
"Eh maaf Mas, saya nggak sengaja."
Segera Agatha membantu lelaki itu membersihkan jasnya dengan tissue. Pandangan Agatha terpaku pada paras mengesankan milik lelaki itu, rahang tegas, hidung mancung dan bibir tebal itu berhasil membuat Agatha meneguk ludahnya.
"Nggak papa kok Mbak, cuma basah dikit kok." Lelaki itu menarik lengannya, ia merasa sedikit tidak enak dengan Agatha yang membantu membersihkan jasnya itu.
"Maaf ya Mas."
"Iya nggak papa, nggak papa. Bukan salah mbaknya juga kok."
Setelahnya lelaki itu melangkah pergi tetapi masih dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
Pandangan Agatha dan Fifi masih tidak hentinya mengikuti lelaki itu beranjak, ternyata lelaki itu duduk di sebuah meja seorang diri, langsung meraih ponsel disakunya begitu lelaki itu duduk.
"Liat kan drama korea bisa jadi nyata. Nggak percaya sih lo!"
"Eh tu cowok perfect banget, bukan cuma fisiknya aja yang oke tapi lihat pakaiannya."
Agatha menelaah lebih teliti, setelan jas bermerk yang tentu harganya mencapai sembilan digit itu membuat matanya melebar. Orang yang baru saja bertabrakan dengannya ini adalah seorang lelaki yang berduit.
Sudah wajahnya sangat mendukung, fisiknya tinggi dan gagah begitu sempura ditambah lagi dengan lelaki itu yang seperti orang kaya.
"Ayok cepetan kita kenalan sama dia, pokoknya lu harus pepet yang ini sampai dapet, nggak boleh enggak!"
"Siap 45 kalo itu."
Fifi dan Agatha melangkahkan kakinya ke tempat dimana lelaki itu duduk, ikut mendudukan diri mereka juga di kursi sebelah lelaki itu dengan senyuman semanis mungkin.
"Mas saya beneran minta maaf ya soal yang tadi."
Lelaki yang baru saja mengotak-atik ponselnya itu kini kembali meletakan ponsel dan menarik perhatiannya pada Fifi dan Agatha, tak lupa ia juga mengulas sedikit senyumannya.
"Nggak papa, kecelakaan kecil aja Mbak."
"Eh iya mas boleh kenalan nggak?" celetuk Fifi.
Lelaki itu sedikit menautkan keningnya tapi selanjutnya mengangguk saja.
"Saya Fifi," Fifi melirik Agatha agar gadis itu juga memperkenalkan dirinya.
"Saya Agatha." Tidak seperti Fifi yang hanya menyebutkan nama, tetapi Agatha juga turut mengulurkan lengannya.
"Rean." lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rean itu langsung membalas uluran tangan Agatha.
"Kok namanya nggak asing ya Ta, gue kaya sering denger." bisik Fifi di telinga Agatha.
"Diem Lo!"
"Kita boleh duduk disini kan Rean?" tanya Agatha.
"I-iya duduk aja, kursinya kosong juga kok."
__ADS_1
"Hehe makasih."
"Kamu pasti rekan kerjanya Pak Wirawan ya?"
Rean mengangguk dengan seulas senyuman, "iya."
Rean tidak ingin terlalu humble ataupun berbicara dengan sangat hangat kepada kedua perempuan di depannya ini, karena menilik pengalamannya yang bersikap baik pada Erina yang justru berakhir meretakkan rumah tangganya.
"Kita juga loh, ini temen saya wanita karier kerja di salah satu perusahaan retail terkenal."
Rean mengangguk dengan seulas senyuman, "bagus dong, sekarang wanita dan pria itu kedudukannya sama, dan juga sama-sama bisa mengejar karier mereka."
"Berarti Rean ini suka tipe wanita karier ya?"
Rean menggeleng, "kebetulan ada seorang wanita yang bersedia melepaskan impian dan kariernya untuk mengurusi saya."
Mata Fifi dan Agatha sama-sama membola.
"Jadi Mas Rean ini udah punya istri?"
