Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
82. Aku harus bagaimana?


__ADS_3

"Udah habis Bunda."


Mikaila memperlihatkan piring yang isinya sudah tandas, anak itu baru saja selesai menghabiskan makan siangnya.


"Pinter banget anak bunda ini, sekarang kita tidur siang yuk."


Raina hendak menggandeng lengan Mikaila, tetapi anak itu menepisnya.


"Bentar Bun."


"Kenapa sayang?"


"Mikaila kangen sama ayah, tadi pagi kan ayah nggak ada dirumah. Mikaila mau telfon ayah."


Senyuman di bibir Raina menggembang, ia melupakan satu fakta jika putrinya ini sangatlah dekat dengan Rean. Sehari saja jika berpisah Mikaila pasti akan merengek seperti ini.


Segera Raina meraih ponselnya dan mengklik nomor Rean, menghubungi lewat video call lelaki itu.


Menunggu beberapa lama tetapi panggilan itu tidaklah dijawab oleh Rean.


"Kayanya ayahnya lagi sibuk, sekarang Mikaila tidur siang dulu, nanti kita telfon ayah lagi habis Mikaila bangun."


Raut kecewa nampak di wajah anak itu, tetapi Mikaila bukanlah anak yang selalu menuntut keinginannya untuk terpenuhi. Dengan segera ia mengangguk memakluminya.


"Iya Bun."


Drtt.... Drtt....


Baru saja akan beranjak tapi panggilan balik dari Rean berhasil membuat senyuman senang di bibir Mikaila.


Layar ini menampilkan sosok Rean yang terbalut oleh jas, lelaki itu tengah duduk di mobil.


"Hai Ayah, Mikaila kangen."


Seulas senyuman tergambar di bibir Rean, sebesit rasa bersalah muncul. Dia pernah berjanji sesibuk apapun dirinya tidak akan sampai lupa memberikan waktunya untuk Mikaila, tetapi kali ini sepertinya ia lupa.


Sedari kemarin tidak melihat anak itu, tentu Rean merindukan Mikaila tetapi masalah kantornya ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


"Ayah juga kangen banget sama Mikaila ... anak ayah lagi apa?"


"Mikaila mau tidur siang yah."


"Selamat tidur ya tuan putri, tidurnya yang nyenyak ya."


"Ayah semalem nggak pulang, kalau nanti pulang kan?"


Rean mengangguk, ia sedang berausaha menyelesaikan segala urusannya sekarang ini agar bisa segera pulang dan menemui anak istrinya.


"Iya nanti ayah pulang sayang."


"Jangan malem-malem ya Yah pulangnya."

__ADS_1


"Iya, udah dulu ya ini ayah udah sampai. Tidur yang nyenyak ya sayang."


"Iya Ayah, Dadaa."


Setelah panggilan video itu berakhir kini Mikaila menyerahkan ponsel itu kembali pada Raina.


Tetapi raut wajah Mikaila membuat Raina mengernyitkan dahinya.


"Loh kok cemberut, kan udah ngobrol sama Ayah."


"Kurang lama Bun, masa cuma sebentar. Ayah nggak mau lama-lama nelfonnya Bun."


Raina mengelus pucuk kepala putrinya, "nggak gitu sayang. Ayahnya lagi sibuk, tadi lihat kan ayah lagi dimobil, mau pergi urusin pekerjaan ... lagian itu ayahnya udah janji nanti mau pulang kan?"


"Iya sih Bun."


"Yaudah sekarang kita tidur yuk."


Selanjutnya Raina membawa anak itu ke kamar, membuatkan segelas susu yang mengantarkan anak itu ke alam mimpi.


Setelah memastikan putrinya benar-benar terlelap, Raina pun keluar dari kamarnya. Tetapi betapa terkejutnya ia melihat kedua orang tuanya sudah berada di rumahnya.


Raut wajah mereka terlihat sangat tidak beraahabat membuat perasaan Raina tidak nyaman. Ia menebak jika sang ayah sudah mengetahui masalahnya dengan Rean.


"Papa mau tanya sama kamu, apa benar Rean selingkuhin kamu?"


Lidah Raina terasa kelu, entah bagaimana berita ini sampai di telinga sang papa, sehingga membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.


Dirinya dan Rean sudah baikkan, masalah Erina telah usai dan mereka sudah kembali membuka lembaran baru bahkan Ethan sebagai penghubung Rean dan Erina sudah pergi.


"Benar Pa, tapi kita sudah baikkan." cicit Raina pelan.


