
Wajah itu nampak layu, begitu juga dengan sorot mata letih yang begitu terlihat. Namun meski demikian, senyuman tetap merekah di bibir itu. Memberikan ketenangan dan seolah berkata jika dirinya baik-baik saja.
Selanjutnya ia beranjak, merebahkan tubuhnya di ranjang dengan meletakan kepala di paha wanita tercintanya.
"Aku denger papa mencabut semua kerjasama dan menjual sahamnya di Atmaja group dengan murah? Kenapa kamu mau sih, Mas. Atmaja group pasti hancur setelahnya."
Rean tidak menjawab, hanya seulas senyuman yang berada di bibirnya.
"Aku nggak mau pisah sama kamu, pisah sama anak-anak."
Raina tahu bagaimana usaha Rean membangun Atmaja group, dia menemani perjuangan Rean dari saat perusahaan itu hanya perusahaan biasa menjadi sebesar sekarang.
Atmaja group adalah bukti kerja keras Rean, yang tidak mungkin akan hancur begitu saja.
"Kan aku udah bilang, papa tuh pasti nanti kasih maaf. Tinggal nunggu aja, nggak perlu korbanin perusahaan."
Tidak, papa berkata untuk memilih perusahaannya hancur atau Raina. Jika Rean kukuh memilih perusahaan maka papa tidak akan pernah mau percaya lagi dengan Rean. Sudah dipastikan papa akan
"Sayang aku capek, ceramahnya nanti aja ya."
Bukannya mereda Raina justru dibuat semakin kesal, ia tidak habis fikir apa yang ada dipikiran papa dan suaminya ini.
"Mas kamu beneran bisa liat perusahaan yang kamu bangun susah payah hancur begitu saja? Aku tahu gimana perjuangan kamu dulu, masa cuma dengan masalah kaya gini kamu hancurin karir kamu."
Rean bangkit, mensejajarkan dirinya dengan Raina.
"Atmaja group memang penting, memang itu adalah bukti kerja keras aku. Tapi ada yang lebih penting yaitu seseorang bernama Raina Zalfania, dia duniaku. Daripada karir aku lebih memilih duniaku."
Air mata Raina menetes, ia tentu sangat senang mendapatkan perilaku demikian dari Rean. Meski senang tetapi ia juga sangat menyayangkan dengan apa yang saat ini tengah terjadi.
"Kamu tenang aja, aku bakal berusaha cari cara biar perusahaan nggak jatuh."
"Gimana caranya Mas? Pemutusan kerjasama itu merugikan kedua belah pihak tetapi yang mengalami kerugian yang sangat besar Atmaja group sedangkan kita tahu sendiri baru saja ada musibah kebakaran gudang. Ditambah lagi dengan papa yang cabut semua sahamnya dan jual dengan sangat murah. Gimana caranya perusahaan bisa bangkit Mas?"
"Aku janji sekalipun Atmaja group jatuh, hidup kamu nggak akan susah. Aku nggak bakal biarin kamu hidup susah."
Sebenarnya Raina tidak peduli dengan itu semua, ia tidak peduli jika pekerjaan Rean hanya seorang kuli atau apapun. Yang sangat ia sayangkan adalah perusahaan yang Rean bangun dengan mati-matian harus jatuh begitu saja.
"Bukan itu masalahnya, aku nggak tega liat kamu kaya gini terus. Dari kamaren kamu sibuk ngurusin kebakaran kamu pasti capek, masalah itu belum selesai tapi datang lagi masalah baru ini. Aku yakin bukan cuma tubuh kamu yang capek tapi pikiran kamu juga lebih ... Sedangkan aku cuma bisa liat kamu kaya gini tanpa bisa ngebantuin kamu."
"Aku nggak capek, aku—"
"Bohong! Aku bukan orang yang baru kenal kamu satu dua hari. Kamu jangan sembunyiin semua lelah kamu dari aku—"
Rean menghentikan kalimat Raina dengan kecupan pelan di bibir, selanjutnya ia membawa Raina ke dalam pelukannya.
"Gimana mungkin aku bisa lelah, sedangkan aku berjuang untuk orang yang aku cintai."
__ADS_1
***
Sudah 3 hari ini Kala sama sekalu tidak menginjakkan kakinya di rumah, sedari tadi Dewi mondar-mandir tidak jelas di depan pintu dengan harapan Kala cepat kembali.
