
"Darimana kamu?"
Sisca yang tengah memangku Ethan, mengalihkan pandangannya menatap Erina yang baru memasuki pintu dengan penuh selidik, raut wajah adiknya itu penuh gurat kekesalan.
"Aku dapet kabar Mas Rean kecelakaan, tapi pas aku sampai disana pintu ruang rawatnya malah di kunci. Kurang ajar banget kan mbak."
Mendengar hal itu Sisca justru tertawa.
Tadi saat mendatangi ruang rawat Rean justru pintunya dikunci dari dalam, Erina mengetuk pintu dengan sopan tetapi tidak dibuka juga, karena kesal Erina berteriak dan mengedor pintu tetapi hal itu justru membuatnya harus diusir oleh security. Yang namanya rumah sakit itu bukan tempat membuat keributan sehingga Erina diusir.
Betapa dirinya malu setelah hal itu, tapi dasarnya ia memang sangat kesal karena pintunya justru terkunci.
"Mbak kok malah ketawa sih."
"Udah saatnya kamu tuh lepasin Rean, kamu justru yang sakit kalau semakin hari semakin menerima penolakan seperti ini."
Jika sebelumnya Rean masih bersedia datang menemui Erina, ah bukan lebih tepatnya menemui Ethan. Kalau sekarang Rean benar-benar ingin melepaskan Erina.
"Apaan sih Mbak, aku nggak akan nyerah!"
"Terserah kamu, mbak cuma bisa berdoa biar jalan kamu benar."
"Emang jalanku salah?"
"Kamu pikir yang kamu lakuin benar?"
"Ya iyalah, aku cuma cari kebahagiaanku."
"Kamu memang harus cari kebahagiaan kamu, tapi caranya nggak boleh salah kaya gini."
"Diem aja mbak nggak tau apa-apa."
Sisca menghela nafas pelan, menyaksikan punggung Erina menjauh. Menasihati Erina itu masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri, percuma dan tidak ada gunanya.
__ADS_1
"Ethan jangan tiru-tiru kelakuan mama ya, cukup mamanya Ethan aja."
Ethan itu justru tertawa memdengarkannya membuat pipinya habis dicubiti oleh Sisca.
***
Kala pulang dengan seulas senyuman yang tiada henti menghiasi bibirnya, sebuah paperbag berisi makanan tergantung di tangan kanannya. Dewi tidak bisa memasak, ia mengatakan baru akan belajar. Kala juga tidak masalah, selama masih ada yang menjual makanan ia tidak akan memaksa Dewi untuk secepatnya bisa memasak.
Ia baru saja mengatarkan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan, ia sudah memutuskan untuk menetap disini dan mencari pekerjaan baru.
Begitu sampai dirumah ia tidak mendapati Dewi dimanapun, sudah memanggil nama istrinya itu berulang kali tapi tidak ada jawaban.
Tak mau ambil pusing Kala beranjak menaruh makanan ke dalam piring dan membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.
"Eh Mas udah pulang?"
Dewi terlihat masuk dari luar.
"Tadi aku ketemu temen-temen Mas."
"Lain kali bilang ya kalau mau pergi dan pulang seseore ini."
Dewi mengangguk, "Iya Mas maaf."
"Oh ya aku dapat tawaran dari temenku kalau ada divisi tingkat 3 pemasaran di perusahaannya yang butuh orang."
"Divisi tingkat tiga? Jauh banget sama jabatan kamu di perancis sebelumnya, gajinya juga pasti nggak seberapa itu Mas."
"Ya nggak papa, sambil nunggu panggilan wawancara dari surat lamaran yang baru aku kirim hari ini."
Kala berencana masuk ke tawaran pekerjaan itu untuk sementara daripada menganggur dirumah, menunggu panggilan wawancara dari sebuah perusahaan itu terkadang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Memang beberapa perusahaan yang Kala kirim surat lamaran kerja itu berpeluang besar menerimanya, melihat riwayat pendidikan Kala dan juga pengalaman kerja sebelumnya. Kala yakin akan langsung mendapatkan posisi bagus, tapi tentu tidak secepat itu, sebuah perusahaan pasti memiliki surat lamaran setumpuk yang perlu di periksa satu persatu.
__ADS_1
"Tapi mas aku udah bilang ke temen-temen aku, kalau suami aku itu jabatannya tinggi. Gimana kalau mereka tahu kamu kerja di divisi pemasaran, mana tingkat tiga lagi."
"Jadi kamu malu?"
"Ya gimana ya Mas, divisi tiga itu rendah banget."
"Aku disitu sebentar cuma menunggu dapat panggilan kerja."
"Ya tetep aja Mas mendingan nggak usah, kamu kan juga punya uang banyak, kalau kerja disitu gajinya juga nggak seberapa. Palingan 3 atau 4 juta, cukup buat apa Mas? Cuma malu-malu in aja."
"Kalau kamu ngelarang aku, besok aku jualan bakso keliling aja biar kamu makin malu."
"Mas, kamu apa-apaan sih!"
"Dewi cari uang itu yang penting halal, nggak peduli setinggi atau serendah apa jabatanya. Kamu nggak bisa nilai seseorang dari pekerjaannya, hidup sesederhana apapun kalau bersyukur ya bahagia."
"Tapi—"
"Nggak ada pekerjaan yang memalukan, ahlak buruk justru lebih memalukan!"
Setelah itu Kala melangkahkan kakinya pergi lagi keluar dari rumahnya. Membangun rumah tangga dengan seseorang yang awalnya sama sekali tidak dikenal itu tidak mudah.
Kala belum sama sekali memahami Dewi, ia tidak tahu sifat asli Dewi itu seperti apa. Dan sekarang mulai terbuka satu persatu, sosok Dewi yang sangat pencemburu akut dan Kala tahu satu hal lagi yaitu Dewi yang tidak mudah menerima.
Namun, bagaimanapun juga Dewi adalah istrinya, ia akan sebisa mungkin membimbing Dewi menjadi lebih baik.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 14 Desember 2021^^^
__ADS_1