Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
50. Ketahuan Mama.


__ADS_3

"....akhirnya mereka semua bahagia."


Tepat saat kalimat terakhir dari fabel yang dibacakan Rean itu Mikaila memejamkan matanya, diusaknya pelan pucuk kepala putrinya sebelum ia kecup perlahan.


Senyuman mengembang dari bibir Raina melihat perlakuan Rean pada Mikaila.


Tok... Tok...


Pintu kamar Mikaila diketuk pelan, dengan perlahan Raina bangkit dari ranjang dan membuka pintu, ternyata ada mbak Tati yang sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa Mbak?"


"Itu Bu, di depan ada tamu yang nyari pak Rean."


Kernyitan muncul di dahi Raina, jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam dan ada orang yang bertamu pada jam segini.


"Perempuan apa laki-laki mbak?" tanya Rean yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Raina.


"Perempuan Pak."


"Itu pasti Erina Mas, sana temuin!"


"Usir aja mbak."


"Kamu tega banget sih, sana temuin Mas!"


"Enggak sayang, aku udah nggak ada hubungan sama dia."


"Enak banget ngomongnya, kamu itu emang brengsek banget ya! Udah ada anak loh dianatara kalian tapi kamu enak banget bilang udah nggak ada hubungan."


"Ethan tetep jadi tanggung jawab aku, tapi aku sama Erina—"


"Udah nggak usah ngomong apa-apa lagi kamu, sana temuin Erina!"


Rean beralih pada Mbak Tati yang ternyata masih berdiri di tempatnya.


"Mbak tolong suruh pergi aja ya, bilang aja saya sudah tidur."


Masalahnya perempuan itu adalah Erina, jika di usir dengan alasan itu justru akan semakin nekat untuk masuk ke dalam. Membuat keributan malam-malam dirumah orang bukan masalah untuk Erina.


"Temuin Mas, aku nggak mau dia malah bikin masalah dengan masuk ke sini."


"Iya."


Dengan terpaksa Rean melangkahkan kakinya ke lantai bawah, menemui Erina yang sebenarnya sangat malas untuk ia temui.

__ADS_1


Benar saja saat sudah sampai di ruang tamu Rean melihat Erina yang tengah duduk manis, saat manit mata Erina mendapati Rean, ia langsung berlari memeluk Rean.


Rean tidak membalas pelukan itu justru menjauhkan tubuh Erina darinya.


"Mas aku tuh khawatir banget sama kamu."


"Aku nggak papa kok, kamu bisa pulang."


"Mas kamu apa-apaan sih! Kamu kenapa sih gini banget sama aku?"


"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa Erina."


Wajah Erina berubah kesal, ia menghentakkan kakinya, tidak setuju dengan ucapan Rean.


"Aku nggak menerima talak dari kamu Mas!"


"Mau kamu menerima atau nggak menerima, semenjak aku ucapkan perpisahan, secara agama talak itu sudah berlaku."


Karena mereka hanya menikah secara agama tidak tercacat dalam catatan sipil negara maka berpisahnya juga hanya dengan talak, tidak perlu rentenan persidangan di pengadilan.


"Mas!"


"Sesuai yang aku katakan, kamu bisa cek email kamu, aku udah kirimin beberapa rekomendasi perusahaan yang pasti akan menerima kamu bekerja, kamu tinggal kirim surat lamaran kesana. Aku juga udah kirim uang ke atm kamu, jumlahnya cukup banyak. Ke depannya aku bakal tetep kasih uang bulanan ke Ethan dan akan penuhin semua kebutuhan Ethan."


"Aku nggak mau pisah sama kamu!"


"Enggak mas! Kamu jangan brengsek ya!"


"Kamu bisa pulang Erina, ini udah malem."


Rean membalikan tubuhnya hendak beranjak dari ruangan itu, tapi sebuah kalimat keras membuat langkahnya terhenti.


"Mas pikiran anak kita! Aku itu masih tetep istri kamu, jangan kaya gini!"


Brak,


Bersamaan dengan teriakan Erina itu sebuah paperbag makanan yang berada di tangan seorang wanita di depan pintu terjatuh. Kedua mata Rean membola saat melihat siapa yang datang malam itu.


"Mama,"


Kedatangan Mama mertuanya malam ini sungguh tidak tepat.


Mama mengalihkan pandangannya ke arah Erina, "tadi apa yang kamu bilang."


Rean mendekat, "enggak kok Ma, tadi Mama salah dengar aja kok. Ini temennya Rean."

__ADS_1


"Temen apaan Mas, jelas-jelas aku istri kamu!"


Hancur sudah, percuma saja Rean mengelak sekeras apapun, karena kenyataanya hal itu memang terjadi dan memang kesalahannya. Erina juga pastinya tidak mau diajak kerja sama untuk menutupinya.


"Jelaskan semuanya Rean!"


"Enggak kok Ma, ini—"


"Mas, kamu jangan kayak gini ya!"


"Kamu jelasin semuanya ke saya." Mama mengalihkan pandanganya ke Erina.


"Ma ini nggak seperti yang Mama pikir."


"Kamu diam Rean!"


"Mam—"


"Diam! Mama minta wanita ini jelasin bukan kamu yang ngomong Rean."


Erina menyunggingkan sebuah senyuman, dengan keluarga Raina tahu seperti ini langkahnya akan semakin mudah.


"Saya sama Mas Rean sudah menikah selama satu tahun, kami bahkan sudah memiliki satu anak dalam pernikahan kita."


Karena itu memanglah kenyataanya, maka itulah yang harua diketahui. Serapat-rapatnya bangkai disembuyikan pasti akan tercium juga baunya.


Mama menghela nafas panjang, tubuhnya menjadi lemas bukan main. Ia benar-benar tidak tahu jika hal ini terjadi, selama ini ia sangat percaya dengan Rean dan ternyata orang yang ia percaya menghancurkan kepercayaannya.


"Saya nggak bohong kok tante, itu memang kenyataanya."


"Kamu hianatin anak saya Rean?"


Rean mengangguk, ia sudah tidak bisa menutupi apapun lagi karena itu semua juga percuma.


"Mama tuh percaya banget sama kamu Rean, kenapa kamu setega ini sih? Kenapa Rean? Raina kurang apa ke kamu?"


"Ma—"


"Diem kamu! Ternyata Mama udah salah besar dalam menilai kamu Rean!"


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


^^^Central java,  Desember 2021^^^


__ADS_2