Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
84. Kesungguhan.


__ADS_3

Ting... Tong...


Entah sudah berapa kali Rean memencet bel rumah itu, tetapi tidak ada jawaban sama sekali, meski hari sudah gelap dan sudah akan menjelang malam tetapi Rean masih berdiri disana.


Perasaan kalut itu memenuhi dirinya, yang harus ia lakukan sekarang adalah bertemu dengan papa mertuanya untuk menjelaskan segalanya.


Meski yakin Raina akan baik-baik saja di rumah mertuanya ini tetapi ia juga harus memastikan sendiri kondisi Raina.


Ceklek,


Pada akhirnya pintu terbuka menampilkan sosok papa mertuanya yang berdiri dengan wajah menyeramkan.


Bugh... Bugh...


Tanpa sepatah katapun pukulan demi pukulan menghujami Rean, tetapi lelaki itu pasrah membebaskan papa mertuanya memukulinya.


Rean tentu bisa melawan dan jika mereka saling beradu pukulan tentu dirinya yang akan memang, tetapi Rean memilih untuk diam dan membiarkan luka lebam di tubuhnya itu.


"Saya sudah berikan kepercayaan pada kamu untuk menjaga putri saya bukan untuk menyakitinya!"


"Ya saya mengakui kesalahan terbesar saya, tetapi berikan saya kesempatan lagi Pa untuk memperbaikinya."


"Tidak ada kesempatan buat kamu, surat cerai akan sampai secepatnya."


Mendengarkan kalimat itu tubuh Rean langsung lemas, tidak sama sekali dia terima dengan hal yang menjadi keputusan papa mertuannya itu.


"Pa jangan lakukan itu, kasih saya kesempatakan saya mohon."


"Tidak!"


Rean bersimpuh merendahkan dirinya di depan papa mertua. Untuk kembali bersama Raina apapun akan dia lakukan, asalkan Raina dapat kembali ke pelukannya.


"Pa, waktu itu—"


"Apapun penjelasan kamu, perbuatan kamu itu sudah keterlaluan. Kamu membohongi Raina selama satu tahun! Satu tahun itu tidaklah sebentar! Tidak menutup kemungkinan kamu masih memiliki banyak kebohongan lainnya yang kamu sembunyikan."


"Nggak, itu terakhir kalinya saya berbohong Pa. Sekarang dan seterusnya saya akan terbuka."


"Pergi kamu dari rumah saya!"


Setelahnya papa beranjak membanting pintu, tidak lupa juga untuk menguncinya.


Rean sama sekali tidak beranjak, hanya duduk di lantai dingin itu memandang pintu yang entah kapan akan terbuka.


Dia tahu masalah ini cepat atau lambat pasti akan terdengar pada papa mertuanya, dan Rean juga paham seperti apa amarah yang akan ia terima.


Sedari dahulu Rean sadar jika Raina ada putri yang sangat berharga untuk mereka, dan perbuatannya yang sudah menyembunyikan rahasia besar selama satu tahun. Sedari awal Rean sudah tahu akan terjadi hal seperti ini, tetapi memang ia tidak akan pernah siap.

__ADS_1


Tiga jam telah berlalu tetapi Rean masih berada dalam posisi yang sama, tidak memperdulikan udara malam yang semakin dingin menusuk kulit. Dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan maaf dan bisa membawa Raina kembali ke pelukannya.


"Mas Rean!"


Raina terlihat datang dari bangunan belankang bukan pintu utama, sedari tadi di dalam ia melihat mobil Rean yang masih terpakir di halaman dan tidak juga beranjak. Tentu dirinya sedari tadi dilanda khawatir. Raina pun pergi diam-diam ke pintu belakang.


Melihat wajah Rean yang dipenuhi lebam dan juga luka berdarah di ujung bibir kanannya membuat tangis Raina pecah, ia lari ke arah Rean dan menakup wajah itu.


"Aku janji bakal berjuang dan dapetin kembali kepercayaan papa." ucap Rean dengan seulas senyuman.


