Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
79. Aku juga bisa.


__ADS_3

Helaan nafas kembali muncul dari bibir Rean, entah itu sudah yang keberapa kali. Memijit pelipisnya pelan yang sedari tadi berdenyut sebelum membuka file baru yang ada pada komputer di hadapannya.


Setelah memeriksa data itu ia menatap nanar ponselnya yang tergeletak di sofa, dengan langkah pelan ia mengambil ponselnya yang ternyata sudah mati. Ya, Rean selalu lupa untuk mencarger ponselnya.


Setelah di sambungankan ke carger ponsel itupun kembali hidup, banyak sekali pesan daru rekan-rekan bisnis dan teman-temannya yang mengucapkan kesedihannya atas musibah yang menimpa perusahaannya ini.


Namun, Rean tidak berniat membalasnya satupun, itu terlalu banyak dan akan ia balas nanti saat memiliki waktu luang. Tujuan utamanya mengambil ponsel ini adalah karena ingin mengabari Raina, sedari semalam dirinya tidak pulang kerumah, berada di kantor dengan kaos oblong putihnya dan celana tidur.


Rean masa bodoh dengan penampilannya, saat ini ia tidak ada waktu untuk bolak-balik membenarkan penampilan.


Tok... Tok...


Pintu terketuk, "Masuk."


Setelah mendengar intrupsi itu, Thalia sang sekretaris pun masuk. Ia membawa beberapa lembar kertas di dalam map berwarna biru.


"Permisi, Pak. Ini adalah laporan kerugian atas barang di gudang."


Rean membaca laporan itu sekilas, sebelum memijit kepalanya yang kembali berdenyut. Rean memang sudah menafsir jika perusahaannya akan mengalami kerugian yang sangat besar atas musibah ini, tetapi ternyata laporan yang Thalia berikan ini jumlahnya jauh lebih besar dari tafsiran Rean.


Tidak heran sih, soalnya varian produk-produk baru yang akan launching bulan depan ikut terbakar. Ia nanti harus mengadakan pertemuan untuk membahas pengantian barang yang akan launching bulan depan.


"Apakah dapat kabar dari kepolisian tentang penyebab kebakaran?"


"Masih diselidiki, Pak."


"Bagaimana dengan satpam yang berjaga, mereka adalah orang pertama yang harusnya paham masalah ini."


"Sudah berada di tangan polisi, Pak."


Rean mengangguk.


"Tolong kabarkan pada bagian produksi dan penjualan untuk nanti mengadakan rapat jam 2."


Thalia mengecek jadwal Rean yang berada di tab nya.


"Maaf, Pak. Nanti jam setengah 3 siang, ada meeting dengan para pemegang saham."


Rean melirik jam yang berada di ponselnya, jam menunjukan pukul sebelas pagi. Jika rapatnya sekarang tentu tidak mungkin karena ia menbutuhkan waktu untuk membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, terlebih sebentar lagi bertabrakan dengan jam makan siang.


"Katakan jam 12.15 untuk sudah berada di ruang rapat, ingat jangan sampai ada yang terlambat karena waktunya tidak banyak."


"Baik, Pak."


Seperginya Thalia dari ruangan itu kini giliran Raina yang masuk, sebuah paperbag berisi beberapa kotak makanan untuk Rean.


"Kok kamu kesini sih?"


Raina memperhatikan lelaki itu dari atas hingga bawah, apa-apaan itu, sudah duduk di meja kerja tetapi penampilannya masih seperti itu.


"Kamu pasti belum sempet makan kan dari tadi pagi."


Mana sempat pergi membeli makanan sekalipun perutnya meronta untuk diisi, Rean sangatlah sibuk.


Raina menata kotak-kotak makanan itu dimeja.


"Ayo, Mas makan dulu."


"Bentar sayang aku,"


Raina memandang kesal Rean, lelaki itu selalu saja mengesampingkan kesehatannya.

__ADS_1


"Mas!"


Rean meletakan berkas-berkas yang tengah ia periksa, melangkahkan kakinya menghampiri Raina yang duduk di sofa. Alih-alih menyantap makanan yang Raina bawa, Rean justru tidur berbantalkan kaki Raina.


