
"Mikaila mau disini aja sama Ayah sama Bunda."
Raina menggeleng, sedari tadi putrinya itu menolak untuk pulang sedangkan jam besuk sudah habis bahkan pak security sudah beberapa kali datang mengingatkan.
"Besok Mikaila bisa kesini lagi, sekarang pulang dulu sama aunty."
"Nanti videocall Mikaila gimana?"
Akhirnya dengan berat hati Mikaila mengangguk, meraih uluran tangan Nara dan segera beranjak.
"Baik-baik ya jangan nakal dirumah Oma."
"Siap Kapten."
"Titip ya Nar."
"Iyaa Mbak."
Tak lama setelah Mikaila dan Nara pulang, seorang suster datang membawa makan malam.
Raina menerima makanan itu, tak lupa berterimakasih pada suster yang memberikanya. Setelah itu langsung memberikannya pada Rean.
"Suapin dong."
"Kan kamu punya tangan Mas."
Rean menatap lengan kanannya yang diperban. "Tanganku nggak bisa gerak."
Raina menghela nafas, lalu lekas menyendok nasi untuk Rean. Lelaki itu akhir-akhir ini memang jarang sekali makan, terbukti dengan tubuhnya yang jauh lebih kurus.
Tatapan Rean tidak hentinya terpaku pada wajah Raina, sedikitpun enggan untuk mencaei objek lain untuk dipandang. Ini adalah pertama kalinya Raina bersedia dalam jarak sedekat ini saat hanya berdua, biasanya Raina akan menciptakan jarak yang begitu jauh dan selalu menghindari Rean.
Rean menyukai Raina sejak pandangan pertama, semua yang ada pada wanita itu Rean kagumi. Betapa bahagianya dia saat bisa menjadikan Raina sebagai istrinya, saat itu ia berjanji untuk menjadikan Raina ratunya yang akan ia perlakukan sebaik mungkin. Namun janji itu sudah Rean langgar, dan rasa bersalah itu selamanya tidak akan hilang dari Rean, ia sudah menyakiti wanita yang paling ia cintai itu.
"Makasih."
__ADS_1
Raina hanya menaikkan kedua alisnya sebagai tanda bertanya.
"Makasih udah jadi wanita terbaikku."
Tak sadar pipi Raina memerah, tetapi ia langsung menepis perasaan aneh dihatinya. "Basi!"
"Aku tau kamu nggak akan bisa maafin aku, tapi kamu harus tahu kalau aku."
Raina tidak menjawabnya, ia pura-pura sibuk dengan menyendok makanan yang berada di tangannya. Ia tidak ingin luluh sekarang, entah bagaimana Rean kalimat itu membuat hatinya menghangat.
***
Brakk,
Erina menepuk jidatnya saat sadar melakukan kesalahan, ia langsung membuka pintu mobilnya dan melihat keluar. Bagian belakang mobilnya menabrak mobil BMW hitam yang terpakir juga disana. Kondisi mobil bagian belakangnya rusak, begitu juga mobil milik orang lain yang tak sengaja ia tabrak.
Erina saat ini tengah mencoba mengeluarkan mobilnya di parkiran apartemen, tetapi tadi harusnya ia menginjak gas justru ia melajukan mobilnya mundur. Jujur saja Erina belum terlalu mahir mengendarai mobil, apalagi mengeluarkan mobil yang tiap mobil jaraknya berdekatan seperti ini.
"Aduh gimana dong."
Tatapan Erina beralih pada lelaki yang tiba-tiba saja muncul.
"Eh Mas, maaf tadi saya nggak sengaja nabrak, tapi saya janji bakal ganti rugi perbaikannya kok."
Lelaki itu adalah Ditya, raut kemarahan atau kekesalan tidak nampak sama sekali di wajah Ditya, hanya wajahnya yang santai.
"Tapi saya mau pake mobilnya sekarang, dengan keadaan bagian depan penyok parah seperti ini, gimana saya pakainya."
"Aduh maaf banget ya Mas, saya pesenin taksi ya, mobil mas akan secepatnya saya panggilkan orang bengkel."
Ditya itu menggeleng, "gini aja, Mbak anterin saya pakai mobil Mbak."
"Mas mobil saya juga rusak."
"Kan yang rusak belakang, masih bisa kendarai lah."
__ADS_1
"Tapi—"
Tanpa kalimat Ditya langsung memasuki mobil Erina, kebetulan kuncinya masih ada di dalam. Erina hanya melotot melihat ketidaksopanan Ditya itu.
"Ayo Mbak masuk."
Erina mau tidak mau tetap masuk dan duduk di kursi samping pengemudi.
Ditya melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Nama saya Ditya, nama Mbak siapa?"
"Erina."
Hening sesaat, Ditya hanya mengamati paras Erina melalui sudut matanya. Mungkin Erina baru pertama bertemu Ditya, karena saat ketemu di restauran waktu itu juga Erina tidak terlalu memperhatikan Ditya.
Sedangkan Ditya sudah tahu dengan jelas seperti apa Erina, wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Erina, sekaligus adik dari Sisca. Ditya sudah paham betul bagaimana keadaan kehidupan Erina dari kecil, dan apa yang mendorong Erina untuk mengancurkan rumah tangga Raina dan Rean.
Dan saat tadi berinteraksi secara langsung Ditya melihat Erina ini orang yang bertanggung jawab akan kesalahnnya. Entah mengapa seluruh cerita kemarin itu membuat Ditya tertarik untuk menyelami kehidupan Erina semakin jauh.
Tak begitu lama mobil berhenti di pelataran kantor Ditya, "Makasih ya Mbak tumpanganya."
"Eh Mas boleh minta nomor teleponnya nggak? Nanti kalau mobil Masnya beres saya hubungin."
"Saya tinggal tepat di sebelah apartemen kamu kok."
Seulas senyuman Ditya berikan sebelum benar-benar keluar dari mobil Erina.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 09 Desember 2021^^^
__ADS_1