Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
43. Masih Peduli.


__ADS_3

"Mbak Tati mau belanja?"


Mbak Tati yang berjalan dengan tas belanjaan besar itu menganggukan kepalanya, "iya Bu, mau ke pasar."


"Nanti saya mau masak ayam kecap, tolong beli ayamnya banyakan ya Mbak."


"Baik Bu, kalau gitu saya berangkat dulu."


Raina mengangguk, matanya mengantarkan kepergia mbak Tati.


Mbak Tati ini adalah seorang asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Ibu Rean, mengantikan tugas yang sebelumnya Raina kerjakan.


Sebenarnya Raina tidak begitu membutuhkan pembantu, ia bisa menyelesaiakan sendiri semua pekerjaan rumah. Tetapi mbak Tati sudah terlanjur bekerja, ia juga mendengar pengakuan mbak Tati yang memiliki 3 anak masih sekolah di kampung, ia tidak sampai hati memecat mbak Tati begitu saja.


Raina bergegas menuju dapur, ia ingin menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak nanti. Meski sudah ada pembantu Raina tetap ingin memasak, ia sama sekali tidak melakukan apapun sekarang selain memasak.


Akhhh,


Tidak sengaja jarinya terkena pisau, luka sedikit memanjang yang mengalirkan darah. Dengan segera Raina membasuh jarinya dengan air mengalir, setelah itu mengambil plaster di kotak obat.


"Tadi ketusuk jarum, sekarang kena pisau, ada-ada aja."


Perasaannya memang sedikit tidak enak sehingga Raina tidak fokus sedari tadi.


Setelah selesai dengan lukanya Raina beranjak kembali ke dapur, tetapi bersamaan dengan itu ia mendengar telepon rumahnya berbunyi. Sudah jarang ada orang yang menelpon ke rumah, biasanya langsung ke nomor wa atau telepon.


"Halo Bu Raina."


Setahunya itu adalah suara Ardhan, bawahan Rean di kantor.

__ADS_1


"Iya ada apa?"


"Pak Rean kecelakaan Bu."


Mendengar kalimat itu tentu saja membuat jantung Raina berpacu cepat. Ini masih pagi, Rean juga baru berangkat beberapa jam lalu.


"Kamu serius?"


"Iya Bu—"


"Dimana? Sekarang dimana?"


"Rumah sakit Santera Bu."


Tanpa berucap Raina langsung menutup teleponnya, meraih kunci mobil dan langsung pergi. Tidak peduli dengan kaos oversize dan celana pendek yang tengah ia kenakan, yang harus ia pastikan sekarang adalah kondisi Rean.


"Mas Rean mana?"


"Masih di ruang operasi Bu, mari."


Raina mengikuti langkah kaki Ardhan menuju ruang operasi, ruang operasi yang tentu saja tertutup membuat Raina harus menunggu diluar dengan berbagai perasaan yang tidak menentu.


Antara takut dan juga semua hal yang tidak-tidak sesak dalam dadanya. Jika tidak menahannya, air mata Raina pasti sudah berucucuran.


"Keadaan Mas Rean nggak parah kan?"


Ardhan mengangguk, "Ibu tenang dulu."


"Kok bisa kecelakaan sih?"

__ADS_1


"Jadi tadi kita lagi survei pabrik, Pak Rean pergi ke alfa di seberang pabrik. Saat menyebrang ada pengendara mabuk yang akhirnya nabrak Pak Rean."


"T-terus mana yang nabrak?"


"Udah diamanin polisi."


Dokter keluar dari ruang operasi, membuat jantung Raina makin tidak karuan lagi.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?"


"Pasien mengalami keretakan di tangan kanannya dan juga di bahu kanan dan luka di kepala."


Jatuhnya Rean saat itu menyamping sehingga hanya satu sisi tubuhnya saja yang mendapatkan cedera.


"Saya bisa masuk kan dok."


Mendapatkan anggukan dari dokter itu Raina langsung bergegas masuk, ia langsung menghambur ke pelukan Rean.


Tak terasa air mata sudah menetes membanjiri Raina. Sebenci apapun Raina pada Rean, ia sama sekali tidak akan pernah siap jika ditinggalkan oleh Rean.


Tetapi semua kepedulian Raina itu nyatanya tidak terlihat oleh Rean, sang empunya tengah tertidur entah karena pingsan atau pengaruh obat bius. Jika Rean tahu, Raina masih begitu peduli padanya ia pasti senang bukan main.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 07 Desember 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2