
"Aku numpang keringin rambut lagi ya?"
Ditya mengangguk dan mempersilahkan Raina masuk, tentu ia sama sekali tidak keberatan oleh Raina yang datang ke kamarnya. Hanya saja ia tetap membuka lebar pintu kamar miliknya, mereka tetap dua orang lawan jenis yang masih normal tentunya.
"Aku tuh padahal udah dari pagi loh laporan kalo stop kontaknya mati, tapi tetep aja sampai sekarang belum dibenerin."
"Sabar aja—"
Bugh,
Bugh,
Dua pukulan mendarat di wajah Ditya karena tidak siap lelaki itu harus tersungkur di lantai. Rean yang berdiri dengan amarah membara itu hendak memukul Ditya kembali jika Raina tidak mencegah.
"Ditya maaf banget ya."
Selanjutnya Raina membawa Rean keluar dari kamar itu, ia tidak tahu bagaimana caranya Rean bisa kesini, padahal ia sudah menganti kartu sim dan memblokir sementara semua sosial medianya dengan tujuan Rean tidak bisa melacaknya.
"Kamu ngapain kesini Mas!"
"Siapa dia?" bukannya menjawab Rean justru mengeluarkan pertanyaan.
Nafas Rean memburu bersama dengan urat-urat lehernya yang menonjol. Rean sangat marah.
"Itu nggak penting Mas!"
__ADS_1
"Kamu masih istriku Raina, sah secara hukum dan agama. Kamu nggak seharusnya pergi kesini dan tinggal berdua bersama laki-laki lain."
"Emangnya kamu pantes juga nyembunyiin perselingkuhan kamu selama setahun, dan kamu lihat aku kaya gini aja langsung marah-marah nggak jelas!"
Rean mencengkram tangan Raina, sangat kuat hingga wanita itu meringis.
"Ini beda Raina—"
"Jelas beda, kalau yang kamu lakuin itu brengs*ek Mas!"
"Aku masih suami kamu Raina, kamu pergi sama laki-laki lain sampai satu kamar seperti ini? Ini nggak pantes Raina!"
"Lebih nggak pantes lagi, orang yang diem-diem nikah selama satu tahun dibelakangku. Kamu bilang kamu masih suami aku kan? Lalu selama ini aku apa, kok kamu sampai seperti itu?"
Rean tidak menjawab pertenyaan Raina itu, lengannya bergerak untuk menarik tangan Raina.
Raina menghempaskn lengan Rean. Pulang sekarang itu adalah buruk, lalu alasan seperti apa yang nanti akan dijelaskan pada Mama.
"Nggak!"
"Kamu mau lanjut pacaran sama dia?"
"Mas nggak brengs*k kaya kamu kok, aku sama dia baru kenal, kita bukan siapa-siapa kok."
"Kamu di kamar dia."
__ADS_1
"Terserah percaya atau nggak, itu nggak penting, yang intinya aku nggak jahat kaya kamu buat hianatin hubungan kita ... Aku kesini karena mau lupain masalah kita, aku cuma pengen tenang Mas, aku capek. Tapi kamu malah nyusul aku kesini dan bikin aku capek lagi."
Rean terdiam, tidak ada kalimat yang ingin ia bicarakan sama sekali.
"Kasih aku waktu buat sendiri, kasih waktu aku buat nyembuhin luka aku. Kamu pikir aku baik-baik saja setelah masalah itu? Nggak sama sekali! Aku hancur Mas, terus sekarang aku cuma mau lupain semuanya, aku mau masalah itu hilang sebentar, kamu bisa nggak sih biarin aku tenang sebentar?"
"Semuanya udah selesai, aku kembali sama kamu, kita—"
Raina mendengus lalu menggeleng.
"Nggak semudah itu Mas, rumah tangga kita udah nggak bisa kembali lagi kaya dulu. Kamu juga nggak bisa ninggalin Erina gitu aja, udah ada anak yang hadir diantara kalian, kamu nggak bisa lepas tanggung jawab gitu aja ... Itu semua perbuatan kamu, dan sekarang itu tanggung jawab kamu."
"Sayang—"
"Aku pengen sendiri dulu Mas, tolong biarin aku sendiri."
Raina melangkahkan kakinya menuju pantai, Rean hanya menatap sendu punggung yang mulai menjauh itu.
Ini adalah pukulan yang sangat berat untuknya, yaitu melihat wanitanya memalingkan perhatian.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
__ADS_1
^^^Central java, 06 Desember 2021^^^