Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 73


__ADS_3

Kai sangat takut terjadi sesuatu dengan janin yang ada di dalam kandungan. Tapi setelah Dokter memeriksa, kandungan tidak memiliki masalah dan baik-baik saja.


"Sampel darah ini akan saya bawa untuk di teliti Tuan. Saya takut HB Nona rendah sampai-sampai tubuh nya lemah." Kai hanya mengangguk seraya memasang wajah cemas." Hasilnya akan saya kirimkan melalui email. Saya permisi." Dokter melangkah keluar setelah memberikan Nay beberapa tablet penambah darah juga vitamin.


"Selama kamu hamil, tidak perlu memasak kalau memang tubuh mu lemas."


"Aku baik-baik saja."


"Kamu pingsan. Menurut mu itu baik?"


"Itu kesalahan mu Mas." Kai menghela nafas panjang lagi dan lagi.


"Ya maaf." Jawabnya terpaksa. Aku bahkan tidak tahu letak kesalahannya ada di mana? Apa pembicaraan tadi yang membuatnya pingsan? Mustahil.


Kai tidak mengetahui tentang kondisi Ibu hamil yang terkadang cenderung aneh. Dari mulai suasana hati juga selera makan yang akan berubah 90 derajat.


"Maaf saja tidak cukup. Aku pusing melihatmu Mas." Nay memunggungi Kai yang tengah duduk di sisi ranjang.


"Terus bagaimana? Apa yang kamu inginkan."


"Entahlah. Pergi saja mungkin lebih baik daripada kau membuatku kesal." Kai tersenyum aneh. Sikap Nay semakin terlihat ganjil.


"Hm kita pergi. Datang, memberikan kado lalu pulang. Jangan ada acara mengobrol dan sok kenal." Seketika Nay membalikkan tubuhnya lalu duduk.


"Benar ya Mas."


Serius? Hahahaha ingin rasanya aku tertawa. Kenapa mimik wajahnya langsung berubah?


"Ya. Tapi sesuai aturan."


"Iya baik." Nay mengalunkan tangannya ke leher lalu mencium sekitar wajah Kai sebagai ucapan terimakasih." Biar ku panaskan masakannya." Imbuhnya akan beranjak.


"Sebaiknya kamu beristirahat."


"Masakannya pasti akan dingin."


"Tidak apa. Aku makan sebentar lalu kembali ke sini."


"Ya Mas."


Kai mengecup kening Nay sejenak kemudian beranjak pergi. Nay berbaring seraya mengusap-usap perutnya yang masih terlihat rata. Tapi perubahan pada emosi menunjukkan jika janin di dalam perutnya mulai tumbuh.


Dia sangat kuat, seperti si penanam benih. Uh sayang, kamu mulai mengendalikan perasaan Mama ya.

__ADS_1


Dokter di buat terkejut ketika dulu Kai membawa Nay ke rumah sakit. Mereka mengira jika janin sudah tidak dapat di selamatkan. Namun nyatanya, janin itu masih melekat kuat di dinding rahim.


Sementara Kai sendiri tengah menikmati makan siangnya. Rasa malas datang ke pesta berusaha di singkirkan. Tentu saja sulit sebab sudah sejak lama Kai lebih memilih menghabiskan waktu sendiri. Hanya pertemuan penting yang di hadiri, pantas saja jika saat ini Kai terbebani dengan permintaan Nay.


"Maaf Tuan. Ada tamu." Kai menoleh ke salah satu ajudan yang tengah berdiri di ambang pintu ruang makan.


"Siapa?"


"Tuan Alexander."


"Suruh dia pergi!!" Tolak Kai kasar.


"Beliau tidak mau pergi dan malah menunggu di dalam mobil."


"Alan kemana?"


"Bos tidak ada di tempat Tuan."


"Sialan!!!" Umpat Kai seraya menggeser piring kosong di hadapannya. Memiliki tamu adalah hal paling memuakkan baginya." Sudah ku katakan untuk tidak merespon! Kepala mereka akan membesar dan tidak tahu diri!!" Si ajudan hanya mampu tertunduk. Dia tahu jika sudah sejak lama rumah milik Kai tidak pernah kedatangan tamu.


Terpaksa, Kai beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah depan di ikuti oleh si ajudan. Dengan di antar mobil, Kai menuju ke pintu gerbang.