Rean hanya mengangguk melihat raut kekecewaan dari dua wanita di hadapannya ini.
"Padahal masih kelihatan muda banget Mas, kaya orang belum nikah."
Rean hanya tersenyum simpul menangapi celotehan Fifi.
"Pasti yang jadi istrinya Mas Rean ini beruntung banget."
"Enggak, justru saya yang sangat beruntung, mendapatkan seorang wanita hebat seperti istri saya."
Di tengah bengongnya Fifi dan Agatha, Raina tiba-tiba saja datang menyapa mereka, ia sudah selesai dari kamar mandi.
"Eh Raina."
"Lo ngapain disini Raina?"
Raina menunjuk Rean dengan dagunya, "jagain onoh biar nggak disenggol cabe-cabean lagi."
Fifi dan Agatha semakin terkejut.
"S-suami lo?"
Raina mengangguk. "eh iya Mas, kenalin ini temen-temen aku, namanya Fifi sama Agatha."
"Iya sayang, udah kenalan tadi."
"Oh udah kenalan."
Rean mengangkat paperbag berisi kado di tangannya, "aku kesana dulu letakin kadonya, kamu kalau mau ngobrol dulu sama temen-temen kamu."
Rean mengecup pelan kening Raina, lalu memberi anggukan sebagai rasa sopannya ke Fifi dan Agatha sebelum beranjak.
__ADS_1
Raina sedikit merasa heran dengan wajah kedua sahabatnya yang menunjukan ekspresi seperti orang habis melihat hantu saat melihat Rean.
"Heh kalian kenapa, liatin laki gue sampe kaya gitu?"
"Itu beneran laki lo Raina?"
"Iya."
"Oh pantes namanya nggak asing banget Raina."
"Yang selingkuh itu?"
"Iya, tapi sekarang semuanya udah jelas. Perempuan itu yang ngejebak suami gue, ya namanya perempuan gatel ada aja kan kelakuannya buat rusak rumah tangga orang."
"Jadi lo beneran baikan."
"Iyalah, kan waktu belum tahu kebenarannya aja gue udah bilang masih sedia buat kasih kesempatan kedua."
"Haruslah Raina, laki kayak gitu jangan lepasin!"
Raina mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Agatha itu, dahulu saat pertama kali bercerita jika suaminya berselingkuh, Agathalah orang yang bersikeras menyuruh Raina bercerai, tapi sekarang sudah beda lagi begitu melihat tampang Rean.
"Eh tapi maaf ya Raina, tadi gue sempet ada niatan pepet laki lo, soalnya nggak tau sih kalau dia udah nikah, mukannya kayak orang jomblo gitu."
"Oh jadi udah di pepet, terus gimana respon suami gue? Dia nggak genit kan?"
"Tenang Raina, tadi suami lo langsung bilang kalau dia udah punya istri dan beruntung milikin lo, gila mana ada lelaki se blak-blakan itu di depan dua cewek cantik. Biasanya mah justru manfaatin kesempatan buat ngedeketin."
"Beneran lo?"
"Iya Raina."
"Tapi suami lo ini harus beneran dijaga sih! Harus lo tempelin terus, soalnya menggoda banget, pasti cewek lain kalau lihat langsung tergoda sama dia. Jadi harus lo jagain Raina, jangan sampai kejadian itu terulang lagi."
Raina mengangguk, ia sekarang akan memastikan Rean tidak pergi ke pesta seperti ini seorang diri. Itu terlalu berbahaya, meski Rean setia padanya, tapi kan tidak ada yang tahu kejadian apa yang akan terjadi.
"Pastilah, dari masalah kemarin kita sama-sama belajar banyak kok."
"Iyasih, rumah tangga itu memang selalu ada batu sandungannya Raina. Kalau lurus terus kaya jalan tol yang lain nanti iri lah."
"Tapi gue belum dapet laki."
"Yaudah yuk muter-muter cari lagi."
Raina mengibaskan tanganya, "Sana deh, tapi jangan laki yang udah punya istri yang di deketin."
Tawa ketiganya meledak seketika.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 22 Desember 2021^^^