Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
38. Karena aku nggak jahat.


__ADS_3

"Kenapa kelinci nggak balas dendam Yah?"


Rean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia memang baru saja selesai membacakan sebuah buku cerita untuk Mikaila tetapi pikirannya melayang jauh sehingga ia justru tidak paham.


"Kan kelinci anak baik, dendam itu nggak menyelesaikan semuanya jadi kelinci nggak mau bales dendam." Raina yang tiba-tiba masuk dengan segelas susu justru menjawabnya.


Segelas susu di tangan Raina berpindah pada nakas, sebelum Raina duduk di tepi ranjang.


"Tapi Bunda orang jahat harus dapet balesannya, ayam harus dapet balesannya dong karena udah jahat sama kelinci."


"Kan ayam udah taubat, ayam udah janji nggak bakal jahat lagi, jadi nggak papa dong ... Sekarang minum susunya terus tidur ya."


Mikaila lekas menegus tandas segelas susu buatan Raina, bagaikan minuman ajaib, sesaat setelahnya Mikaila sudah terbang ke alam mimpi.


Melihat putrinya sudah terlelap pandangan Raina kini tertuju pada Rean.


"Aku mau bicara sama kamu."


Rean mengikuti langkah Mikaila yang berjalan menuju kamar mereka, ibu Rean masih berada disini sehingga mau tidak mau mereka harus satu kamar dengan Rean tidur di sofa.


"Tadi Erina kesini."


Rean tidak menjawabnya.


"Kamu tolong bilang sama dia, jangan dateng kesini untung aja tadi Mama nggak dirumah, kalau dirumah gimana coba?"


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa kamu masih nglindungin aku?"


Ibu Rean tahu masalah ini tentu akan buruk untuk Rean bukan untuk Raina, yang akan dimarahi habis-habisan adalah Rean, Raina yang menjadi korban terlebih Raina adalah menantu kesayangan.


Bukankah seharusnya Raina mempersilahkan Erina masuk dan menunggu, agar mertuanya tahu lalu Rean kena marah besar. Tetapi Raina justru mengusir Erina agar mertuanya tidak tahu.


"Aku udah jahat sama kamu, tapi kamu masih peduli sama aku."


"Itu- ya karena aku nggak jahat kaya kamu aja."


"Makasih."

__ADS_1


"Tadi Erina juga bicara yang enggak-enggak ke Mikaila, bisa-bisanya dia sampai kesini. Punya istri tuh dididik Mas."


"Itu salahku."


"Ya semuanya emang salah kamu."


***


"Kamu beneran nggak sayang gitu sama ijazah kamu?"


"Dulu sih waktu kuliah cita-cita Raina itu jadi wanita karier, pokoknya Raina semangat kuliah dengan nilai bagus biar dapat kerjaannya bagus juga."


Semasa kuliah menjadi wanita kantoran itu cita-citanya, setiap pagi dandan super cantik lalu pergi ke tempat kerja. Bekerja dengan suka cita bersama teman-temannya.


"Tapi setelah Mikaila lahir semuanya berubah Ma, Raina udah nggak pengen lagi kerja dan memilih jadi ibu rumah tangga."


Saat Mikaila lahir Raina sadar jika bayi itu sangat membutuhkan kasih sayangnya, jika ia bekerja sudah dipastikan waktunya akan lebih banyak ia habiskan di tempat kerja. Mulai dari pagi hingga sorenya saat pulang ia hanya bisa melihat anaknya sebentar sebelum beranjak tidur.


Ia ingin memberikan kasih sayang utuh untuk anaknya, ia tidak ingin anaknya mendapat asuhan yang salah di tangan orang lain. Menjadi wanita karier artinya harus menyerahkan putrinya ke babysitter dan bukan diurus sendiri. Bagaiamanapun pertumbuh kembangan Mikaila sangat berarti dan tidak ingin Raina lewatkan.


Terlebih dengan ia duduk dirumah saja, ia sudah bisa mendapatkan segalanya. Uang, perhiasan, dan semua barang mewah yang ia inginkan.


Ting... Tong...


"Aku buka pintu dulu ya Ma."


"Iya sayang."


Raina bergegas untuk membuka pintu, betapa ia terkejut melihat tamu yang datang pagi ini, itu adalah Erina. Erina kali ini datang seorang diri tidak bersama babysitter dan juga anaknya.


Dengan segera Raina menarik Erina menjauh dari pintu.


"Kamu ngapain kesini?"


"Mas Rean mana?"


"Di kantor, sana ke kantornya jangan kesini."


"Pasti ini ulah Mbak kan?"


Raina menautkan kedua alisnya karena tiba-tiba mendapatkan tuduhan.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


"Mas Rean itu udah sebulan nggak pernah dateng ke apartemen, nomor aku di blok dan tiap ke kantornya dia nggak mau nemuin aku! Pasti mbak kan yang paksa mas Rean jauhin aku?!"


Raina juga tidak tahu jika Rean sudah berbuat demikian, yang ia tahu Rean seperti biasanya. Toh perang dingin dirinya dan Rean juga belum usai.


"Mbak aku juga punya hak, mbak jangan egois kaya gini."


"Aku sama sekali nggak suruh Mas Rean buat jauhin kamu."


"Tapi—"


"Raina."


Tiba-tiba saja ibu Rean muncul dari balik pintu.


"Eh Mama."


Ibu Rean keluar karena mendengar suara ribut-ribut dari luar, tapi ia belum sempat mendengar apa yang di bicarakan.


"Ada tamu kok nggak disuruh masuk?"


"Bukan tamu kok Ma, ini mbaknya cuma mau tanya alamat."


"Mbak! Saya sebenarnya—"


Raina memberikan pelototan tajam sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga Erina. "pergi sekarang, nanti aku ngomong ke mas Rean biar pergi ke kamu." bisik Raina.


"Kamu lurus aja, terus dibelokkan pertama kamu belok, kalau ada rumah cat hijau, nah itu rumahnya."


Tanpa mengucapakan sepatah kata Erina melangkahkan kakinya dari tempat.


"Nggak sopan banget main pergi, nggak bilang terimaksih gitu udah ditunjukin."


"Udah Ma nggak papa, kita masuk yuk."


━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


Central java, 06 Desember 2021


__ADS_2