Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
101. Sepenggal kisah terlupakan.


__ADS_3

"Pemanas airnya mati, aku panasin air di kompor ya?" Erina baru saja selesai mandi, ia menyadari jika pemanas airnya mati dan ingin membantu Ditya memanaskan air.


"Nggak usah Rin, aku lebih suka mandi air dingin."


Pesta pernikahan mereka baru selesai pukul sebelas malam, tentu saja lelahnya tidak terkira tetapi ya tentu mereka puas.


"Tapi dingin banget loh, aku aja abis manasin air tadi."


"Udah biasa, aku mandi dulu ya."


Ditya meraih sebuah handuk lalu berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Erina mulai mengeluarkan pengering rambut dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu ia memakai serangkaian perawtan wajah agar terlihat lebih menawan tak lupa ia menyemprotkan parfum kesukaannya juga.


Ini adalah malam pengantin mereka, tentu saja Erina ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Ditya.


Setelah merasakan semuanya sudah sempurna, Erina bergegas mengganti bathrobenya dengan sebuah dress cantik yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Aku akan memberikan yang terbaik."


Tidak begitu lama Ditya keluar dari kamar mandi, tubuh lelaki itu yang hanya dibaluti oleh handuk di bagian bawah pun berhasil membuat Erina tersipu, bagaimanapun bentuk badan indah itu sangat menggoda. Terlebih untuk Erina, wanita dewasa yang tidak pernah mendapatkan sentuhan.


Ditya mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos putih dan juga celana pendek.


Drttt... Drttt...


Ponsel Ditya di nakas tiba-tiba saja berbunyi.


"Ada yang telfon, Dit."


"Dari siapa?" ucap Ditya yang masih sibuk menyisir rambutnya di depan cermin.


"Nomornya nggak dikenal sih."


Ditya menghampiri Erina, meraih ponselnya dan memamg benar nomor itu tidak dikenal. Dengan segera ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Hallo."


Tidak ada jawaban dari sebrang membuat Ditya mengernyitkan dahinya.


"Hallo, dengan siapa ya?"


Masih tidak ada jawaban, tentu saja Ditya kesal dengan orang yang menelponnya ini.


"Maaf saya tutup teleponnya ya jika tidak urusan."


"Hai Dit, masih inget aku nggak?"


Deg,


Suara itu begitu tidak asing ditelinga Ditya, suara yang mampu membuatnya kembali lagi ke masa-masa mudanya. Suara itu adalah milik seseorang yang sudah ia lupakan, ah sebenarnya tidak lupa juga juga tetapi masalah ini begitu rumit.


Ditya tidak mampu mengeluarkan kalimatnya, ia terdiam dan jujur saja lidahnya menjadi kaku.


"Ditya."


"Ada apa? Dan siapa emangnya yang telepon?" melihat perubahan wajah Ditya tentu saja Erina harus bertanya. Tidak biasanya Ditya menampilkan ekspresi seperti itu.


"Dit, kamu masih disana kan?"


Ditya tidak lagi menjawab pertanyaan itu, kini ia sudah berlari tunggang langgang pergi darisana.


"Ditya kamu mau kemana?"


Bahkan pertanyaan itu sama sekali tidak dijawab oleh Ditya, lelaki itu sudah menghilang dibalik pintu.


"Ditya!"


Erina juga ikut berlari mengejar Ditya, ia tidak tahu siapa yang menelpon suaminya hingga membuatnya berlari pergi seperti ini. Ia hanya takut jika ada sebuah kabar tidak mengenakan.


Saat sampai di halaman Ditya sudah menaiki mobilnya, mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan Erina yang sudah terlambat.


"Sebenarnya ada apa?"


"Ngapain kamu?" mama muncul dari dalam dengan kedua lengan yang dilipat di dada.


"Itu Ditya tiba-tiba pergi, nggak bilang apa-apa tapi dia kaya buru-buru gitu, Ma. Kira-kira ada apa ya?"


"Paling urusan kantor, tapi kasian banget ya di malam pertama kamu ditinggalin karena pekerjaan. Kasian banget deh."


Jangan lupakan jika mama sangat membenci Erina. Dengan tatapan mengejekanya mama meninggalkan Erina.


Erina mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Ditya, tetapi nihil lelaki itu sama sekali tidak menerima panggilannya.


Tentu saja perasaanya campur aduk, ini adalah malam pernikahan mereka, malam yang seharusnya digunakan untuk saling memadu kasih dan berbagi cinta tetapi Ditya malah pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Mungkin memamg urusan kantor yang mendadak, aku harus bisa mengerti."

__ADS_1


Sebisa mungkin Erina tidak ingin marah, bagaimanapun ia harua bisa mengerti Ditya, dan itulah salah satu perubahan dirinya yang sekarang tidak lagi mudah marah.


