Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
80. Terkadang ibu muda lebih dewasa.


__ADS_3

Mata itu mengerjap pelan begitu sinar mentari memasuki retinanya, pandangannya terasa mengabur dengan sisa-sisa pening di kepala. Dengan segera lelaki itu bangkit, sedikit terhuyung sebelum memastikan keadaan ruangannya.


Makanana yang dibawa Raina masih berserak di meja, sedangkan istrinya itu sudah hilang entah kemana.


Rean berlalih mengambil ponselnya untuk mengecek jam dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Tentu saja hal itu membuat kedua bola matanya membola, ia sudah mengatakan pada Raina untuk mebangunkannya jam setengah dua belas tetapi mengapa sekarang bahkan batang hidung Raina tidak ada.


"Pak Rean sudah bangun?"


Di tengah kebingungannya itu tiba-tiba saja Thalia masuk.


"Ini hasil rapat dengan bagian produksi dan penjualan tadi, Pak."


Rean mengambil dokumen yang berada di tangan Thalia, membaca satu persatu tulisan yang ada disana.


"Kalian rapat tanpa saya? Lalu siapa yang memimpin rapatnya?"


"Bu Raina yang memimpin, dari rapat tadi sudah ditemukan kesepakatan yang sudah disetujui oleh semuanya. Tetapi bu Raina mengatakan untuk tetap menyerahkan keputusan pada Pak Rean."


Rean kembali memfokuskan dirinya ke dokumen itu, sebuah gagasan tentang produk yang akan dilaunchingkan bulan depan. Sebenarnya pikiran Rean terlalu penuh untuk memikirkan solusi terbaik sehingga mengadakan rapat dan berharap mendapatkan usul dari kedua bagian itu.


Namun, rupanya Raina bersedia membantu dan justru membiarkannya beristirahat.


"Lalu dimana istri saya sekarang?"


"Bu Raina baru pergi beberapa menit lalu, bu Raina berpesan agar pak Rean menyempatkan diri untuk makan."


Raina mewanti Thalia untuk memastikan Rean menghabiskan makanan.


Rean kembali mendudukan dirinya, menikmati makanan yang Raina bawakan untuknya. Rean hafal dengan masakan Raina dan ini bukanlah masakan Raina, tetapi meski begitu Rean akan tetap memakannya.


***


Raina baru saja keluar dari ruang guru, lengan kanannya mengandeng lengan Mikaila yang baru saja berhenti menangis. Tadi saat rapat baru saja selesai ia mendapatkan telepon dari wali kelas Mikaila jika anak itu berkelahi dengan temannya.


Benar saja saat sampai di sana Mikaila tengah menangis di ruang guru bersama temannya yang juga menangis.


"Sini duduk dulu sayang."


Raina mengajak anak itu duduk di kursi depan ruang kelas, ia menghapus jejak-jejak air mata di pipi putrinya itu.


"Kenapa kok Mikaila berantem sama temennya? "


Pertanyaan itu tidak bersifat menghakimi, hanya sebuah kalimat lembut.


"Tadi Serin sama temen-temennya jahatin Mikaila karena Mikaila temenan sama Hilsa, kata Bunda kan kalau ada yang jahat harus lawan jadi Mikaila lawan."

__ADS_1


Senyuman merekah dari bibir Raina, selanjutnya tangannya mengusap surai anak itu dengan lembut.


Raina memang mengajarkan Mikaila agar anak itu tidak kalah dengan temannya, Raina selalu mewanti agar Mikaila tidak mencari masalah tetapi jika ada yang nakal dengannya harus dibalas.


Tentu saja hal itu untuk mengantisipasi bullyan.


"Terus kenapa nangis? Kan udah bener."


"Tadi Serin dorong Mikaila terus Mikaila jatuh, karena kesel Mikaila bales Serin tapi habis jatuh Serinnya langsung nangis. Pas ibu Serin datang Mikaila dimarahi sama ibu Serin, Mikaila takut Bund."


Ibu Serin memang tiba terlebih dahulu dan memarahi Mikaila sampai anak itu ketakutan.


Padahal pertengkaran antar anak kecil itu hal yang biasa, seharusnya ibu Serin ini tidak memarahi Mikaila tetapi mendamaikan dua anak mereka tidak bertengkar lagi sekarang maupun yang akan datang.


"Kalau Mikaila bener nggak usah takut."


"Tapi ibunya Serin galak, Mikaila dibentak-bentak. Padahal yang jatuhin Mikaila Serin dulu, Mikaila cuma bales aja Bund."


Seorang wanita dengan baju berwarna merah menghampiri Raina dan Mikaila, seorang anak kecil juga mengintil di belakang.


"Heh kamu kalo jadi ibu didik anak kamu yang bener, jangan nakalin anak orang sembarangan!" pandangan wanita itu menelisik ke arah Raina secara seksama, senyuman mengejek tercipta saat mendapati Raina yang jauh lebih muda daripada dirinya.