Terlihat Alex menunggu sambil bersandar pada body mobil. Segera saja dia berdiri tegak ketika menyadari kedatangan Kai.


"Aku tidak menerima kunjungan."


"Dulu Jessy keluar masuk secara bebas." Alex mengingat jika mobil Jessy pernah dengan mudah melewati pintu gerbang berpagar tinggi itu.


"Itu dulu saat aku masih membutuhkan dia! Sebaiknya kau pergi!" Tanpa basa-basi Kai mengusir Alex walaupun keduanya menjalin kerja sama dalam hal pekerjaan.


"Kalau ada Kak Nay, dia akan menyambut ku dengan baik." Braaaakkkkk! Kai mendorong kasar tubuh Alex dan memojokkannya ke body samping mobil. Tangannya mencengkram erat kerah baju Alex dengan tatapan tajam menusuk.


"Kalau saja kau bukan anak dari sahabat Ayahku! Sudah ku singkirkan kau sejak dulu! Itu kenapa kau harus menjaga sikap." Alex hanya tersenyum seakan menelan bulat-bulat kemarahan. Padahal di dalam hatinya tengah berkecamuk rasa iri dan dengki atas pencapaian yang bisa Kai raih.


"Aku tidak pernah berbuat tidak sopan Kak. Aku hanya suka dengan sikap Kak Nay yang lebih terbuka."


"Itu karena dia belum tahu berapa busuknya hati manusia!!" Alex menurunkan tangan Kai dari kerah kemejanya.


"Masih saja kamu menyebut ku begitu. Padahal aku ingin berteman dengan seseorang yang selalu jadi topik pembicaraan dalam keluarga ku."


Meski tersenyum tapi sorot mata Alex memancarkan kebencian. Dia sampai rela menghabisi kedua orang tuanya karena merasa kesal dengan pujian yang di tujukan untuk Kai.


"Mereka memujamu bak dewa khayangan. Aku ingin belajar banyak darimu, itu saja Kak." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Aku bukan guru! Untuk apa kau belajar padaku? Pencapaian mu sudah sangat bagus!"


"Tetap saja kau yang jadi nomer satu."


"Terserah! Pergi! Atau ku bakar mobil mahal mu." Umpat Kai hendak berjalan masuk.


"Titip salam untuk Kak Nay. Aku akan berkunjung lagi."


Kai terus berjalan tanpa menoleh apalagi menjawab obrolan. Sementara Alex sendiri masih pada posisi yang sama. Dia menatap ke arah pagar tinggi di hadapannya.


Kalau dia bisa ku singkirkan, aku akan mendapatkan semua miliknya termasuk Istrinya.


Memang benar jika pencapaian Kai bisa mempermudah hidupnya. Dari segi materi, sampai pengurusan surat-surat tidak pernah mengalami kendala. Seperti sebuah penopang, kekuasaan Kai berjalan di jalur bawah. Begitu kuat namun tidak terlihat.


Hanya saja resiko yang di dapatkan tidak kalah besar. Hidupnya tidak lagi bisa bebas dan di kelilingi orang-orang yang berusaha merebut kekuasaan bahkan menjatuhkan.


Dulu Han di tugaskan untuk mencium aroma kemunafikan sementara Alan bertugas mengeksekusi. Kemudahan itu di peruntukan bagi orang-orang yang tidak bervolume. Alan hanya melapor sebelum melakukan eksekusi dan jika Kai setuju, korban akan di bantai tanpa melibatkan Kai secara langsung.


Bisa di pastikan jika orang-orang yang terbunuh di tangan Kai adalah seseorang yang di anggap penting dan berbahaya.


Sosok-sosok seperti itu hampir mirip seperti Alex. Terlihat baik bahkan sangat baik namun sangat membahayakan juga mematikan.


Sambil bersenandung kecil Alex masuk ke dalam mobil. Dia merogoh ponsel di saku jasnya dan menghubungi kontak milik Jessy.


📞📞📞


"Di mana?


"Aku ada janji.


"Batalkan. Aku membutuhkan mu.


"Aku sudah terlanjur dalam perjalanan.


"Batalkan ku bilang! Atau kau mendapatkan akibatnya!!


"Ya baik. Aku pulang.


📞📞📞


Alex meletakkan ponselnya lalu melaju pergi. Hasrat gilanya tiba-tiba bergejolak. Jessy kerapkali di jadikan bahan pelampiasan naffsu ketika Alex menginginkan Nay.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2