"Aku capek sayang, mau tidur bentar."


Raina yang tadinya ingin memaksa Rean untuk makan lagi pun mengurungkan niatnya, gurat kelelahan memang nampak sekali di wajah Rean begitu juga dengan kedua lingkar hitam di bawah mata.


Rean tidak tidur semalaman karena mengurus beberapa urusan yang mau tidak mau haruslah ia urus.


"Bagunin aku jam setengah dua belas ya."


"Iya, Mas."


Jan sudah menunjukan pukul setengah satu siang, tetapi melihat Rean yang tidur nyenyak seperti ini Raina tidak mungkin tega menganggunya, suaminya ini butuh istirahat.


Raina tahu Rean lelah.


Tok... Tok...


"Masuk."


"Permisi, Bu. Itu tim produksi dan penjualan sudah bersiap dalam pertemuan."


Raina menatap kembali Rean yang masih tenggelem dalam alam mimpi, bahkan percakapannya dengan sekretaris saja Rean tidak merasa terganggu sedikitpun dalam menjelajahi mimpinya.


"Gimana kalau saya yang gantiin?"


Thalia mengenyitkan dahinya.


"Ibu yakin?"


Raina mengangguk, meski bukanlah seorang wanita karir tetapi Raina bukanlah orang bodoh. Ia menyandang gelar magister, jika ia tidak bisa mengurus hal seperti ini percuma saja gelarnya.


Namun Raina justru melepaskan semua itu untuk menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga.


"Kamu jelaskan semuanya ke saya masalahnya, biar saya yang diskusi dengan bagian produksi dan penjualan."


Raina meraih bantal sofa dan dengan sangat hati-hati memindahkan kepala Rean dari pangkuannya, lalu beranjak keluar ruangan.


"Jadi pertemuan ini membahas tentang launching produk bulan depan, dimana semua barang yang akan dilaunchingkan telah terbakar habis Bu."


"Bagaimana dengan yang masih dipabrik? Pasti ada kan?"


Thalia mengambil satu map berisi beberapa dokumen dan menyerahkannya pada Raina.


"Produk baru di pabrik yang diketahui jumlahnya seperti yang tertera di dokumen itu, tidak ada seperempat dari yang seharusnya akan dikeluarkan Bu."


"Lalu ada masalahnya apa lagi?"


"Setelah kebakaran itu dana kas kita berkurang sangat banyak untuk menutup kebolongan yang ada. Sehingga tidak bisa dialirkan ke pabrik untuk beroperasi."


"Jadi benar-benar tidak ada dana untuk produksi barang yang akan launching bulan depan?"


"Mengenai dana nanti lebih jelasnya akuntan yang akan memberi penjelasan, Bu."


Mereka sudah sampai di ruang rapat, dimana di dalam sana sudah ada bagian bersama kepala bagian produksi maupun pemasaran, seorang akuntan juga berada di sana.


"Selamat siang semuanya, perkenalkan saya istrinya Pak Rean. Saya yang akan memimpin pertemuan siang ini."


Bisik-bisikan pelan tentu terdengar, selama ini Raina tidak pernah mencampuri sedikitpun urusan kantor. Bahkan wanita itu tidak seperti istri CEO lainnya yang wira-wiri di kantor mengelayuti suaminya.

__ADS_1


Namun, yang mereka dengar istri dari pimpinan mereka ini hanyalah seorang ibu rumah tangga, sehingga keraguan mereka masih menyelinap.


"Saya mulai ya, kita memiliki masalah tentang launching produk yang seharusnya dilakukan bulan depan, seperti yang kalian tahu produk itu hangus terbakar, sedangkan dana untuk produksi kembali tidak ada...." pandangan Raina teralih pada seorang wanita berkaca mata, yang ia tebak adalah seorang akuntan. "berapa dana yang tersisa?"


"Kas hanya memiliki senilai 1,5milyar, tetapi jumlah ini besok akan dikurangi pengisian kas kecil senilai 200juta."


Senilai itu untuk perusahaan sebesar Atmaja group tentu bukanlah apa-apa, 1,5milyar itu sangatlah sedikit.


