Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
48. Pulang.


__ADS_3

Hari ini Rean sudah kembali dari rumah sakit, setelah lima hari lamanya di sana, sekarang dokter sudah mengijinkan untuk rawat jalan. Retak tulang yang di alami mungkin bisa benar-benar sembuh dalam 3-4 minggu dan selama itu dokter meminta Rean untuk mengurangi aktivitasnya dulu.


Tentu saja Rean menurut, berada di rumah bersama istri dan anaknya adalah yang menyenangkan, terlebih Raina sekarang sedang tidak begitu jutek terhadap dirinya. Tapi, misalnya berangkat ke kantor percuma juga, tangan kanannya masih sakit, ia tidak kidal sehingga tidak mungkin menggunakan tangan kiri untuk misalnya menandatangani proposal atau mengoperasikan komputer secara maksimal.


Rean hanya memantau bisa proyek baru, dan memastikan jika semuanya tidak ada kendala.


Langkah kaki Rean beranjak ke dapur, di dapatinya pembantu rumah tangga mereka tengah memasak untuk makan siang. Tidak didapatinya Raina dimana, dikamar juga tidak ada.


"Mbak Tati liat istri saya nggak?"


"Ibuk tadi kayaknya ke belakang deh pak."


Rean mengangguk, tidak lupa mengucapakan terimaksih pada mbak Tati. Setelahnya ia kembali melajukan langkahnya menuju ke halaman belakang. Di halaman belakang rumah mereka ada taman bunga luas dan rumah kaca milik Raina, bunga-bunga cantik berjajar disana. Mulai dari krisan, mawar dan yang pasti paling banyak jumlahnya adalah bunga Lily, bunga yang paling disukai oleh Raina.


Senyuman Rean mengembang saat melihat Raina tengah menyemprot jajaran bunga yang berada di dalam rumah kaca.


Rean memetik salah satu bunga berwarna putih dan menyelipkannya di telinga Raina, Raina sedikit terkejut karena sedari tadi memang tidak menyadari kedatangan Rean.


"Cantinya istriku ini,"


"Ngapain malah jalan-jalan sini, istirahat sana Mas!"


"Yang sakit tangan aku bukan kaki aku sayang, jadi aku masih bisa buat ngintilin kamu."


Rean menatap sekelilingnya, ia memang sangat jarang mengunjungi halaman belakang tetapi menurutnya dari dulu seperti ini saja dan tidak mengalami banyak perubahan.


"Mau aku bantuin nggak?"


"Bantuin gimana? Kan tangan kamu lagi sakit."


"Pake tangan kiri."


Senyuman Raina mengembang, "bisa pake tangan kiri? Kalau gitu berarti udah bisa makan sendiri kan."


Selama ini setiap makan Raina masih harus menyuapi Rean, tentu tangannya yang sakit itu tidak disia-siakan oleh Rean agar mendapatkan perhatian lebih dari Raina.


"Eh enggak sayang, nggak bisa lah pake tangan kiri."


Drtt... Drtt....


Handphone di saku Raina bergetar, ia langsung mengambil ponselnya itu dan mengangkat panggilan yang masuk.

__ADS_1


"Hallo, Nar."


"Mbak Raina gausah jemput Mikaila ya, ini aku sama Mama mau rumah mbak jadi sekalian jemput Mikaila."


"Oh iya, makasih Nar, titip ya."


"Iya Mbak."


Setelah itu Raina mengakhiri panggilan.


"Siapa?"


"Nara. Katanya dia mau jemput Mikaila, soalnya dia sama Mama mau kesini."


Rean mengangguk-anggukan kepalanya, kemarin saat ia pulang dari rumah sakit ibu mertua dan Nara memang tidak datang karena memiliki kesibukan, jadi mungkin sekarang kesini untuk menjenguknya.


Mbak Tati tiba-tiba datang menghampiri Rean dan Raina.


"Pak, bu itu di depan ada tamu."


"Tamu? Siapa mbak?"


Raina langsung membolakan matanya.


"Jangan-jangan Erina, aduh gimana Mas mana mama mau kesini."


Rean ikut panik, "eh mbak tolong usir aja ya."


"Di usir pak? Aduh saya nggak berani pak."


"Kamu tuh mas, sana keluar terus urusin. Aku nggak mau tau pokoknya dia harus pergi darisini."


Rean menggelengkan kepalanya secara sepontan. "kok aku sih sayang."


"Ya kan dia istri kamu, udah sana urusin!"


"Sayang, yang ada ga selesai kalo aku keluar."


Wajah Raina mulai kesal, ia takut jika Erina tiba-tiba memeluk Rean di depan, mengingat saat dirumah sakit waktu itu Erina sama sekali belum bertemu dengan Rean.


"Yaudah sana ke kamar!"

__ADS_1


"Diusir yang jauh ya sayang."


Raina hanya mendengus sembari melangkahkan kakinya. Jika membahas tentang Erina, entah mengapa emosi selalu menyertai dirinya.


Seorang wanita duduk membelakaginya membuat Raina menghela nagas pelan untuk mengatur emosinya.


"Kamu ngapain kesini?!"


"Maksud kamu."


Raina sukses dibuat menganga dengan seorang wanita dengan senyuman manis di depannya, ia mengira yang datang adalah Erina, rupanya bukan. Ia adalah Tante Hera, adik dari papa Rean.


"Eh tante," Raina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Senyuman mengembang di bibir wanita itu, "kamu kok ngomong gitu sama tante?"


"Maaf tante, tadi aku kira orang lain."


"Orang lain siapa hayo, kamu punya musuh?"


"Enggak kok Tan, cuma marahan aja sama orang. Tapi bukan masalah sebar kok Tan."


Tante Hera tersenyum kembali, senyuman itu memang sangat manis dan pula ia tidak pelit membagi senyumanya.


"Tante sendiri aja kesini?"


"Sama Warda, tapi dia belok dulu ada urusan katanya. Palingan sebentar lagi nyampe."


Untung saja bukan Tante Warda yang tadi Raina salah pahami, karena jika tante Warda susah dipastikan Raina akan diberondong pertanyaan tiada habisnya. Tante Warda itu cerewet dan selalu menjadi moodboster yang paling depan saat acara keluarga, tapi jangan juga lupakan jika dia juga biang gosip.


"Oh iya Reannya mana?"


"Di dalem Tante lagi istirahat, Tante duduk dulu biar Raina panggilin mas Rean."


...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 17 Desember 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2