Prang,


Sebuah hiasan porselen di meja harus hancur berkeping di lantai menjadi sasaran kemarahan dari papa.


Urat-uratnya menonjol begitu juga dengan nafasnya yang memburu, papa benar-benar tidak menyangka Rean yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri dengan teganya melakukan ini pada putrinya.


"Papa akan urus perceraian kalian hari ini juga."


Kedua mata Raina membola mendengarkan kalimat itu.


"Pa jangan, aku sama Mas Rean udah baikkan."


"Pergi dari sini Raina, ayo kita pulang!"


"Pa perselingkuhan itu hanya salah paham, semuanya udah jelas dan kita udah baikkan Pa."


"Kesalahanpahaman kamu bilang? Kesalahpahaman apa yang membuat Rean satu tahun membohongi kamu. Jangan bodoh Raina, jangan mau dibodohi Rean lagi."


"Pa—"

__ADS_1


"Coba kamu pikirin, Rean berani menyembunyikan hal ini selama satu tahun dengan begitu rapatnya, bukan tidak mungkin masih banyak kebohongan lainnya. Kamu harusnya sadar itu!"


Entah mengapa kalimat itu sedikit menggetarkan hati Raina, ada benarnya juga.


Terkadang terbesit juga pikiran seperti itu, jangan-jangan Rean memanfaatkan kepercayaan Raina yang besar untuk mencipatakan kebohongan-kebohongan lainnya.


Namun perasaan itu selalu berhasil Raina tepis dengan meyakinkan dirinya sendiri jika Rean tidak akan kembali melakukan hal sejahat itu.


"Papa nggak mau tau, dan ingin kamu segera akhiri kebodohan kamu itu."


"Pa Raina mohon, ini benar-benar sudah selesai."


"Belum selesai sebelum kalian bercerai. Mau sebanyak apapun alasan Rean tetap saja itu tidak akan membuat papa percaya ... Kamu tahu gimana perasaan papa melihat putri papi di hianati selama satu tahun lamanya."


Papa yang paling sayang dengan Raina, sebisa mungkin papa akan melakukan semuanya yang terbaik untuk putrinya tersebut.


Ia sudah terlajur kecewa dengan Rean yang sudah membuat putrinya menderita seperti ini dan mau tidak mau pernikahan itu haruslah di akhiri.


"Pa, Raina mohon—"


"Jangan sebodoh itu Raina, jangan bodoh. Papa nggak mau tau kalian harus segera pisah, papa akan ajukan dokumen perceraian hari ini juga."


Raina bukanlah tipe anak durhaka, melihat ayahnya semarah ini sebenarnya ia tidak memiliki keinginan untuk melawan. Namun sayangnya kali ini yang dibahas adalah keutuhan rumah tangganya yang harus ia pertahankan.


Meski perbuatan Rean itu pernah sangat menyakitinya tetapi itu baru saja berlalu dan Raina sudah mulai beranjak dari kejadian itu.


Entah akan bagaimana ceritanya jika sampai ia harus berpisah dengan Rean, kedua anaknya tidak akan mendapatkan kasih sayang terlebih anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


Raina tidaklah setega itu membiarkan anaknya tidak mengecap kasih sayang seorang ayah.


"Kamu bodoh banget kalau memaafkan Rean!" nada bicara papa meninggi.


"Sekarang ini yang Raina pikirkan bukan hanya tentang diri Raina ada Mikaila dan anak Raina yang belum lahir. Jika kita bercerai bagaimana dengan mereka? Raina nggak mau mereka tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah."


"Ada papa disini, papa yang akan memberikan kasih sayang berlimpah pada kedua cucu papa. Kamu nggak usah khawatir Raina!"


Sesayang apapun, kasih sayang seorang ayah tidak mungkin bisa digantikan oleh orang lain. Contohnya saja meski Rean dirumahnya hanya saat malam dan pagi tetapi Mikaila tetap sangat dekat dengan Rean, anak itu tidak bisa jika sehari saja tidak bersama Rean.


Mungkin itu yang dinamakan ikatan batin, dan Raina tidak setega itu memisahkan mereka.


"Benar kata papa kamu Raina, Rean itu nggak baik buat kamu. Dia mungkin saja masih menyembunyikan kebohongan lainnya, jangan bodoh."


"Raina mohon Pa, Ma."


"DIAM DAN KITA PULANG SEKARANG!"


kalimat super keras itu disertai dengan tarikan lengan yang membawa Raina keluar dari sana.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 17 January 2022^^^


__ADS_2