"50juta dahulu untuk kas kecil, dalam kondisi ini penggunaan kas kecil pasti sangat sedikit."


Kas kecil adalah kas yang digunakan untuk pembayaran secara tunai, seperti pembayaran perbaikan, peralatan kantor, biaya iklan, pembayaran model dan lainnya. Dalam kondisi seperti ini biaya seperti iklan dan model tentu tidak akan keluar, sedangkan yang lainnya tidak membutuhkan biaya terlalu besar.


"Baik, Bu."


"Lalu untuk bulan depan, memang produk apa yang akan dilaunchingkan?"


Thalia memberikan sebuah proposal kepada Raina.


"Ada tiga jenis barang yang akan launching bersamaan, yaitu seri terbaru brand jam tangan, kacamata dan sandal wanita."


"Bagaimana jika dititik beratkan pada salah satu?"


Pelaunchingan 3 buah jenis barang adalah hal yang cukup besar, sedangkan disini kondisinya semua barang itu sudah ludes terbakar. Mungkin jam-jam tidak semuanya terbakar, tetapi tentu saja rupanya sudah berubah karena dilahab kobaran api. Perusahaan tentu menyediakan kualitas yang terbaik, bukan benda bekas kebakaran.


"Maksud Ibu Raina, kita fokuskan pada salah satu barang saja dan yang lainnya ditunda launchingnya. Begitu Bu?"


Raina menganggukan kepalanya mendengar ucapan lelaki berambut ikal itu, "benar sekali, biaya produksi yang untuk 2 barang lainnya kita alirkan semua ke satu barang yang paling memungkinkan menghasilkan banyak keuntungan, lalu melalui keuntungan itu kita nantinya lanjut melaunchingkan barang yang tertunda."


"Saya setuju, Bu." ucap kepala bagian produksi.


"Tapi bu bukankah lebih baik mencari pinjaman saja lalu melalui pinjaman itu kita bisa melakukan produksi sehingga ketiga produk bisa dilaunchingkan?" sanggah seseorang dari bagian penjualan.


Menambah hutang bukanlah sesuatu yang bagus, dari ketiga barang yang dilauchingkan tidak mungkin semuanya menonjol. Pasti ada yang paling laku keras dan aja juga yang tidak terjamah.


Sekarang ini posisi keuangan perusahaan sangat krisis, jika menambah hutang lagi takutnya akan berdampak buruk di masa depan.


"Tidak, mungkin jika posisi keungan tidak seburuk ini masih memungkinkan untuk berhutang. Jika kita mengambil hutang dan ternyata lauching barang kita tidak sukses tentu hal itu hanya akan membuat perusahaan bangkrut."


"Benar, saya setuju dengan keputusan Bu Raina." ujar Thalia.


"Yang paling membuat Atmaja group mendulang sukses adalah brand jam tangan, jadi sebaiknya lauching ini dititik beratkan pada seri jam terbaru. Karena pasti akan mendatangkan laba besar."


Awal saat Atmaja group berdiri hanyalah memiliki satu produk jam tangan dengan brand ternama, tetapi seiring berjalannya waktu perusahaan itu terus-menerus mengalami perkembangan.


"Bagaimana, apakah ada yang keberatan dengan usulan saya?"


Tidak ada yang mengangkst tangan, tanda jika semuanya yang ada disana setuju.


"Menurut saya, usulan yang Ibu tuturkan adalah yang terbaik. Jadi kami setuju dengan hal itu."


"Baik, rapat dengan saya kali ini sudah menemukan kesepakatan...." Raina mengalihkan pandangannya kepada Thalia. "Tetapi tetap saja hasil rapat ini berikan pada Pak Rean, keputusan mengenai dia setuju dengan hasil rapat kali ini ada di tangannya."


"Baik, Bu."


Meski Raina memimpin rapat, tetapi ia tetap memberikan keputusan finalnya pada Rean. Gunanya disini adalah mencari solusi terbaik dan kesepakatan dua bagian tim tadi, sehingga saat Rean bangun nanti ia hanya tinggal memutuskan setuju dengan hasilnya atau tidak.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


^^^Central java, 02 January 2021^^^


__ADS_2