
Sedari tadi yang dilakukan Raina hanya memandang lekat wajah Rean, wajah itu sekarang terlihat sangat tirus. Raina juga memperhatikan porsi makan Rean yang sangat sedikit semenjak rumah tangga mereka bermasalah. Raina sebenernya peduli tapi otaknya membuang jauh-jauh rasa pedulinya itu.
Raina sudah mengatakan pada Nara, adiknya untuk menjemput Mikaila. Belum melihat Rean sadar membuat Raina enggan melangkah sedikitpun dari ruang rawat itu.
Perlahan kelopak mata itu bergerak sebelum akhirnya terbuka sempurna.
"Gimana keadaan kamu Mas, ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu."
Rean menahan lengan Raina, agar istrinya itu tidak beranjak.
"Aku baik-baik aja."
Raina tidak jadi beranjak dan kembali duduk di tempat semula.
"Lain kali kalo nyebrang tuh hati-hati liat kan jadi ketabrak."
Kalimat itu justru ditanggapi seulas senyuman oleh Rean, sekujur tubuhnya memang nyeri tetapi senyuman tetap akan nampak karena sosok Raina sekarang ada di hadapannya.
"Kok malah senyum, dengerin Mas!"
"Iyaa Sayang."
Rean sangat besyukur Raina ada di sampingnya sekarang, wanita itu tidak bernar-benar membecinya dan datang saat Rean susah.
"Makasih ya."
"Makasih buat apa?"
"Kamu masih mau peduli sama aku."
Raina membuang wajahnya, sebenarnya ia enggan menunjukan rasa pedulinya. Namun entah mengapa seakan bibirnya ini dengan blak-blakan mengatakan kepeduliannya.
"Aku nggak peduli, cuma kasian aja kamu nggak ada yang jagain."
Melalui jawaban itu saja Rean ternsenyum mendengarnya.
"Oh ya Mikaila di rumah sama Mbak Tati?"
"Tadi aku minta Nara jemput, mungkin Mikaila di rumah Mama sekarang."
"Ayah....."
Baru saja Raina selesai berbicara Mikaila sudah datang di hadapan mereka, langsung datang menuju ke pelukan Rean. Dibelakang Mikaila ada Nara yang ikut serta.
"Ayah sakit? Bunda panggilin om dokter biar ayah sembuh."
Raina mengusak surai putrinya itu, "udah kok, sekarang lagi istirahat biar sembuh."
"Kok anak ayah kesini?"
"Mau liat ayah."
__ADS_1
"Tadi Mikaila nggak sengaja denger aku ngomong sama mama papa kalau kak kecelakaan jadinya ngotot mau ikut kesini." Jelas Nara.
"Terus mama papa dimana, nggak ikut kesini?"
"Ikut, masih dibelakang. Anak mbak ini larinya cepet banget."
Mikaila menatap lengan ayahnya yang diperban dengan bertanya-tanya.
"Tangan ayah kenapa?"
"Sakit, kan ayah baru jatuh sayang." jawab Raina.
"Ayah harus hati-hati, jangan sampai jatuh lagi ya."
Rean terkekeh, "siap, kapten."
Ceklek,
Pintu terbuka menampilkan kedua orang tua Raina yang baru datang.
"Gimana keadaan kamu Rean?"
"Baik-baik aja kok Ma Pa, cuma luka dikit."
Ibu Raina menghela nafas. "Syukurlah."
"Emang gimana ceritanya?"
***
"Jadi kapan Mas, kita berangkat ke Paris?"
Kala yang baru saja selesai berganti baju menatap Dewi dengan pandangan bertanya. Memang beberapa waktu lalu ia berkata pada Dewi jika dirinya bekerja di Perancis, lebih tepatnya kota paris, tetapi ia tidak mengatakan secepat ini kembalinya, toh pernikahannya baru dilaksakan dua hari lalu.
