadi."
"Hm."
Setelah memastikan luka bersih. Kai berjalan keluar dapur untuk mengganti baju. Nay berdiri, membereskan jas kotor Kai lalu meletakkannya ke dalam bak sampah.
Nay menghembuskan nafas berat sebelum menyiapkan sarapan pagi ke ruang makan. Tepat di saat semua selesai, Kai kembali dengan mengenakan kaos.
"Apa kamu menculik seseorang lagi?" Tanya Nay ingin tahu. Tanpa di suruh, dia menyiapkan makanan untuk Kai.
"Tidak." Jawab Kai singkat tanpa penjelasan.
"Lantas luka pada lenganmu?"
"Sangat tidak penting membahas itu ketika sedang makan." Nay duduk lemah lalu membalikkan piring miliknya.
"Oke. Aku tidak akan bertanya."
"Aku hampir mendapatkan pengecut itu." Kai mulai takut dengan ancaman halus yang kerapkali Nay lontarkan. Perlahan, dia mulai terbebani ketika Nay tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Sepagi ini?"
"Semalam kamu masuk kamar jam berapa?" Tanya Nay mengganti topik pembicaraan.
"Kenapa bertanya?"
"Apa kamu tidur di sofa?" Kai mulai curiga dengan pertanyaan Nay.
"Iya."
"Tidak serius untuk memperbaiki hubungan." Sontak Kai berhenti menguyah lalu menatap Nay dengan wajah datar.
"Aku mengerti maksud mu?"
"Kemarin malam aku ketiduran. Aku sempat menunggu mu kembali tapi mataku tidak kuat. Seharusnya semalam kita tidur satu ranjang.."
"Sa satu ranjang?" Tanya Kai mengulang. Dia menelan makanannya kasar dengan mata membulat.
"Kenapa? Apa itu terdengar aneh?"
"Ti tidak. Tapi..." Aku belum berfikir sejauh itu. Tidur satu ranjang dengannya? Bagaimana jadinya nanti?
Mimik wajah Kai berubah gelisah. Sungguh dia tidak pernah berhubungan dengan wanita satu kali pun dan sekarang Nay membicarakan soal tidur satu ranjang.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" Tanya Nay menuntut lanjutan dari jawaban Kai.
"Sebaiknya kita tidur terpisah terlebih dahulu." Nay mengangguk-angguk seraya melirik ke Kai sesekali.
Faktanya, Nay agresif pada suatu hubungan dan bukan wanita pemalu. Memang dia tidak pernah berpacaran, tapi Nay memiliki banyak teman lelaki karena sikapnya yang apa adanya.
"Berarti kamu tidak serius Mas." Kai kembali di buat terkejut dengan jawaban Nay.
"Aku serius."
"Biasakanlah untuk tidur satu ranjang." Bibir Kai bungkam. Di satu sisi dia belum siap, tapi di sisi lain dia ingin hubungan keduanya membaik.
"Aku hanya belum siap dan membutuhkan waktu."
"Terlalu lama. Permintaan itu tidak sesuai dengan caramu berkerja yang harus super cepat." Protes Nay tidak juga berhenti.
"Jika tidak cepat nyawaku bisa melayang."
"Begitupun sebuah hubungan. Jika kamu tidak bertindak cepat, maka akan mengering lalu mati." Kai tersenyum canggung dan terdiam sesaat. Ucapan Nay di anggapnya ancaman. Lelaki ini benar-benar konyol. Sepertinya aku harus lebih bisa mengawali. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu sejauh apa dia mengagumi ku.
"Itu benar." Jawab Kai pelan. Ingin mengawali namun lagi lagi dia terlalu canggung.
"Kalau aku marah, apa kamu melakukannya?"
"Hm suatu hari nanti." Kai berdiri. Dia tidak kuat harus merasakan debaran jantung yang kian kencang.
"Makanan mu belum habis. Kenapa pergi." Tiba-tiba saja Nay sudah berdiri di hadapan Kai dan hal itu sontak membuat Kai memundurkan tubuhnya sampai menyentuh pinggiran meja.
"Aku sudah kenyang. Aku akan ke markas sebentar. Hari ini aku harus ke perusahaan untuk memantau Erik." Kenapa dia bersikap seperti ini?
"Apapun kegiatan mu. Sarapan pagi itu penting. Kalau memang kamu ingin hubungan kita membaik. Hargai apapun yang ku sajikan. Ayo duduklah." Nay memutar tubuh Kai lalu memaksanya duduk kembali.
"Hm."
Dengan gerakan kaku Kai melanjutkan sarapannya. Dia baru sadar jika wanita yang di cintai tidak seperti yang di fikirkan. Tapi itu adalah keuntungan baginya sebab memang Kai tidak pandai merayu dan bersikap manis. Sehingga sikap agresif Nay dapat membantunya memulai niat yang tertahan.
"Apa nanti aku ikut bersama mu Mas?"
"Hanya sebentar lalu pulang."
"Ikannya tambah Mas." Nay meletakkan satu potong ikan ke piring Kai. Sengaja, dia mencondongkan tubuhnya agar kulitnya bisa bersentuhan dengan lengan terbuka milik Kai.
Secara reflex Kai menghindari sentuhan tersebut dan entah kenapa Nay tersenyum simpul.
Aku memang tidak sepenuhnya melupakan perbuatannya. Tapi setelah melihat kenyataan Mas Hendra sudah berkhianat jauh sebelum kecelakaan. Aku menjadi tahu arti Tuhan membelokkan takdir walaupun aku harus kehilangan Nia. Mama yakin kamu sudah tenang di sana sayang. Akan lebih baik kamu tidur panjang daripada kamu harus tahu penghianatan Ayahmu..
Masih saja Nay tidak menyangka dengan cara Hendra menutupi penghianatan. Sangat rapi dan hampir tidak terlihat. Sampai-sampai dirinya dan Nia tidak mengendus perbuatan tersebut.
Hendra selalu memperlihatkan sikap dewasa nan hangat, penuh tanggung jawab juga mengayomi. Namun kenyataannya, Hendra bukanlah figur Ayah yang baik dan cenderung pintar berbohong.
__ADS_1
Lelaki yang keras hati akan setia jika hatinya melunak. Itu yang akan ku lakukan agar Mas Kai bisa menunjukkan perasaannya untukku dan aku harap hanya untukku.
🌹🌹🌹