
Kai menatap penuh ejekan ke arah Sapto yang kini berseragam baju penjara. Penyeludupan naarkoba dan senjata api sudah di bongkar sehingga mau tidak mau jabatan tingginya di copot secara tidak terhormat.
Sapto kurang memahami jika kekuasaan Kai sekuat juga sebesar itu sampai-sampai mampu menumbangkan bisnis gelapnya.
Dengan menahan tangis, Sapto memohon Kai untuk mengeluarkannya dari jeruji besi. Sepuluh menit sejak permintaan di lontarkan, Kai tidak bergeming dan hanya tersenyum kecut.
"Katakan sesuatu Tuan. Saya menyesal sudah menerima sogokan dari Alexander." Nay menghela nafas panjang. Kenyataan tersebut cukup membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana tidak? Sebab Alex terlihat sebagai lelaki yang ramah dan penuh senyum, ternyata tega melakukan pembunuhan besar-besaran hanya untuk menyingkirkan satu nama.
"Jadi Alex sengaja?" Tanya Nay setengah berbisik. Dia takut pembicaraannya di dengar penjaga penjara.
"Iya Nyonya. Tapi saya tidak bisa mundur. Bisa-bisa keluarga saya semakin menderita."
"Itu konsekuensinya." Sahut Kai cepat.
"Saya mohon Tuan."
"Ini bukan urusan ku. Nikmati pilihan mu sendiri."
"Saya menyesal."
"Sekali berkhianat tetap saja berkhianat." Nay menghela nafas panjang. Cukup kasihan tapi kebenaran tetap harus di tegakkan." Rajukan hanya terjadi satu kali. Saat itu aku memintamu jujur tapi kau malah tidak perduli bahkan mengabaikan kehidupan seseorang yang hancur akibat ulah kalian. Jika kau miskin, itu akan jadi pembelajaran agar kau tahu bagaimana sulitnya mencari pundi-pundi rupiah untuk keluarga mu." Kai berdiri di ikuti Nay.
"Lalu tujuan Tuan apa datang ke sini?"
"Menertawakan mu. Suruh keluarga mu meninggalkan kehidupan mewahnya. Itu satu-satunya jalan. Jangan pernah menemui ku dan mengemis. Percuma, aku tidak akan mencabut keputusan ku lagi."
Kai melangkah pergi, sementara Sapto berteriak memanggilnya. Dia hendak mengikuti langkah Kai untuk keluar namun tentu saja tidak di perbolehkan. Sapto di seret masuk dua penjaga penjara sambil meronta-ronta dan berharap Kai mau berubah fikiran.
.
.
.
Di dalam mobil. Terdengar tidak ada obrolan selama beberapa menit sebelum akhirnya Nay angkat bicara dan mengakui kesalahannya.
"Maaf Mas, aku tidak percaya dengan mu."
"Hm tidak apa. Kamu masih perlu banyak belajar untuk bisa paham." Kai memaklumi pemikiran Nay yang mungkin belum memahami kerasnya kehidupannya.
"Terus bagaimana Mas. Apa rencana mu selanjutnya?"
"Tidak tahu. Aku masih sangat menghormati kedua orang tuanya. Mereka sahabat karib kedua orang tuaku. Sebenarnya simpel Baby. Aku hanya tidak suka di usik. Untuk masalah bisnis, akan ku jalankan sesuai standar. Tapi jika sudah mengganggu serta mengusik kehidupan pribadi ku. Mana mungkin aku bisa diam." Nay mengangguk-angguk seraya menghela nafas panjang." Jangan ikut memikirkannya. Aku takut kamu sakit. Sebaiknya kita berbelanja kebutuhan mu lalu pulang." Mobil Kai berbelok ke swalayan terdekat. Keduanya turun lalu masuk ke swalayan yang terlihat cukup ramai.
Dengan cepat Nay mengambil susu hamil kesukaan lalu beralih memilih-milih es krim. Dia memenuhi keranjang dengan makanan manis tersebut juga beberapa buah-buahan segar.
"Cepat sekali." Tanya Kai ketika Nay berjalan menuju kasir.
"Rumah adalah tempat paling aman Mas. Aku ingin cepat pulang."
"Hm." Kai tersenyum simpul sambil menyelesaikan pembayaran. Setelah itu, keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan langsung berniat pulang.
Sambil menyetir, Kai memutar kiriman video dari Erik. Nafasnya terbuang kasar sambil mengantongi ponselnya ke dalam saku jas. Lagi lagi keselamatan nyawa Nay terancam padahal dia menganggap jika kematian Elang akan membuat hidup nya sedikit tenang.
__ADS_1
"Video apa Mas?" Tanya Nay seraya menikmati satu cup es krim.
"Laporan dari Alan."
"Oh."
"Apa bisa kenyang memakan itu?"
"Bisa Mas. Mau bagaimana lagi kalau dia menolak makanan berat."
"Apa tidak mempengaruhi kondisinya di dalam?"
"Ini keinginannya sendiri. Dia akan baik-baik saja." Kai tanya mengangguk seraya tersenyum simpul. Dirinya yang sudah tahu akan rencana Alex tentu merasa terbebani.
Apa ku singkirkan saja. Tapi bagaimana dengan Om Abraham? Dia sahabat karib Ayahku.
