
Begitu Rean memasuki rumah, didapatinya Raina tengah duduk di sofa ruang tamu. Raina memang sengaja menunggu Rean karena ia memiliki suatu hal yang perlu dibicarakan dengan Rean. Mikaila sudah tidur, setelah tadi menggambar anak itu ketiduran.
"Aku mau bicara sama kamu Mas."
Rean mengampiri Raina dan duduk disamping wanita itu, wajah datar Raina sedikit mengetarkan hatinya. Biasanya saat pulang kantor seperti ini, Raina selalu menyambutnya dengan senyumana manis lalu menawarinya mau minum apa.
"Aku nggak mau kita cerai dulu."
Rean mengelus dadanya, betapa dirinya lega mendengarkan kalimat itu dari Raina. Hal yang paling dia takutkan adalah Raina mengirimnya surat cerai.
"Tapi, jangan pikir aku udah maafin kamu. Aku belum bisa maafin kamu."
"Sayang kejadian itu awalnya cuma kecelakaan, aku bakal jelasin semuanya ke kamu."
"Kamu diem Mas! Aku nggak ngijinin kamu ngomong!"
"Sayang,"
"Diem!"
Rean menuruti permintaan Raina, yang terpenting adalah dirinya tidak bercerai dengab Raina.
"Ini kontrak pernikahan kita kedepannya."
__ADS_1
Raina menyerahkan sebuah kertas kepada Rean.
"Sayang, apa perlu sampai kaya gini?"
"Kenapa nggak perlu? Kamu nggak usah bicara apa-apa cukup baca ini, kalau setuju tinggal tanda tangan kalau enggak ya kalau mepetnya kita harus cerai aku nggak papa."
Mempertahankan pernikahan adalah hanya demi Mikaila, dia tidak ingin gagal menjadi orang tua.
Sedangkan surat perjanjian itu berisikan sebagai berikut.
1. Pihak A tetap melakukan tugasnya sebagai istri, kecuali melayani pihak B dalam hal apapun.
2. Pihak B tetap memberikan nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga.
3. Tidak boleh ada yang tahu tentang ini, baik dari pihak keluarga A ataupun B.
5. Berpura-pura hubungan baik-baik saja di depan orang lain.
6. Pihak B harus adil kepada kedua istrinya.
7. Pihak A & B tidak diperbolehkan berada dalam jarak kurang dari 10meter saat hanya berdua.
Begitulah isi dari surat perjanjian yang sudah Raina buat, ia sudah memikirkan matang-matang semua hal yang mengenai keputusannya ini.
__ADS_1
"Sayang ini yang nomor 7, apaan sih. Jang-"
"Aku nggak minta kamu komentar, setuju tanda tangan kalau enggak ya nggak usah!"
"Sayang, aku sama Erina itu awalnya karena kecelakaan, aku-"
Belum sampai Rean melanjutlan kalimatnya, Raina sudah memotong. "Kamu bisa nggak sih hargai aku? Aku udah bilang nggak mau dengerin kamu ngomong! Jadi kamu nggak perlu keluarin suara kamu Mas!"
"Yaudah aku setuju, yang penting kita nggak cerai."
Rean mengambil bolpoint yang berada di saku kemejanya, tanpa ragu ia langsung membubuhkan tanda tangan di kertas itu. Rean menyerahkan surat itu kembali ke Raina.
Apapun yang berada dalam surat itu, yang terpenting adalah dirinya dan Raina tidak bercerai.
"Aku mandi dulu."
Rean melangkahkan kakinya pergi, Raina memandang punggung Rean yang semakin menjauh. Sebenarnya sangat berat untuk berbagi suami seperti ini, tapi setidaknya menjadi sedikit berkurang karena perjanjian itu.
Dirinya belum bisa sama sekali memaafkan Rean, entah hatinya yang sudah hancur berkeping bisa kembali atau tidak. Hanyalah waktu yang bisa menjawab itu semua.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 22 October 2021^^^