
Alex memacu mobil cepat menuju kediamannya. Kecurigaan Nay membuatnya frustasi dan takut jika kematian kedua orang tuanya terkuak.
"Paling tidak! Aku hancurkan janin itu agar kau tidak memiliki keturunan!!" Teriaknya sambil memukul-mukul kemudi mobil.
Setibanya di rumah. Jessy di buat kebingungan akan kemarahan Alex. Wajahnya berubah sangat buruk di sertai teriakan memekakkan telinga.
Jessy cukup tahu, Alex lebih gila daripada Elang. Dengan mudahnya dia bisa menjadi orang lain dalam hitungan detik. Sikap ramah dan murah senyum akan berubah seketika dengan wajah merah padam nan buruk seperti yang di perlihatkan sekarang.
"Tenang hei Alex!! Kau sudah gila?" Teriak Jessy berusaha menghentikan Alex yang tengah mengobrak-abrik barang.
"Dasar wanita tidak berguna! Seharusnya kau membantuku bukan hanya pintar bersolek dan menjual diri!!" Jawab Alex tidak kalah buruk.
"Aku sudah memperingatkan mu. Kau akan lelah menghadapi Kai."
"Kau tahu tujuan utamaku datang ke sini apa hah!! Bagaimana aku bisa tenang sementara lelaki itu bahagia atas hidupnya!!" Menunjuk ke arah luar.
"Terus kau suruh aku berbuat apa? Aku sendiri tidak memiliki akses datang ke rumahnya."
"Singkirkan saja janin itu!! Rusak rahimnya agar Kai tidak punya keturunan!!!" Jessy tersenyum lalu menuang minuman keras dan menyodorkannya ke arah Alex.
"Minumlah, kau harus rileks." Jawab Jessy pelan. Alex meraih gelas dan meneguknya dalam satu kali nafas." Upah apa yang ku dapatkan kalau aku berhasil menyingkirkan janin itu?" Imbuh Jessy bertanya.
"Kau mau apa? Katakan?"
"Perusahaan di Utara menjadi milikku. Jujur saja jika aku ingin memiliki perusahaan seperti dulu lagi." Alex terdiam sesaat untuk menimbang keinginan Jessy. Dia menatap wanita itu lalu menghembuskan nafas berat lagi dan lagi.
"Oke baik. Sampai rahimnya rusak."
"Hanya sampai janin itu menghilang. Kau fikir mudah merusak rahim? Dan lagi, jika rahim Nay rusak bukankah itu merugikan untuk mu? Mungkin saja suatu saat dia bisa kau dapatkan."
Alex membenarkan ucapan tersebut padahal Jessy tengah memanfaaatkan dirinya agar tugas tidak terlalu berat.
"Mustahil. Dia terlihat sangat mencintai Kai."
"Tidak ada yang mustahil. Aku tahu sejarah kehidupan Nay seperti apa. Kalau kau berhasil menyingkirkan Kai, cukup memberikannya paksaan sedikit, dia pasti akan menjadi milik mu." Seakan menjadi pencerahan, Alex tersenyum simpul dan mulai membayangkan jika suatu saat Nay menjadi miliknya." Bagaimana? Deal?!" Imbuhnya mengulurkan tangan.
"Hm aku setuju." Alex menyambut uluran tangan Jessy. Keduanya tersenyum simpul dengan tangan saling menggenggam.
__ADS_1
๐น๐น๐น
Dua hari kemudian..
Alan menunjukkan beberapa informasi soal letak rumah Pak Abraham. Tidak ada kejelasan juga informasi tambahan sebab menurut para tetangga Pak Abraham dan keluarga menghilang begitu saja. Mereka beranggapan jika mungkin keluarga Pak Abraham memutuskan tinggal di Indonesia tanpa berpamitan.
"Apa tidak ada rumah lain?" Tanya Nay cukup kecewa dengan berita tersebut.
"Tidak ada Nona. Itu tempat tinggal satu-satunya. Em para pegawai yang berkerja di perusahaan juga tidak pernah melihat Pak Abraham semenjak Alex menetap di Indonesia." Kai terdiam seraya menghela nafas panjang. Sangat tidak mungkin jika Alex membawa keluarganya ke Indonesia sebab dia pernah menjelaskan soal penyakit jantung Pak Abraham.
"Terus keadaan terakhir beliau?"
"Para pekerja bilang jika Pak Abraham terlihat sehat bahkan tidak memiliki riwayat penyakit dalam."