"Heleh ibu muda, pantes aja nggak becus ngurus anak!"


Raina tentu panas dibuatnya, tiba-tiba ibu dari Serin itu melabraknya dengan kurang ajar. Siapa yang terima dikatai kalimat sepedas itu.


Raina sama sekali tidak memiliki niatan untuk melabrak ibu Serin, ia bukanlah tipe orang yang suka mencari gara-gara dan pelabrak. Saat kasus melabrak Erina itu hanyalah terpengaruh dua sahabatnya saja, lagi pula sangki sosial segitu belumlah cukup untuk mempermalukan perbuatan Erina.


"Maaf ya Mbak, justru yang lebih tidak becus itu adalah seorang ibu yang memarahi anak orang hingga dia menangis. Anak ibu menangis karena bertengkar dengan anak saya, itu wajar karena hanyalah pertengkaran anak-anak biasa ... tetapi yang tidak wajar adalah seseorang yang telah dewasa bahkan sudah menjadi ibu, justru membuat anak kecil mennagis."


Kedua mata ibu Serin membola hingga nyaris keluar.


"Tetapi anak kamu udah dorong anak saya hingga jatuh, gimana kalau cedera serius?"


"Serin duluan yang dorong Mikaila!" ujar Mikaila dengan bersembunyi di balik kaki ibunya.


"Diem kamu anak nakal!" ibu Serin menunjuk Mikaila dengan jarinya, tetapi Raina tidak tinggal diam dan langsung menepis kasar lengan itu.


"Tolong jangan berbicara dengan nada tinggi dengan anak saya!"


Anak itu masih menyerap semua dari sekitarnya, pembentukan karakter anak itu dimulai saat ia masih kecil. Bagaimana orang-orang disekelilingnya berbicara dan mengajarkan akan ia tiru.


Selama ini Raina tidak pernah sekalipun membentak Mikaila, hal itu tentu akan berpengaruh pada putrinya sendiri nanti. Jika Mikaila melakukan kesalahan Raina akan menasihatinya pelan-pelan, memberikan sebuah teori masuk akal tentang kesalahan anak itu yang dapat anak itu mengerti.


Raina saja sangking pedulinya dengan pembentukan karakter Mikaila tidak pernah sekalipun menggunakan nada bicara tinggi terhadapnya, mana ia rela anaknya dibentak-bentak oleh orang lain.

__ADS_1


"Anak ibu yang terlebih dahulu mendorong Mikaila, anak saya hanya membalasnya tapi ternyata anak ibu menangis. Apa sampai sini paham apa namanya pertengkaran anak-anak?"


"Tapi anak nakal kamu ini dorong anak saya sampai nangis, pasti dorongnya keceng."


Raina menghela nafasnya ia lelah jika harus berdebat dengan orang yang tidak mau kalah seperti ini.


"Baik jika memang dorongan anak saya kencang, maka tunjukkan dimananya yang terluka atau memar, saya akan ganti rugi membawa anak ibu ke dokter sampai sembuh. Mana saya lihat."


Raina mengamati anak itu, ada memar kecil seukuran 3 cm di siku sebelah kiri Serin, bukan memar yang mengeluarkan darah tetapi hanya memar merah yang pasti rasanya tidak terlalu sakit.


"Saya perlu ganti rugi berapa?"


Raina mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi transfer antar bank lalu menyodorkan ponselnya pada wanita itu.


"Tuliskan saja berapa nominal saya harus ganti ruginya."


Wanita itu terdiam menatap ponsel itu dengan hati yang membara.


"Sok kaya dan sombong banget ya kamu!"


"Saya nggak sombong, kalau memang semuanya harus impas ya cepat masukan nominalnya. Tetapi saya saya juga akan melakukan hal yang sama seperti ibu lakukan, yaitu membentak dan memarahi anak ibu sampai menangis histeris seperti yang ibu lakukan terhadap anak saya. Dengan begitu semuanya impas dan tidak ada masalahnya lagi."


Bak banterng yang sudah bertanduk, wajah ibu Serin sudah merah padam dikarenakan Raina.


"Kamu!"


"Saya mengatakan kebenaran, jadi mari kita selesaikan masalah ini sampai benar-benar selesai."


Ibu Serin meraih lengan putrinya dan langsung beranjak pergi dari sana, dengan hati dongkol tentunya.


"Galak kan Bun, ibunya Serin."


"Nggak papa, Mikaila nggak boleh takut ya. Besok kalau ibunya Serin marahin Mikaila langsung lari aja, nggak usah didengerin."


"Boleh nggak kalau Mikaila gigit aja tangannya kalau ibunya Serin jahat lagi."


Raina menggeleng, "jangan dong sayang, cukup lari aja biar ibunya Serin nggak jadi marahinnya."


"Siapp, Bun."


...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...


LEBIH SUKA YG BAB NYA PANJANG KAYA GINI APA PENDEK?


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 04 January 2021^^^


__ADS_2