Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 108


__ADS_3

Erina baru saja siap bersiap, ia mebgenakan sebuah dress berwarna navy dan hanya membiarkan rambutnya tergerai. Segera ia memasukan masakannya ke dalam sebuah kotak makan. Ia berharap rasa ini sudah sempurna dan ia akan mendapatkan pujian dari Sisca karena sudah berhasil memasak dengan benar.


"Mau kemana kamu?"


"Eh itu Ma, mau ketemu sama kakakku."


"Yakin kakak kamu?"


"Iya Ma, Erina udah ada janji sama Mbak Sisca buat ketemu, kita udah lama nggak ketemu."


"Yasudah sana pergi, saya juga tidak peduli."


Erina hanya mengangguk lalu bergegas pergi, ia sama sekali tidak menaruh dendam atau amarah karena itu hanya akan membuat hatinya tidak tenang saja.


Lagi pula ia sudah mendapatkan perlakuan itu setiap hari jadi lebih baik diam dan tidak melawan. Karena tidak mungkin juga mau melawan itu adalah mertuanya sendiri.


Sedangkan kebenciannya pada Erina sepertinya sudah mendarah daging, benci itu seperti tidak akan pernah bisa diobati.


Erina menaiki taksi yang kebetulan tadi sudah ia pesan, taksi itu melaju menuju ke cafe tempatnya dan Sisca bertemu.


Tidak begitu lama akhirnya taksi sudah sampai di cafe tujuan, begitu masuk Erina sudah mendapati Sisca berada di sana.


"Hai, Mbak."


"Apa kabar Rin?"


"Baik dong, Mbak."


Erina sama sekali tidak pernah cerita pada Sisca mengenai perilaku buruk mertuanya, selama ia masih sanggup mengahadapinya dengan kesabaran Erina tidak akan membaginya untuk orang lain.


Erina juga sama sekali tidak bercerita pada Sisca mengenai kecurigaannya terhadap Ditya, ia tidak ingin kakaknya ini ikut pusing dengan urusan rumah tangganya.


"Mana masakannya?"

__ADS_1


Erina mengeluarkan sebuah kotak makanan yang tadi ia bawa. Erina memasak dua hidangan yaitu tumis udang telur asin dan jug balado telur. Minggu lalu ia juga memasak dua hidangan itu tetapi rasanya masih aneh sehingga sekarang ia mengulanginya lagi dengan saran dari Sisca.


Sisca mulai mencicipi satu persatu masakan adiknya.


"Hmm udah banyak perubahannya, ini enak Rin. Tapi buat udangnya ini terlalu keras Rin, kamu jangan terlalu lama masak udangnya kalau nggak mau keras kaya gini."


"Oh gitu ya, Mbak, aku bakal inget-inget sarannya."


"Iya buat rasanya ini udah mantep banget sih."


"Oh iya, Mbak. Mbak punya rekomendasi lowongan kerja nggak mbak, aku udah kirim surat lamaran ke beberapa perusahaan tapi belum ada balasan."


"Kamu mau kerja lagi?"


"Iya, Mbak kayak bosen gitu aja dirumah terus, kayaknya aku mau kerja aja."


"Udah omongin sama Ditya?"


"Udah kok Mbak, katanya terserah mau kerja lagi apa mau di rumah, dia nawarin juga buat kerja di perusahaannya tapi ya kalau disana adanya lowongan buat karyawan biasa dan kayaknya agak gimana aja gitu kalau harus disana kan Mbak."


"Iya, Mbak."


Sisca menilik jam di pergelangam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Ia tentu harus segera pulang untuk memasak makanan untuk makan malam.


"Rin, Mbak nggak bisa lama-lama ni, ada lagi yang mau kamu omongin nggak?"


"Udah kok Mbak, makasih yaa."


"Iya, Mbak duluan ya."


Erina mengangguk membiarkan Sisca beranjak, tetapi baru saja Sisca menghilang di pintu cafe ia mendapati seorang pria dan wanita baru memasuki cafe dengan wajah pria itu yang sangat ia kenali.


Mereka mengambil tempat duduk jauh di depan yang membelakangi Erina sehingga mereka tidak melihat adanya Erina disana. Tetapi Erina yakin jika lelaki itu adalah Ditya sang suami. Jas itu adalah jas yang tadi pagi Ditya kenakan saat berangkat ke kantor, bahkan Erina sendiri yang menyiapkannya jadi bagaimana bisa ia lupa.

__ADS_1


Tangan Erina mulai bergetar, begitu juga dengan hatinya yang sangat sesak melihat mereka tengah saling beradu tawa. Seperti dua pasangan yang sangat bahagia.


Tapi otaknya masih berteriak keras agar hatinya tidak mempercayai apa yang kini tengah ia lihat. Ia perlu benar-benar membuktikan jika lelaki itu adalah Ditya atau hanya orang yang memang mirip dengan Ditya.


Erina ingin sekali prasangka nomor dua yang terjadi.


Erina segera mengetikkan pesan pada ponselnya yang ditujukan pada Ditya.


Kamu dimana?


Orang disana terlihat memegang handphonenya juga sesaat sebelum Ditya membalas.


Husband ♥


Aku masih di kantor, Rin aku nanti lembur kayaknya bakal pulang malem.


Luruh sudah air mata Erina, hatinya benar-benar terasa sangat sesak, sakit itu begitu nyata dan dalam sekali.


Mengatakan tengah di kantor tapi kenyataannya tengah pergi makan dengan seorang perempuan.


Ia berdiri, ingin menghamipir Ditya dan meminta lelaki itu menjelaskan semuanya. Tetapi baru saja satu langkah ia melangkah Erina sudah berhenti, entah mengapa rasanya tidak sanggup untuk pergi kesana.


Erina justru malah berlari keluar dari cafe itu, segera menyetop taksi dan menumpahkan semua tangisnya, tidak peduli tatapan aneh dari supir taksi.


Hatinya sangat sesak, mengapa ia harus berada di dalam kondisi seperti ini?


...━━━━━ P K M T M K━━━━━...


Waduhh, ada nggak nih yang kasian sama Erina?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.

__ADS_1


With love,


Khalisa🌹


__ADS_2