Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
98. Tumbang.


__ADS_3

"Mbak Tati mau belanja ya?"


"Iya, Bu. Mau belanja."


"Nanti tolong mampir florist bentar ya, beli bunga lily."


Bunga yang beberapa hari lalu Raina beli sudah layu dan berniat untuk menggantinya, sekarang ini entah mengapa Raina begitu senang meletakan bunga asli yang bisa menambah harum dan ruangan juga terasa lebih segar.


"Oh iya Bu."


"Makasih ya Mbak."


"Iya, Bu."


Setelah melihat sang asisten rumah tangga beranjak dari tempatnya Raina kembali fokus pada ponselnya. Di jam segini memang tidak ada hal berarti yang harus ia lakukan selain bermain ponsel, Mikaila masih di sekolah dan Rean masih di kantor.


Rencana liburan ke Disneyland mereka berada di senin besok yaitu 3 hari lagi, kemarin Mikaila sudah mengajak keliling mall untuk berbelanja keperluan kesana. Anak itu begitu antusias dan gembira saat mengetahui akan berlibur.


Disneyland yang mereka pilih untuk dikunjungi adalah yang berada di Florida, selain yang terbesar iklim musim semi yang tengah berlangsung disana juga menarik perhatian.


Kring... Kring... Kring...


Telepon rumah berbunyi dengan segera Raina beranjak untuk mengangkatnya.


"Halo dengan ke—"


"Bu Raina."


Belum sampai Raina menyelesaikan kalimatnya, Thalia sudah memotong. Tentu Raina sangat hafal dengan suara sekretaris suaminya itu.


"Thalia? Ada apa ya?"


"Bu, pak Rean masuk rumah sakit."


Raina mengernyitkan dahinya, ia yakin suaminya berangkat dalam keadaan baik-baik saja, bahkan satu jam yang lalu mereka masih sempat berbincang lewat telepon.


"Kamu nggak usah bercanda."


"Saya nggak bohong apalagi bercanda Bu, tadi saat meeting pak Rean pingsan dan langsung di bawa ke rumah sakit. Saat ini masih dalam penanganan dokter."

__ADS_1


"Saya kesana sekarang."


Raina meletakan telepon itu kembali dan segera menyambar kunci mobil di meja, tentu sangat khawatir dengan keadaan Rean. Tadi suaminya itu baik-baik saja bahkan mereka berbincang cukup lama tetapi dalam hitungan jam saja sudah berbeda.


Raina tidak sempat mengganti pakaiannya juga tidak lagi kepikiran untuk memakai make up, yang dipikirkan sekarang adalah secepat mungkin sampai di rumah sakit.


Raina tidak bertanya dimana rumah sakit tempat Rean dilarikan karena sudah pasti berada di rumah sakit yang berada tidak jauh dari kantornya itu.


Setelah beberapa puluh menit akhirnya Raina sampai di rumah sakit, di depan UGD sudah ada Thalia dan juga beberapa orang kantor yang membawa Rean kesini.


"Gimana kondisi mas Rean?"


"Dokter belum keluar, Bu."


Perasaan Raina semakin campur aduk, tidak ada istri yang bisa tenang melihat suaminya masuk rumah sakit.


"Mas Rean pasti kecapean, kemarin-kemarin pekerjaannya banyak banget...." Raina mengalihkan pandangannya pada Thalia dan 4 orang lainnya yang ada disini.


"Makasih ya kalian udah nolong suami saya."


"Santai aja, Bu. Kaya sama siapa aja." celetuk seorang lelaki dengan kemeja biru.


Kalimat itu tentu saja mengalihkan perhatia tapi Raina.


"Aneh gimana?"


"Tadi Pak Rean kaya megangin dadanya gitu sejak dia datang ke ruang meeting dan setelah meeting berakhir pak Rean langsung pingsan."


Hati Raina mencelos mendengar hal itu, selama ini ia benar-benar tidak pernah tahu Rean memiliki riwayat penyakit lain.


Tetapi ia tetap menyakinkan dirinya semoga Rean baik-baik saja.


Seorang dokter keluar bersama dengan beberapa suster, Raina langsung menghampiri dokter itu.


"Gimana keadaan suami saya, Dok?"


"Ibu bisa ikut saya ke ruangan saya."


Raina mengangguk dan mengikuti dokter dokter itu. Sepanjang koridor perjalanan tentu perasaannya tidak menentu, dengan hatinya yang begitu khawatir dan juga perasaan sesak yang memenuhi dadanya.

__ADS_1


"Gimana keadaannya, Dok? Suami saya baik-baik saja kan?"


Dokter terlihat menghela nafas.


"Keadaan pasien saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, apakah sebelumnya Ibu tidak tahu tentang penyakit pasien?"


Raina menggeleng, ia memang tidak tahu menahu. Ia menganggap Rean baik-baik saja karena memang itu yang ia lihat selama ini.


Memang ia melihat perubahan fisik Rean yang terlihat semakin kurus, tetapi selebihnya Rean sama sekali tidak pernah bercerita padanya jika ia ada masalah kesehatan.


"Memangnya suami saya kenapa ya, Dok?"


"Kardiomiopati adalah sebuah penyakit kronis yang menyerang jantung, dimana otot jantung memiliki kelainan, biasanya karena kelainan genetik dan itu adalah penyakit bawaan."


"Nggak mungkin, Dok. Selama ini suami saya baik-baik saja, bahkan nggak pernah kambuh, gimana bisa itu jadi penyakit keturunan."


"Memang, Bu. Penyakit ini adalah penyakit kronis yang bisa membaik dengan gaya hidup sehat dan juga treatment tetapi saat memburuk maka akan sangat fatal. Sehingga seseorang yang memiliki riwayat penyakit ini harus menjaga pola hidupnya dan tidak bisa kelelahan apalagi stres yang menjadi penyebab keadaan pasien memburuk."


Saat itu juga air mata Raina turun, dadanya sangat sesak mengetahui kenyataan itu. Selama ini Rean selalu nampak baik-baik saja, tidak pernah mengeluh sama sekali.


Atau jangan-jangan dirinya saja yang tidak peka? Tidak begitu peduli dengan Rean sehingga masalah sebesar itu ia tidak tahu.


"Te-terus gimana keadaan suami saya sekarang?" kalimat itu terlontar dengan nada bergetar.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, tetapi saat ini masih membutuhkan pemantauan dari kami sehingga kami harus pindahkan ke ICU."


Tubuh Raina melemas, ia benar-benar tidak siap untuk ini. Melihat orang yang begitu ia cintai harus berbaring di ranjang pesakitan, ia sudah sangat lama memiliki sebuah penyakit yang dirinya sama sekali tidak tahu.


Istri macam apa yang bahkan tidak mengetahui keadaan suaminya.


...━━━━━ P K M T M K━━━━━...


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,

__ADS_1


Khalisa🌹


__ADS_2