"Apa mereka di bunuh Mas." Kai menoleh cepat lalu terkekeh kecil.
"Kalau itu terjadi berarti Alex adalah seburuk-buruknya manusia. Bagaimana mungkin dia membunuh kedua orang tuanya sendiri?" Alan tersenyum simpul seraya mengangguk.
"Saya juga menebak begitu Tuan. Entah mayat mereka berada di mana. Sejauh ini saya tidak pernah melihat Alex mendatangi tempat tersembunyi. Di hanya pergi ke rumah, perusahaan kalau tidak berkunjung ke sini."
"Ini semua belum jelas. Membunuh kedua orang tua adalah hal paling buruk."
"Mungkin itu hal yang wajar jika di lakukan orang dengan penyakit gangguan jiwa." Nay menatap lurus ke arah Alan.
"Apa maksudmu Al?" Sahut Nay penasaran.
"Alex pernah di rawat ke rumah sakit jiwa ternama yang ada di sana. Itu alasan kenapa Pak Abraham menetap di sana. Faktanya, dia ingin menjauhkan Alex dari anda." Kini tatapan Alan beralih pada Kai.
"Kenapa dengan aku?"
"Biasa Tuan. Orang tua suka membandingkan jika ada anak yang lebih baik daripada anaknya. Para mantan asisten rumah tangga bercerita jika Alex sering lepas kendali saat Pak Abraham menyebut nama anda."
Mantan asisten rumah tangga yang berasal dari Indonesia, memudahkan Alan mengorek informasi sebanyak-banyaknya dengan iming-iming uang. Itu kenapa penyelidikan berjalan mulus.
"Apa mereka sudah tidak berkerja di sana?" Alan menggelengkan kepalanya.
"Alex memecat mereka untuk alasan yang tidak jelas. Beruntung sebab masih berkerja di sekitar daerah tempat tinggal Alex sehingga kita dapat mengorek informasi ini."
__ADS_1
"Dari perbuatannya, aku sudah bisa membaca kalau Alex sedikit tidak waras." Ujar Nay pelan.
"Hm ya Nona. Sebaiknya kita bertindak cepat daripada terjadi sesuatu."
"Kalau kedua orang tuanya masih hidup bagaimana? Orang tuaku akan menangis di liang lahat." Alan terdiam. Dirinya tahu bagaimana baiknya keluarga Pak Abraham pada Kai juga kedua orang tuanya. Hubungan persahabatan yang melebihi persaudaraan.
"Aku merasa mereka sudah mati Mas." Sahut Nay seakan yakin.
Kai kembali di hadapkan dengan perasaan bimbang walaupun dia paham keselamatan Nay dan janinnya tidak bisa menunggu.
"Suruh Erik mengurus pengalihan hak milik perusahaan ABRA grup." Pinta Kai memutuskan. Dia tidak ingin mengambil resiko.
"Sedang berjalan Tuan."
"Tetap cari info. Kalau kedua orang tuanya terbukti di bunuh. Seret dia dan bawa ke markas."
"Baik Tuan." Alan berdiri seraya tersenyum simpul." Permisi." Setelah berpamitan, Alan berjalan keluar sambil menginfokan pada anak buahnya untuk tetap melanjutkan penyelidikan.
"Sedikit melelahkan hidup seperti mu Mas." Eluh Nay seraya mengusap perutnya yang mulai menonjol.
"Tidak perlu ikut memikirkannya."
"Aku terbebani melihat penampakan wajahmu ketika kesal. Bagaimana tidak memikirkannya?"
"Ya. Aku minta maaf sudah menyulitkan."
"Tidak perlu meminta maaf Mas. Aku menikmatinya. Em tolong ambilkan es krim di kulkas. Aku lapar."
Kai menghela nafas panjang. Bukan mengeluh karena perintah Nay. Tapi dia tidak habis fikir bagaimana Nay bisa bertahan hidup dengan hanya memakan es krim. Cukup aneh, namun kenyataannya soal keadaan Nay membuat keanehan itu memang ada.
Nay terlihat baik-baik saja. Hal itu di lihat dari mimik wajahnya yang berseri-seri. Meski tubuhnya kurus, tapi tonjolan pada perutnya menandakan jika janin tumbuh dengan baik.
๐น๐น๐น
Typo bertebaran..
Kondisiku belum pulih. Terimakasih dukungannya ๐คงโค๏ธ๐น
__ADS_1