Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
94. Jangan pergi ayah!


__ADS_3

•1 Bulan kemudian.


"Bunda! Bunda!"


Saat memasuki kamar anak itu, Mikaila sudah menangis dengan wajah yang sepenuhnya merah. Raina langsung mendekap anak itu sangat erat dan menanangkannya.


"Mikaila kenapa?"


Pasalnya dirinya baru saja selesai mandi dan baru akan membangunkan Mikaila, tetapi belum juga sampai di kamarnya, anak itu sudah menangis sehisteris ini.


Raina menghapus jejak air mata dan menepuk punggung anak itu.


"Mikaila kenapa, mimpi buruk? Sini cerita sama Bunda."


"Tadi, tadi Mikaila lihat ayah pergi, sekarang ayah ada dimana bun? Ayah nggak pergi kan?"


"Enggaklah sayang, kan cuma mimpi, nggak mungkin jadi kenyataan."


Jika bukan sangat menakutkan Mikaila tidak akan mungkin menangis sehisteris itu, karena kenyataannya hal yang paling menakutkan untuk anak itu bukanlah bertemu monster tetapi jika harus berpisah dengan ayahnya.


"Tapi itu kaya kenyataan bun, Mikaila sampai takut banget. Ayah tiba-tiba lepas tangan Mikaila terus berjalan jauhin Mikaila ke jembatan panjang banget, udah Mikaila panggil tapi tetep ayah nggak mau balik hiks...."


Anak itu mengusap air matanya sebelum kembali bercerita.


"Mikaila udah teriak-teriak Bun buat manggil ayah tapi ayahnya nggak ke Mikaila, Mikaila nungguin ayah lama banget tapi ayah tetep nggak balik. Sampai Mikaila nangis ayah tetep nggak balik Bun, ayah dimana Bun? Ayo kita ke ayah."


Semalam Rean memang tidak kembali ke rumah, tetapi semalam Mikaila juga sudah menelpon ayahnya itu sebelum tertidur.


Atmaja group sekarang sudah hampir beroprasi seperti semula, berkat kerja keras Rean dan beberapa bawahannya. Perusahaan yang tadinya berada di ambang kehancuran itu sekarang mulai normal kembali.


Tetapi karena usaha keras itu juga sekarang Rean sangat jarang berada di rumah, lebih sering keluar kota menyelesaikan bisnisnya dan sampai tidur di kantor karena saking sibuknya.


"Bun, ayo kita ketemu ayah."


"Ayah kan lagi kerja sayang."


Anak itu kembali menangis membuat Raina kian panik. Mikaila bukan lagi anak balita yang bisa ditenangkan dengan kalimat semacam itu.


"Kan ini hari libur Bun, ayo Bun kita ketemu ayah."


Raina akhirnya mengangguk, tidak ada salahnya pergi ke kantor sekaligus ingin menasihati Rean yang sekarang ini super sibuk.


"Yaudah sekarang, Mikaila mandi terus kita langsung ke kantor ayah."


***


Begitu sampai di kantor Rean, memang ada beberapa orang yang masuk kerja di hari minggu seperti ini. Atmaja group memang tengah berbenah diri dan mereka semua juga benar-benar bekerja mati-matian agar perusahaan besar itu tidak tumbang dan menjadikan ratusan karyawan kantor dan ribuan buruh pabrik nya harus kehilangan pekerjaan.

__ADS_1


"Eh Bu Raina,"


Thalia yang tadinya sibuk dengan laptop nya kini menyapa Raina, yang dibalas wanita itu dengan senyuman manis.


"Pak Reannya ada?"


"Ada di dalam, Bu, tapi sedang ada tamu."


"Ini kan hari libur, emangnya tamu darimana yang bertamu di hari libur?"


Tentu saja rasa curiga itu memenuhi pikiran Raina, pengalaman masa lalu tetang kebohongan yang pernah Rean ciptakan tentu masih menjadi trauma mendalam dihatinya.


"Perempuan kan pasti tamunya?"


"Aku kok tamunya, Na." sosok Ditya yang baru saja keluar dari ruangan Rean membuatnya menghela nafas lega.


"Eh Ditya, apa kabar Dit?"


Ditya tidak mengenakan baju kerja, itu artinya bukan datang untuk membahas pekerjaan.


"Baik, Na. Kamu sendiri gimana?"


Pandangan Ditya beralih pada Mikaila yang berada di samping Raina.


"Ini pasti Mikaila, ya?"


"Aduh, cantik banget ya, kaya mamanya." ucapnya sembari melirik kecil ke arah Raina.


"Iya mamanya memang cantik, mau apa kamu?"


Entah sudah sejak kapan Rean berdiri di samping Raina dan menunjukkan tatapan sinisnya pada Ditya.


Kalian harus tau jika bapak satu ini memiliki tingkat kecemburuan yang super besar.


"Aduh pawangnya dateng, yaudah aku duluan ya."


Ditya melangkahkan kakinya dari tempat itu.


"Ayah." meliat sosok ayahnya Mikaia langsung berlari dan mendekat Rean, sangat erat sebelum akhirnya kembali terisak.


"Loh kok nangis?"


Mikaila tidak menjawab dan tetap menyembunyikan wajahnya di kaki Rean yang tengah ia peluk. Rean pun membawa Mikaila ke gendongannya dan memasuki ruangan.


"Kenapa anak ayah nangis?"


"Mimpi buruk, Mas."

__ADS_1


Senyuman mengembang di bibir Rean dengan perlahan ia mengusap air mata di pipi putrinya.


"Mimpi apa emangnya sampai nangis kaya gini, hm?"


"Hiks... Mikaila mimpi Ayah ninggalin Mikaila, Mikaila udah panggil-panggil tapi Ayah tetap nggak peduli. Ayah jangan ninggalin Mikaila ya."


"Udah kan cuman mimpi, ini buktinya ayah ada disini, di depan Mikaila kan?"


"Janji ya Ayah."


Hanya menjawab pertanyaan anak itu dengan senyuman Rean kembali mendekap anak itu di dadanya.


"Kamu nanti malem pulang kan, Mas?"


"Iya sayang nanti aku pulang."


Pandangan Raina teralihkan pada sebuah bungkusan obat di meja Rean, "ini obat apa, Mas?"


Rean tampak panik dan langsung mengambil alih bunkusan obat itu untuk diletakan di laci meja.


"Itu vitamin aja, kan akhir-akhir ini aku sibuk."


Tentu saja Raina tidak langsung percaya, jumlah obat itu lumayan banyak, tidak mungkin kan vitamin sebanyak itu.


"Beneran Mas?"


"Ya benerlah sayang."


"Masa sih."


"Emang apalagi kalau bukan vitamin, lagian aku aku bohong sama kamu."


Kalimat terkahir Rean itu sepertinya kurang tepat, jangan lupakan kebohongan satu tahun yang sudah Rean ciptakan. Tidak menutup kemungkinan saat ini Rean masih bisa menyembunyikan sesuatu di belakang Raina.


Lalu apakah Rean jujur jika itu memanglah vitamin, ataukah bukan?


...━━━━━ H E I S N O T A H U M A N━━━━━...


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,


Khalisa🌹

__ADS_1


__ADS_2