
"Ayah dimana Bun?"
Pertanyaan itu keluar dari Mikaila yang tengah menikmati sarapan paginya, biasanya ia menjumpai ayahnya yang membangunkan dirinya atau paling tidak pasti ayahnya itu tidak akan pernah melewati sarapan pagi.
"Em, ayah lagi kerja sayang."
"Tapi dari tadi Mikaila bangun nggak liat ayah Bun."
"Iya ayahnya lagi sibuk sayang."
Anak itu hanya menghela nafas sebelum akhinya mengangguk dan mengiyakan kalimat bundanya.
"Bun Mikaila udah selesai sarapannya." anak itu menunjukan piring berisi nasi gorengnya yang sudah habis tak bersisa.
"Yaudah yuk berangkat, Pak Mardi udah nunggu di depan."
Mikaila mengangguk dan meraih tas nya yang berada di kursi sebelahnya. Dengan langkah kecil itu Mikaila mengandeng lengan Raina pergi ke halaman.
Benar saja, di halaman depan Pak Mardi telah memanasi mobil.
"Dadaaa Bunda." teriak Mikaila seraya menaiki mobil.
"Daaa, sayang jangan nakal ya disekolah...." pandangan Raina beralih ke pak Mardi, "pak titip anak saya ya."
"Iya bu."
__ADS_1
Raina melambaikan tangannya ke arah mobil yang pergi menjauhi pekarangan rumah.
Selanjutnya Raina kembali masuk untuk mengambil ponselnya, ia ingin kembali menghubungi. Sebenarnya sejak tadi pagi sudah puluhan kali ia menghubungi nomor Rean, namun tidak membuahkan hasil. Nomor suaminya itu tidak aktif.
Tadi malam saat mereka akan beranjak tidur Rean mengatakan jika ia akan pergu ke rumah sakit karena Ethan masuk rumah sakit. Namun, sampai saat ini Rean belum kembali bahkan kabar pun tidak ada.
Raina bukannya peduli dengan Ethan, tetapi hanya ingin tahu kabar Rean. Jika ditanya membenci, Raina tidak membenci Ethan karena bagaimanapun anak itu terlahir tanpa dosa. Tetapi Raina juga tidak ingin peduli dengan Ethan karena anak itu adalah anak dari Erina.
"Dimana kamu mas?"
Namun pertanyaan itu hanyalah pertanyaan satu arah yang bahkan tidak ada yang menjawabnya.
***
Dibelainya wajah kecil nan dingin, sudah berkali-kali tangan kekar itu mengelusnya tetapi tetap saja wajah kecil itu tidak menghangat. Itu karena nyawa sudah terpisah dengan raga.
Dengan lingkaran hitam dimatanya itu Rean terus saja memandangi wajah Ethan, tidak tidur semalaman karena harus memgurus banyak hal agar putranya itu bisa dimakamkan di pagi hari tidak membuatnya merasa mengantuk.
Sedangkan di jok belakang Erina tidak hentinya menangis, dia adalah orang yang paling menyesal dari kepergian Ethan ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur, apa gunanya penyesalan di akhir kisah?
"Kenapa baru nangis sekarang, kemana aja kamu kemarin!" ucap Sisca.
Sisca juga turut geram dengan Erina, adiknya itu kurang memperhatikan Ethan. Jarang sekali Erina mengendong ataupun menidurkan Ethan, bahkan menyusui saja tidak pernah.
Namun, yang lebih tidak disangka adalah Erina masih tidak langsung pulang saat babysitter mengatakan Ethan belum berhenti menangis malam menjelang, padahal sudah sedari sore anak itu menangis tiada henti.
__ADS_1
"Mbak nggak nyangka Ethan akan menemui nasib seburuk ini, memiliki seorang ibu yang bahkan tidak pantas disebut ibu, dan parahnya lagi orang jahat itu adikku sendiri."
Erina masih menangis sesengukan, pikirannya mengabur sehingga kalimat dari Sisca itu hanya bisa ia dengar tanpa ia jawab. Dirinya memanglah seorang ibu yang sangat buruk, ia sendiri mengakui hal itu.
Namun, waktu itu Erina sama sekali tidak menyangka jika keadaan Ethan separah itu.
"Nggak ada ibu yang seburuk kamu Erina!"
"Sis udah," suami Sisca yang berada di samping wanita itu mengusap pelan pundak Sisca, menangkan istrinya agar tidak kembali meledak-ledak.
"Biarin aja Mas, aku nggak terima Ethan memiliki nasib seburuk ini."
Kalimat itu mendapatkan gelengan dari sang suami, "Kita semua lagi berduka, udahan dulu ya marah-marahnya."
Mobil itu sudah sampai di pemakaman, yang datang mengantar jenazah anak itu hanya Rean, Erina, Sisca, babysitter dan juga kelurga kerabat dari suami Sisca.
Erina dan Sisca tidak memiliki kerabat dari ayah dan ibu mereka, sedangkan untuk kaluarga Rean tentu tidak ada yang tahu mengenai Ethan.
Semua mengantar Ethan hingga anak itu di makamkan dan di doakan. Sebuah figura Ethan yang tengah tersenyum hingga menenggelamkan matanya di balik pipi gembulnya tersemat di samping nisan.
Tangis masih menyelimuti Erina, ia sangat berat melepaskan putranya itu. Dari perkataan Ditya kemarin ia baru saja sadar jika Ethan adalah permatanya. Anak itu seharusnya menjadi satu-satunya alasan Erina bahagia, tetapi Erina tidak menyadari itu.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 31 Desember 2021^^^