Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
55. Selalu salah.


__ADS_3

Sepiring tumis kangkung dan juga telur mata sapi tersaji di depan Kala, senyuman lelaki itu merekah saat Dewi mengatakan jika itu adalah hasil masakannya. Selama seminggu ini Dewi mengikuti kursus masak dan sekarang ia sudah bisa memasak tumis kangkung tapi dan menyeplok telur, meski telurnya agak gosong tapi Dewi bangga dengan dirinya.


Untuk Dewi yang sebelumnya tidak pernah menginjak dapur sama sekali, bisa memasukan telur ke minyak panas tanpa berteriak itu sudahlah kemajuan yang sangat bagus.


"Ayo Mas cicipin."


Kala mengangguk, sedangkan Dewi lekas mengambil tumis kangkung dan meletakkannya di piring Kala.


Sebenarnya Kala juga tidak protes hanya dimasakan kangkung dan telur goreng saja, selagi masih bisa dinikmati maka tidak perlu cari ribut.


"Enak,"


Kangkung yang dimasak Dewi itu masih sedikit alot dengan rasa yang tidak jelas ke kanan dan ke kiri, kalau telurnya sih yang rasanya seperti telur ceplok.


"Kurang apa gitu Mas, biar nanti aku tambahin."


"Kurang asin dikit, gulannya juga kurang. Terus ini numisnya kurang lama, tumis dulu agak lamaan baru masukin air."


Kala bisa memasak, saat hidup sendiri di Perancis tentu saja ia harus bisa memasak. Membeli makanan terus-menerus itu pemborosan terlebih dirinya tidak terlalu cocok dengan masakan sana.


"Loh Mas kok banyak banget kurangnya, ya wajarlah Mas, aku kan baru belajar jadi kalau belum enak ya wajarin aja lah Mas." ucap Dewi seraya menghentakkan kakinya.


Kedua alis Kala bertaut melihat ekspresi Dewi yang seperti itu, bukan maksudnya menjelekkan masakan Dewi, ia memberi Saran. Kala itu bukanlah banyak menuntut, Dewi tidak bisa memasak dan tidak ingin belajar pun Kala juga tidak akan protes.


"Enggak Wi, bukan maksud aku kaya gitu, aku cuma kasih saran biar kamu makin bisa."


"Ya tetep aja Mas itu nyakitin hati aku."

__ADS_1


Kala menghela nafas panjang, dirinya paling tidak suka dengan perdebatan pun mengalah. "Yaudah maaf aku salah."


Dewi melepas aphron merahnya seraya beranjak, "kamu tuh ya bikin aku males aja, aku nggak mau kursus lagi!" setelahnya punggung Dewi sudah menghilang dibalik pintu kamar.


"Ngasih saran aja salah," gumam Kala seraya menyendok nasi ke mulutnya.


***


Air mata tidak hentinya mengalir di wajah Erina, pikirannya masih terbayang tentang kejadian tadi sore. Sekarang ia sudah sepenuhnya kehilangan Rean, jarak mereka semakin jauh saat Rean sudah mengetahui tentang apa yang sebenarnya Erina lakukan.


Hatinya selama ini kering dan tandus karena tidak mendapatkan cinta baik dari keluarga ataupun orang lain, lalu Rean datang seperti air hujan yang menyapa dan menyirami hatinya dengan kebaikan yang lelaki itu berikan. Namun, hatinya yang baru disirami dan belum sempat tumbuh tunas itu kembali kering karena sekarang Rean sudah tidak berkenan lagi melirik ke arahnya.


Terkadang ia juga berfikir tentang tindakannya yang keterlaluan atau tidak, tetapi semua pikiran itu ia tepis. Yang utama adalah menemukan kebahagiaan untuk menyirami hatinya yang tandus.


Uluran sapu tangan itu mengalihkan perhatian Erina. Ditya, lelaki dengan kemeja berwarna putih itu mengulurkannya untuk Erina. Tadi saat melintas Ditya mendemgar suara tangisan dari kolam renang, dan begitu mendekat ke tempat ini ia melihat Erina tengah duduk di sisi kolam paling ujung dengan air mata berlinang.


"Hapus dulu air matanya, biar cantiknya nggak ikut luntur."


Erina meraih sapu tangan itu dan menyeka wajahnya, cukup lelah juga menangis sedari tadi.


"Kok kamu ada disini?"


"Tadi denger orang nangis, kirain hantu taunya manusia beneran."


"Makasih sapu tanganya."


Ditya beranjak mendudukan dirinya di samping Erina, "nangis itu boleh kok buat bikin lega, tapi jangan terlalu lama, nggak bagus buat kesehatan."

__ADS_1


"Tapi kalau setelah nangis tetep nggak lega gimana?"


"Em— ya lepasin semua masalahnya, lupain semua, anggap aja itu nggak pernah terjadi biar kamu lega karena udah lupa."


Erina menghela nafas panjang, guna menetralkan perasaannya.


"Menurut kamu salah nggak sih kalau seseorang mencari kebahagiaannya?"


"Benar dong kebahagiaan itu harus dicari, tapi ada beberapa orang yang salah."


"Kenapa mereka salah? Kebahagiaan itu yang terpenting." protes Erina.


"Mereka salah karena cara mencari kebahagiaannya tidak tepat. Mencari kebahagiaanya sendiri tetapi merusak kebahagiaan orang lain, itu tidak benar. Kebahagiaan lain itu pasti ada tanpa harus merugikan orang lain."


"Jadi?"


"Kita itu manusia yang merupakan mahluk sosial, memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Perbuatan baik mendapat balasan dan perbuatan jahat juga tentunya. Merusak kebahagiaan orang lain itu perbuatan jahat, dan tentu memdapatkan balasanya."


Erina terdiam, ikut membenarkan ucapan Kala. Jika posisinya dibalik dan dia yang rumah tangganya dirusak tentu dirinya juga tidak akan menerima.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 19 Desember 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2