Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
54. Titik akhir hubungan dengan Erina.


__ADS_3

Lima belas menit sudah berlalu tetapi Raina belum memiliki keberanian untuk menilik hasil test pack yang berada di genggamannya. Tadi sepulang dari cafe mentari ia menyempatkan diri membeli test pack di apotik, dan sekarang jusrtu tiga buah test pack itu tidak berani ia lihat hasilnya.


Raina tidak ingat tanggal kapan terakhir kali datang bulan, tapi itu adalah saat-saat masalah perselingkuhan Rean belum terkuak. Memnag setelah rumah tangganya tidak karuan ia tidak berhubungan, tapi pada sebelumnya ia sempat beberapa kali berhubungan.


Menghela nafas pelan, Raina meletakan tesk pack itu dan perlahan meliriknya. Matanya membola saat ketiga test pack itu menunjukan dua garis. Ia sengaja menggunakan tiga buah karena takut jika hanya satu rusak dan ternyata sekarang semuanya menunjukan tanda positif.


"Aku hamil."


Dengan perlahan Raina mengusap perutnya yang masih rata itu, ia sama sekali tidak menyangka jika ada sebuah kehidupan disana. Ia tidak menyadari jika terlambat datang bulan, terlebih tidak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali di kehamilan keduanya ini.


Dahulu saat hamil Mikaila, Raina setiap pagi mengalami morning sickness, tidak nafsu makan sama sekali, bahkan berat badannya turun drastis saat dulu hamil muda.


Tetapi untuk kali ini, sama sekali tidak ada tanda-tanda seperti itu. Semuanya lancar saja seperti tidak sedang berbadan dua.


Sekarang masalahnya rumah tangganya belum kembali normal, bagaimana cara dia menjelaskan pada Rean tentang kehamilannya ini.


***


"Mas kamu disini?"


Saat memasuki apartemennya, Erina melihat Rean yang tengah menggendong Ethan, anak itu tertidur nyenyak di lengan Rean.


Helaan nafas muncul dari Rean, ia sudah sengaja datang kesini di siang hari, karena biasanya Erina sedang pergi entah kemana, tapi kali ini wanita itu malah pulang ke apartemen di jam segini.


"Aku dateng karena kangen sama Ethan."


"Tuh kan, kamu tuh harusnya nggak usah ngomong macam-macam kemarin. Tapi aku maafin kamu kok mas, aku anggap kamu nggak ngomong apapun tentang perpisahan kita."


Rean mendengus, "Aku sama sekali nggak narik kata-kataku Erina, kita emang pisah ... Tapi tidak ada yang namanya mantan ayah, aku tetep jenguk Ethan karena dia anakku."


"Mas!"

__ADS_1


Mendengar Erina yang mulai berkata dengan nada tinggi itu, Rean bergegas meletakan Ethan di tempat tidur tak lupa juga menutup pintu. Tidak ingin anakknya terbangun karena teriakkan Erina.


"Aku nggak mau ribut sama kamu, masalah kita juga udah nggak perlu dibahas lagi."


"Jangan kayak gini Mas!"


"Aku harus gimana?"


"Kita beneran berakhir?"


Rean mengangguk, mengambil jas nya yang tersampir di sofa dan lekas mengenakannya.


"Jadi percuma yang malam itu aku rencanain, kalau sampai sekarang kamu masih nggak mau kasih hati kamu ke aku!!"


Rean mengernyitkan dahinya mendengarkan kalimat penuh amarah itu.


"Jadi maksudnya malam itu rencana kamu?!"


Tangan Rean beralih mencekal lengan Erina dengan kuat hingga membuat wanita itu merintih.


"Jawab Erina!"


"JAWAB!"


Nafas Rean naik turun, rahangnya mengeras begitu juga cekalan tangannya pada Erina.


"Iya, aku lakuin itu semua karena mau dapetin kamu Mas! Aku kasih obat perangsang ke minuman kamu, terus waktu kamu masuk kamar aku ikutin kamu dan kunci pintunya. Tapi kamu pasti nggak inget semuanya."


Dihempaskannya tangan Erina dengan kasar, sekarang ini betapa ingin Rean menampar berkali-kali wajah Erina, tetapi ia sadar jika perbuatan itu kirang ajar terlebih Erina seorang perempuan.


"Jadi itu semua rencana kamu?"

__ADS_1


"Iya, aku rela nyerahin diri aku buat kamu, tapi sampai sekarang sedikitpun cinta itu nggak kamu kasih Mas!"


Brakk,


Rean meninju kaca yang berada di tembok hingga pecah tak beraturan, tangannya itu kini berdarahpun tidak ia pedulikan.


"Kamu udah hancurin sebuah rumah tangga yang tadinya tidak ada masalah sama sekali, dan kamu nggak merasa bersalah sama sekali?"


"Aku cuma pengen bahagia Mas."


"TAPI CARA KAMU SALAH!"


Air mata mulai mengalir di pipi Erina, "Aku nggak tahu gimana caranya dapet kebahagiaan aku Mas, cuma itu yang aku bisa lakuin dengan harapan kamu bisa jadi milik aku ... Cuma kamu orang yang membuat aku ngerasa punya keluarga sendiri, cuma kamu orang yang baik banget sama aku."


Dahulu Erina salah mengartikan kebaikan Rean kepadanya, Rean yang memang menganggap Erina seperti keluarganya karena bagaimanapun Erina adalah sekretaris yang membantu banyak pekerjaannya di kantor. Jadi tidak ada alasan juga menjaga jarak lebar, justru dia bersikap sangat baik pada Erina.


"Semua emang salah aku, seharusnya dari awal aku nggak perlu bersikap baik sama kamu."


"Mas!"


Rean mengurut dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri luar biasa, menghela nafas perlahan guna mentralkan dirinya kembali.


"Setelah ini jangan pernah muncul dihadapanku Erina!"


Setelah itu Rean melangkahkan kakinya pergi dari apartemen itu, seandainya saja dulu ia langsung menyelidiki semuanya dan langsung mengetahui jika itu semua ulah Erina, maka rumah tangganya tidak perlu sehancur ini.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


^^^Central java, 19 Desember 2021^^^


__ADS_2