Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 102


__ADS_3

"Sebenarnya penyakit ini memang sudah ada sejak Rean lahir, tapi seperti kamu tahu penyakit ini dapat membaik ataupun memburuk sewaktu-waktu."


Mama Rean baru tiba beberapa jam yang lalu, setelah mendapatkan kabar dari Raina ia langsung mencari tiket penerbangan tetapi karena terkendala beberapa hal sehingga baru bisa sampai pagi ini.


"Tapi Mas Rean nggak pernah cerita apapun, Ma. Aku ini istrinya seharusnya aku adalah paling yang paling tahu kondisinya."


Sebenarnya memang sudah ada beberapa hal yang Raina sadari aneh dari Rean, seperti wajah lelaki yang akhir-akhir ini selalu layu dan tidak segar lalu saat waktu itu Rean mengatakan obat itu hanya vitamin.


Raina sudah merasa curiga saat itu tetapi ia tidak menanyakan lebih lagi.


"Mungkin karena kondisi Rean selama ini sudah membaik, dulu saat SMA kondisinya benar-benar buruk dia sampai melewati masa kritis berkali-kali bahkan sampai berbulan-bulan harus dirawat di rumah sakit. Tidak tahu jika sekarang kondisinya kembali buruk seperti ini."


Air mata kembali menetes, sebenarnya dari tadi mama mulai bercerita air mata Raina juga tidak dapat ditahan sehingga sekarang wajahnya juga turut memerah.


"Na, Rean udah sadar." tiba-tiba saja papa Raina datang memberikan kabar gembira itu.


Sesampainya di ruang ICU dokter mengatakan jangan banyak-banyak dahulu yang menjenguk karena kondisi Rean memang masih lemah dan belum juga dipindahkan ke ruang rawat biasa. Mama membiarkan Raina yang masuk terlebih dahulu.


Sebelum masuk Raina menghapus air matanya hingga tidak bersisa, ia tidak ingin terlihat begitu hancur di depan Rean. Sedangkan wajah memerahnya tentu tidak akan bisa berbohong.


Raina mendekat ke arah Rean, lelaki itu begitu lemah sekarang. Tetapi terlihat sekali seulas senyuman yang mati-matian Rean pertahankan dibalik masker oksigen itu, tentu ia harus membuat Raina tenang dengan senyumannya itu.


Ingin sekali Raina marah karena Rean masih tidak ingin terbuka tentang kondisinya, tetapi bukannya amarah justru air mata yang turun.


Raina tidak berkata apapun ia hanya mengenggam erat tangan Rean yang terbebas dari infus.


"Ce-cepet sembuh ya, aku ada disini."

__ADS_1


Rean mengangguk, bibir pucat itu masih dihiasi dengan senyuman. Hanya senyuman yang ia tampilkan karena ia masih lemas bukan main bahkan hanya untuk sekedar berbicara.


***


"Kamu darimana?"


Ditya baru saja memasuki kamar, jam memang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Aku dari kantor, semalem ada urusan mendadak."


Ditya tidak sepenuhnya berbohong, setelah ia bertemu Selina Ditya memilih untuk tidak langsung pulang melainkan pergi ke kantornya untuk menenagkan diri.


Masalah ini begitu rumit baginya, di satu sisi hatinya memang hanya untuk Selina, kebahagiaannya hanya bersama Selina tetapi di sisi lain ia sudah memiliki tanggung jawab lain yaitu Erina yang kemarin baru saja ia nikahi.


Pernikahan adalah suatu hal sakral, ia tentu tidak bisa begitu saja menceraikan Erina lalu menikahi Selina dalam waktu dekat, itu sama saja ia telah menjadi lelaki paling buruk.


Di tinggalkan oleh pasangan di malam pertama pernikahan tentu menjadi hal yang sangat menyakitkan untuk Erina. Semalam ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin tetapi ternyata itu semua sia-sia, ia tidak disentuh sama sekali.


"Urusan sepenting apa memangnya?"


"Aku beneran minta maaf."


"Bukan maaf yang aku minta, aku cuma minta kamu jelasin ada masalah apa di kantor sampai di panggil nggak peduli kaya semalem. Itu pasti urusan penting kan? Sekarang kita udah suami istri Dit, apa nggak sebaiknya semuanya dibicarakan dengan jelas?"


"Cuma ada masalah dikit, tapi ya tadi malem udah aku selesaiin."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya kok."


"Oh ya, kamu belum sarapan kan pasti, aku panasin makanan dulu ya."


"Iya Rin, makasih."


Erina beranjak pergi, Ditya menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan pandangan sayu.


Erina adalah wanita malang yang sudah berhasil ia selamatkan dari jurang kegelapan. Ia adalah wanita yang tidak memiliki hangatnya rumah tangga, sehingga pada akhirnya memutuskan untuk menikahinya dan memberikan sebuah keluarga hangat.


Tetapi rupanya Ditya melupakan suatu hal, Ditya lupa jika dirinya sendiri masih belum berdamai dengan masa lalunya.


Seseorang yang hatinya kosong dan tidak berniat untuk ada orang yang mengisinya, sudah bisa dipastikan jika di masa lalu ia memiliki orang yang ia cintai begitu dalam tetapi harus trauma karena orang itu sehingga memutuskan untuk menutup hatinya. Contohnya Ditya, ia sudah tidak berharap dan menyakinkan dirinya jika Selina tidak akan kembali.


Ditya berpikir menikahi Erina dan memberikannya sebuah keluarga adalah putusan terbaik karena dirinya sendiri juga tidak memiliki siapapun yang ingin ia nikahi.


Namun rupanya kini keputusan itu salah, Ditya telah salah mengambil langkah dan terjebak sendiri dengan keputusan itu.


━━━━━ P K M T M K━━━━━


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,

__ADS_1


Khalisa🌹


__ADS_2