Semenjak pertengkaran terakhir mereka Kala memang tidak kembali ke rumah, entah dimana keberadaan lelaki itu Dewi juga tidak mengetahuinya.
"Kamu kemana sih, Mas."
Nomor Kala juga tidak bisa Dewi hubungi, entah memang tidak aktif atau nomor Dewi di blok.
"Mas Kala udah kelewat keterlaluannya!"
Dewi bergegas mengambil jaket dan juga tasnya, pergi ke area depan untuk mencegat taksi.
Tidak begitu lama dirinya menunggu ada taksi yang lewat dan langsung ia naiki.
"Ke perumahan semesta ya, Pak."
Sopir itu mengangguk dan lekas melajukan mobilnya.
Setelah sampai di tempat tujuan Dewi memberikan sejumlah uang pada sopir taksi dan lekas turun.
Dirinya mengetuk pintu dengan nomor rumah 29 itu, tidak begitu lama mama Kala datang untuk membuka pintu.
Dewi mendatangi rumah mertuanya dengan berurai air mata, ia langsung menjatuhkan dirinya di pelukan ibu Kala.
"Loh Dewi kok kamu nangis?"
Ibu tentu terkejut mendapati sang menantu datang malam-malam dengan berurai air mata seperti ini.
"Kamu kenapa? Barentem sama Kala?"
"Mas Kala nggak pulang, Ma. Udah tiga hari."
Bagai disambar petir tentu saja ibu sangat kaget mendengarkan hal itu. Setahunya Kala adalah putranya yang sangat ia banggakan, Kala itu adalah sosok lelaki bertanggung jawab yang ia didik sendiri.
"Yuk masuk dulu."
Ibu membawa Dewi masuk dan tidak lupa menutup pintu rapat-rapat, setelahnya ia membawa Dewi ke sofa.
"Kala beneran nggak pulang? Soalnya dia juga nggak kesini sayang."
"Iya Ma, udah tiga hari Mas Kala nggak pulang."
"Kalian sebelumnya bertengkar atau apa?"
Jawaban Dewi seharusnya anggukan karena terkahir bertemu memang mereka bertengkar, tetapi yang Dewi lakukan justru menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Enggak, Ma. Kita nggak bertengkar. Tiba-tiba aja Mas Kala pergi dari rumah dan nggak bisa dihubungi."
"Kamu serius?"
"Serius Ma. Aku nggak tau harus cari mas Kala kemana. Tapi ada satu hal yang buat aku curiga."
"Curiga?"
"Akhir-akhir ini mas Kala deket banget sama mbak Raina, aku yakin mereka pasti selingkuh!"
Ibu menggeleng, dirinya dekat dengan Raina dan tidak mungkin wanita yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu berbuat seperti itu.
"Itu nggak mungkin, mama tahu Raina dan Kala hanya berteman, kamu jangan negatif thingking dulu sayang."
"Ya justru karena mereka dekat itulah mereka jadinya selingkuh, Ma. Mbak Raina sama suaminya lagi ada masalah, makanya dia godain mas Kala. Mbak Raina itu emang kurang ajar tampangnya aja sok polos tapi dalemnya pengenin laki orang."
"Enggak mungkin Wi, mama kenal dekat sama Raina, dia nggak kaya gitu."
"Ya terus mas Kala kemana? Satu-satunya wanita yang dekat sama dia yang cuma mbak Raina itu."
"Bentar mama coba telfon Kala kalau bisa."
Ibu mengambil ponselnya di meja dan lekas mendial nomor putra sematawayangnya itu.
Tidak begitu lama nada sambung terdengar yang disusul suara seorang lelaki.
"Bisa di hubungin kok."
"Hallo, Ma. Ada apa?"
"Kamu ini dimana?"
"Aku—, aku dirumah. Kenapa Ma?"
"Dirumah apanya Mas, jelas-jelas kamu udah tiga hari nggak pulang!" teriak Dewi.
"Kamu kemana aja sebenarnya Kala?" tanya ibu sekali lagi.
"Kala sekarang pulang dan jelasin semuanya."
Kala tentu bersedia pulang, ia bukan tipe orang yang akan lari tanpa tanggung jawab dari masalahnya. Kala hanya pergi dari rumah untuk pergi dari Dewi, ia sudah berada di batasnya dan tidak bisa lagi untuk bersama Dewi jadi ia memutuskan untuk pergi.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
__ADS_1
^^^Central java, 06 Februari 2022^^^