Kai masih berusaha menimbang walaupun dia ingin bergerak cepat. Meski dirinya lebih mengkhawatirkan kesehatan Nay akibat kehadiran janin tersebut, namun tidak dapat di pungkiri jika Kai menginginkan janin itu baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
Kehidupan Nay berjalan datar. Dia sering menghabiskan waktu di rumah daripada di luar. Semenjak Nay tahu kebusukan Alex, dia enggan keluar ketika Alex berkunjung. Nay lebih memilih berdiam diri di kamar sementara Kai harus mengusir Alex yang sikapnya semakin terlihat ganjil.
Seharusnya Alex memiliki rasa malu paling tidak rasa sungkan sebab kunjungannya tidak pernah di respon. Tapi rupanya ambisi sudah membuat wajahnya menebal. Dia sama sekali tidak perduli dan terus bernaffsu ingin memiliki Nay dan menyingkirkan janin di rahimnya.
Untuk kesekian kalinya, Nay membaca raut wajah Kai yang merasa terbebani ketika Alan mengabarkan soal kedatangan Alex. Ingin rasanya Kai menuntaskan kemarahannya namun tertahan oleh hubungan baik kedua orang tua mereka.
"Sudah berapa lama orang tua Alex pindah ke luar negeri Mas." Tanya Nay pelan. Kai sedang berusaha mengatur emosi sebelum keluar menemui Alex.
"Sudah lama."
"Akan lebih baik jika hal ini di bicarakan saja agar kedua orang tuanya tahu." Kai menoleh cepat lalu berjalan menghampiri Nay yang tengah duduk sambil menikmati potongan buah.
"Mereka tidak bisa datang ke sini karena sakit."
"Hubungi lewat video call. Sekarang semua serba canggih. Aku nanti yang akan membicarakan ini kalau mereka tidak percaya."
"Jadi kamu ingin menemuinya?"
"Jujur saja jika aku bosan melihatmu mengeluh. Lelaki itu tidak memiliki rasa malu. Dia sengaja datang ke sini agar kamu marah."
"Ya aku ingin membunuhnya." Nay tersenyum, dia meletakkan piring berisi potongan buah lalu memutar tubuhnya ke arah Kai.
"Beruntung sekali kamu masih memiliki hati. Orang tua memang wajib di hormati."
__ADS_1
"Mereka baik sekali padaku. Itu kenapa aku masih menimbang."
"Kali ini aku menemani mu."
"Berjanji untuk tidak berkata hal yang tidak penting."
"Aku berjanji."
Setelah melontarkan kalimat tersebut, keduanya berjalan keluar kamar untuk menemui Alex yang sudah menunggu di ruang tamu. Senyum mengembang Alex perlihatkan sebab untuk pertama kali Nay ikut menemuinya.
"Akhirnya Kak Nay ikut menemui ku."
"Senang sekali." Jawab Nay ketus, dia duduk tepat di samping Kai.
"Tentu saja. Selama ini Kak Nay yang selalu welcome padaku."
"Tidak untuk kali ini." Alex masih memperlihatkan senyum. Hal itulah yang mampu memicu kemarahan pada hati Kai.
"Masih kesal karena kasus keracunan itu?"
"Hubungi kedua orang tuamu. Aku ingin berbicara dengan mereka." Sontak senyum Alex berubah aneh. Kedua orang tuanya sudah di bunuh dan mayatnya di kubur dalam rumah yang saat ini kosong.
"Untuk apa Kak?"
"Memberitahu mereka soal kelakuan mu!" Tunjuk Nay kasar.
"Memangnya apa yang ku lakukan?"
"Aku hanya meminta mu menghubungi kedua orang tuamu. Kalau kau merasa benar, untuk apa takut?" Alex tersenyum simpul untuk menutupi ketakutannya.
"Mereka tidak bisa memakai ponsel."
"Mustahil. Bukankah Ayahmu seorang pembisnis?" Gerakan kaku pada Alex membuat Nay mencium banyak keganjilan seakan lelaki di hadapannya tengah menyembunyikan sesuatu.
"Dia sudah pikun."
"Berikan alamat rumah kalian. Aku akan berkunjung ke sana." Sahut Kai menimpali.
"Bukankah Kak Nay sedang hamil dan tidak boleh berpergian jauh?" Alex berusaha menyangkal untuk menutupi kebohongannya.
"Aku yakin janin Mas Kai sangat kuat. Katakan saja."
"Em maaf aku lupa." Tiba-tiba saja Alex berdiri dengan wajah gugup." Aku ada pertemuan setengah jam lagi. Nanti sore aku akan datang untuk membicarakan ini. Permisi." Tanpa basa-basi Alex melangkah keluar.
Tidak lama setelah itu, Alan masuk dengan raut wajah bertanya-tanya. Mimik wajah Alex terlihat bingung di sertai gugup, itu kenapa Alan ingin tahu tentang apa yang terjadi.
"Cari tahu soal tempat tinggal Pak Abraham." Pinta Kai segera. Bukan hanya Nay, dirinya juga mengendus sesuatu yang ganjil.
"Kenapa tiba-tiba Tuan?"
"Ada yang di sembunyikan lelaki itu."
"Hm baik. Secepatnya akan saya kumpulkan info sebanyak-banyaknya." Jawab Alan tegas. Meski terdengar sulit, sekalipun Alan tidak pernah menolak perintah dari Kai.
__ADS_1
Dengan cekatan, Alan mulai menghubungi kontak-kontak orang yang di butuhkan agar pencarian lokasi cepat mendapatkan titik temu.
🌹🌹🌹