Sebenarnya Kala masih menimang untuk mencari pekerjaan disini atau kembali lagi kesana. Ia masih memiliki pertimbangan, jika kesana pasti harus mengajak Dewi karena Dewi sekarang istrinya. Kala yang semulanya tinggal di flat kecil, tentu juga harus mencari rumah yang besar, nantinya mereka pasti memiliki anak juga.
Tinggal di negeri orang tidak semudah itu, jauh dari sanak saudara dan juga orang tua. Kedepannya Dewi pasti akan hamil dan memiliki anak, tentu akan terlalu repot jika hanya ada mereka berdua disana tanpa sanak saudara, maka dari itu Kala mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan disini.
"Menurut kamu mendingan kembali kesana atau cari kerja disini aja?"
"Ya kesana lah Mas."
"Tapi tinggal disana itu bakal susah, kedepannya kita—"
Belum sempat Kala melanjutkan kalimatnya Dewi sudah memotong.
"Pokoknya kita kesana Mas."
"Dewi, kalau udah disana aku nanti jarang dapet libur kita bakal susah buat berkunjung kesini. Lebaran aja syukur-syukur bisa pulang walau cuma seminggu."
Selama Kala bekerja jauh disana, setiap tahun hampir tidak pulang, hanya dua kali dia pulang saat lebaran, dirumah satu minggu lalu kembali lagi. Pekerjaannya disana itu bbenar-benar ketat dan sulit sekali untuk mengambil cuti.
__ADS_1
Sekarang ini saja Kala mengambil cuti selama seminggu, tetapi ia sudah disini lebih dari sebulan, entah apa kata atasannya.
"Ya tapi aku maunya disana Mas."
Aneh saja rasanya jika Dewi ngotot ingin kesana seperti ini, "Kenapa?"
"Y-ya nggak papa, pengen aja."
Kala melihat adanya keanehan dari nada bicara Dewi.
"Jawab aku jujur, kenapa?"
Dewi tidak menjawab.
"Jawab aku jujur, baru aku turutin kemuan kamu buat kesana."
"Aku nggak mau kamu main belakang sama dia, kalau disini kemungkinannya besar kamu main belakang."
Kala terkejut mendengarnya, dirinya dan Dewi memang barulah mengenal, belum genap sebulan mengenal. Belum tahu sifat asli satu sama lain, bahkan mereka belum banyak ngobrol tentang masa lalu.
Kala hanya percaya Dewi itu wanita baik, karena berasal dari keluarga baik-baik pula.
"Dia siapa? Siapa yang kamu maksud?"
"Mbak Raina."
Kala terkekeh, Raina sahabatnya, Kala memang sempat jatuh pada Raina tetapi cinta itu selalu berusaha ia hanguskan. Meski tidak berhasil, tetapi Kala tetap tidak berbuat lebih banyak.
"Kalau aku ingin Raina, kita nggak bakal nikah sekarang."
Jika memang Kala menginginkan Raina, sudah dari awal ia memaksa Raina bercerai dengan Rean, ia pasti akan meyakinkan Raina jika dirinya dapat mengantikan sosok Rean.
Tetapi Kala tidak melakukan itu, ia tahu seberapa besar Rean mencintai Raina, begitu juga dengan Raina. Ia tidak ingin memisahkan dua orang itu, memiliki Raina belun tentu membuat wanita itu bahagia karena kebahagiaan Raina hanya dengan Rean.
Kemarinpun Kala sempat mengatakan, agar Raina mendengarkan penjelasan Rean tentang lelaki itu yang sebenarnya tidak ingin berhianat seidikitpun. Melihat Raina bahagia, itu saja sudah cukup untuk Kala.
"Tapi Mas,"
Kala meraih lengan Dewi, "Dewi, kita memang baru mengenal. Jika kamu bertanya tentang hatiku, belum ada nama kamu disana, aku belum mencintai kamu. Maka dari itu bikin aku jatuh cinta sama kamu, aku juga lagi belajar buat kasih hati aku ke kamu."
Dewi menatap manik Kala, memastikan sesuatu disana.
"Pasti Mas."
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 08 Desember 2021^^^
__ADS_1