"Aku ambil obat merah dulu, kamu tunggu sebentar."


Rean menarik lengan Raina.


"Ini nggak sakit kok."


Karena nyatanya hatinya lebih sakit karena dipenuhi rasa bersalah.


Namun, Raina melepas cekalan tangan Rean dan beranjak pergi. Ia tetap akan mengambil obat merah itu dan mengobati Rean.


Untung saja papanya sibuk di ruang kerja yang berada di bagian depan, sehingga tidak akan curiga Raina keluar masuk pintu belakang seperti ini.


Beberapa menit setelahnya Raina kembali ke Rean dengan kotak obat, lekas membersihkan luka memar dan memberikan obat pada lebam-lebam yang terlihat mengerikan itu.


"Sakit pasti ya Mas."


Namun, yang membuat semuanya semakin buruk adalah papa tahu masalah ini disaat Rean juga memiliki masalah di kantornya. Rean yang tadinya sedang kewalahan memikirkan penyelesaian untuk perusahaannya harus dibebankan kembali oleh masalah rumah tangganya.


Mungkin itu juga bentuk hukuman untuk dirinya yang telah berbohong begitu lama pada Raina.


"Kamu sekarang pulang dan tenang aja, aku tau kamu lagi banyak masalah, jangan jadikan ini masalah tambahan Mas."


"Masalah kantor nggak penting lagi, dapetin maaf papa lebih penting. Aku nggak mau pisah sama kamu sayang."


"Aku bakal bujuk papa Mas, aku yakin papa pasti bisa luluh dengan bujukan aku. Aku bakal berusaha Mas, kamu tenang aja."


Rean menggeleng, ini adalah kesalahan dirinya. Ia tidak ingin justru Raina bertengkar dengan ayahnya karena dirinya.


"Aku yang salah, aku yang bakal perjuangin kamu sayang, gimanapun caranya aku bakal dapetin maaf dari papa."


"Gimana caranya Mas? Aku nggak mau kamu dipukulin lagi sama papa!"


Rean akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan kata maaf.


"Gimanapun caranya aku akan lakuin."


Raina menghela nafasnya pelan, melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


"Kamu sekarang mendingan pulang, udah malem."


Rean menggeleng.


"Aku mau disini, aku bakal buktiin kesungguhan aku."


Bertahan di luar dengan angin malam yang menusuk hanya di lindungi oleh kemeja tipis tentu bukanlah hal yang bagus. Kondisi tubuh Rean tidaklah seprima itu.


"Itu namanya cari penyakit!"


"Biar papa tahu ini salah satu bukti bahwa aku serius nggak bakal ulangin kebodohan ku."


"Tapi nggak gini juga caranya, Mas! Kamu kan besok bisa dateng lagi kesini."


"Udah sekarang kamu istirahat ya, disini dingin." ucap Rean pada Raina.


"Terus kamu tetep mau disini?"


"Iya, aku nggak kedinginan kok."


"Gila kamu ya, Mas! Kalau kamu disini, aku juga disini nemenin kamu."


"Sayang kamu lagi hamil, nanti kamu sakit."


"Ya makanya kamu pulang!"


"Aku—"


"Dapetin maaf dari papa itu bisa dengan cara lain, ajak kek Erina dateng kesini dan suru dia jelasin semuanya ke papa. Jangan bodoh dengan lakuin hal yang bikin kamu sakit."


Sempat terpikir cara itu, tapi yang menjadi masalah adalah apakah papa akan percaya dengan perkataan Erina. Dan hubungan Rean dan Erina yang terkahir kali sangatlah buruk, dimana Rean begitu benci jika melihat wanita itu.


"Pulang sekarang Mas!"


"Atau kamu mau aku temenin kamu disini sampai pagi, biar aku sakit?"


"Iya pulang."


Rean mengecup sebentar kening Raina sebelum beranjak menuju mobilnya, Raina melambaikan tangannya pada Rean dan mrlanglahkan kakinya pergi saat mobil suaminya sudah tidak nampak.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 19 January 2022^^^

__ADS_1


__ADS_2