***


Angin malam menerbangkan juntaian lampu-lampu kecil yang menerangi jalan setapak. Kanan dan kiri jalan itu hanyalah ilalang tinggi dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning yang jumlahnya lumayan banyak.


Langkah itu dengan cepat membelah dinginnya malam, tidak peduli lagi dengan kakinya yang basah karena beberapa kali bersentuhan dengan ilailang di samping jalan setapak.


Sampai di ujung jalan ada pohon dengan dibawahnya sebuah kursi besi panjang yang sudah berkarat, meski hanya dengan penerangan lampu kecil, terlihat jika kursi itu sudah berkarat menandakan sudah disana sangat lama dan tidaklah terawat.


Kedua tangan Ditya bertumpu pada lutut, mengatur nafasnya yang memburu. Wajahnya juga penuh dengan peluh.


"Kok kamu tau kalau aku pergi ke tempat ini?"


Seorang wanita dari balik pohon mendekat, senyumannya sangat manis hingga mampu membuat dunia Ditya terasa berhenti.


Dia?


Mengapa dia baru datang sekarang saat dirinya baru saja menikah?


Wanita itu meraih lengan Ditya, mengajak lelaki itu duduk di kursi panjang yang berkarat tadi.


"Kursi ini udah kelihatan tua banget, tapi masih kuat buat kita dudukin."


Sekali lagi, Ditya sama sekali tidak mengeluarkan kalimat apapun, ia masih tidak percaya dengan orang yang saat ini duduk di sampingnya.


"2973 hari."


Ditya menatap wanita itu dengan kedua alis bertaut, tanda tidak mengerti.


"Itu jumlah hari kita nggak ketemu, singkatnya udah depalan tahun lebih tiga bulan."


Ditya tidak menjawabnya kini pandangannya lurus ke arah wanita itu, ia masih tidak percaya dengan apa yang saat ini tengah terjadi.


"Aku daritadi kaya kumonikasi searah deh, kaya ngomong sama angin."


Greb,


Sebuah pelukan yang sangat erat dari Ditya, lelaki itu menyembunyikan wajahnya di bahu wanita itu hingga tanpa sadar air matanya menetes.


"Aku kira kamu udah nggak akan kembali."


"Mana mungkin aku meninggalkan orang yang begitu berarti untuk aku."


#Flashback


"Selina."


Wanita dengan seragam penuh dengan coretan itu menghampiri lelaki yang baru saja memanggilnya, senyuman mengembang itu semakin lebar saja.


"Udah?"


"Belum, kamu harus kasih tanda tangan juga di seragam aku."


Wanita bernama Selina itu menyerahkan sebuah spidol agar lelaki itu segera membubuhkan tanda tangannya di seragamnya.


Keluulusan bagi siswa sekolah menengah atas adalah momen yang sangat penting, umumnya selalu dirayakan dengan coret-coretan baju seragam hingga tak berupa.


"Udah. Yaudah yuk pulang aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Eh tunggu, Dit. Aku ada sesuatu."


Sebuah dokumen itu kini beralih ke tangan Ditya, tetapi dapat membuat wajah lelaki itu langsung berubah.


"Lomonosov Moskow State Univercity?"


Selina mengangguk, dengan senyuman di wajahnya yang begitu manis.


Pantas saja akhir-akhir ini Ditya selalu melihat Selina begitu keras belajar bahasa Rusia, Ditya selalu bertanya mengapa ia sangat ingin belajar tetapi Selina selalu menjawabnya dengan ingin menambah bahasa baru yang ia tahu. ternyata ini alasan yang sebenarnya.


"Ke Rusia?"


Selina mengangguk.


"Aku tau cita-cita kamu, tetapi kenapa harus Rusia? Disini juga ada universitas kemanusiaan kan?"


"Kamu harus tahu satu hal, ini adalah cita-citaku, aku pangen nanti keliling dunia untuk membantu banyak orang yang berada dalam ketidakadilan. Pergi ke negara tertinggal untuk kemanusiaan. Aku cuma pengen hidup aku berguna untuk banyak orang....


Lomonosov adalah universitas yang cukup besar jadi aku menargertkan bisa lulus seleksi disana dan setelah gagal di gelombang satu dan dua, akhirnya aku bisa berhasil lolos."


Ditya tahu sekali dengan pemikiran Selina, wanita itu begitu peduli dengan HAM dan juga sangat ingin menjadi dewi keadilan bagi orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan.


Selina memang begitu berbeda, disaat wanita lain memilih kuliah di jurusan bisnis ataupun perkantoran yang di masa kerjanya bisa menghasilkan banyak pundi rupaih. Maka Selina tidak, ia menginginkan facultas of humanities, ia ingin menjadi manusia yang berguna untuk orang lain melalui pemikiran dan tindakannya.


"Aku ijinin kamu pergi, aku bakal tungguin kamu disini. Kan sekarang udah canggih juga, nanti kita bisa telfonan tiap malem, buat semua jarak itu nggak ada."

__ADS_1


Senyuman di bibir Selina menghilang.


"Aku—"


"Ada apa?"


"Jangan nungguin aku, mungkin aku nggak akan kembali Dit."


"Apa maksud kamu?"


"Setelah lulus, aku akan menjadi relawan kemamusiaan yang entah akan menetap dimana."


"Selina! Kamu beneran mau pergi ninggalin aku?"


Selina terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Ditya adalah orang yang telah cukup lama bersamanya, ia adalah lelaki yang sangat tulus kepadanya dan tidak akan pernah menghianatinya.


Mereka memiliki cerita tentang masa depan mereka, merencanakan rumah mereka yang akan di bangun di pinggiran kota sehingga jauh dari polusi dan juga pernikahan ala princess yang sangat Selina inginkan.


Tetapi, wanita itu sudah memikirkan semuanya. Saat memutuskan untuk pergi ke Moscow ia sudah melepas semua impiannya untuk bersama Ditya.


"Selina!"


"Kita nggak akan tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, aku akan keliling dunia dan bukan tidak mungkin akan menemukan cinta baruku disana."


"Aku tetep bakal nungguin kamu disini."


Selina meraih kedua tangan Ditya, "Dit, jangan lakuin itu, aku nggak akan kembali buat kamu!"


"Sel...."


"Aku nggak akan kembali buat kamu, jangan nungguin aku."


Ditya menghempaskan kasar kedua lengan Selina, dia benar-benar kecewa.


"Lalu apa artinya 1080 hari yang kita lalui bersama? Apa itu benar-benar nggak ada artinya buat kamu?"


Selina mengangguk, meski itu bukanlah jawaban dari hatinya.


"Makasih Sel, luka ini emang nggak seberapa sama impian kamu."


Ditya melangkahkan kakinya pergi dan setelah Ditya menghilang dari pandangannya barulah air mata itu mengalir deras dan tubuhnya meluruh.


Mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hati rasanya sangat sakit, Selina merasa ini yang terbaik. Ia tidak ingin Ditya menunggunya, Selina akan pergi dalam waktu yang lama entah itu satu, dua atau bahkan sepuluh tahun lamanya. Ia tidak ingin Ditya menunggunya selama itu, hanya untuk mereka bersama.


Tetapi Selina tidak pernah tahu hari-hari selanjutnya yang dijalani Ditya sangatlah buruk. Ditya yang semakin dingin dan tidak ingin kehidupannya dimasuki oleh siapapun.


Hanya terus belajar dengan giat hingga menepati posisi teratas di universitas, Ditya sama sekali tidak tertarik dengan wanita hingga suatu hari ia menjalin hubungan tanpa cinta dengan alasan ibunya yang selalu memaksa Ditya memiliki seorang kekasih.


Hubungan itu memang berjalan tetapi Ditya mengabaikan wanita itu, sama sekali tidak peduli dan hanya menyibukan diri dengan perusahaan. Merintis perusahaan peninggalan ayahnya hingga berkembang sangat pesat.


#Flashback off


"Aku nggak akam pernah lupa sama detail kejadiannya, aku bilang gitu karena aku nggak mau nungguin aku. Menunggu itu adalah hal yang paling kamu benci, jadi itu adalah yang terbaik untuk saat itu."


"Kamu tahu setelah hari itu hancurnya aku kaya apa? Semuanya kosong, hati aku kosong tanpa siapapun bisa mengisinya."


"Kamu masih marah sama aku?"


Ditya menggeleng, bahkan semenjak hari itu Ditya tidak bisa menyimpan amarah sedikitpun pada Selina. Ia tidak bisa marah sama sekali.


"Maaf."


"Jadi gimana? Kamu udah kemana aja?"


"Aku keliling dunia Dit, pergi ke suku-suku tertinggal dan tempat yang membutuhkan bantuan. Melihat senyuman mereka rasanya sangat puas. Oh ya kamu mau tau nggak alasan aku pulang hari ini?"


"Apa?"


"Saat mengunjungi pinggiran Berlin, aku ketemu sama seorang nenek yang belum pernah menikah padahal usianya sudah 70 tahun. Usut punya usut dia lagi nunggu pertemuan dengan kekasihnya yang udah 50 tahun kepisah....


Kekasihnya ini meninggal saat perang Jerman dulu dan dia menunggu kematiannya sendiri agar bertemu dengan kekasihnya ini. Dari situ aku sadar umur itu nggak ada yang tahu, dan selagi aku masih dikasih umur kenapa aku nggak pergi menemui orang yang membawa separuh hati aku. Semuanya masih sama Dit, hati ini cuma buat kamu."


Ditya membeku, memang hatinya masih sama tetapi sekarang keadaannya sudahlah berbeda.


━━━━━ P K M T M K━━━━━


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,


Khalisa🌹

__ADS_1


__ADS_2