
Sebuah kue dengan corak warna abu-abu dan hitam telah tersaji di atas kotak, kue itu berukuran sedang dengan diatasnya ada sebuah bentuk gitar warna merah dari fondan. Raina ingat jika Kala sangat menyukai gitar sebagai benda pengilang jenuh.
"Ini kue nya buat siapa Bun?" tanya Mikaila.
Anak itu tengah memakan sebuah minicake yang Raina buatkan untuknya, karena kue untuk Kala tidak mungkin dicicipi Mikaial, jadi sebagai gantinya sebuah minicake untuk anak itu.
"Buat om Kala, Mikaila inget nggak sama om Kala."
Anak itu mengernyitkan dahinya sebelum mengacungkan jari ke atas.
"Inget Bun, om yang baik itu kan, yang pernah kesini?"
"Pinter banget anak Bunda."
"Tentu dong bun." jawab Mikaila.
"Mikaila mau ikut ke ulang tahun om Kala?"
"Ada anak kecil nggak bun, yang nanti main sama Mikaila?"
Raina menggeleng, "nggak ada, tapi ada bunda yang nanti sama Mikaila."
"Mikaila nggak mau ikut."
Mikaila memang lebih senang menghabiskan waktunya bermain, daripada harus mengikuti bundanya pergi ke kondangan atau acara ulang tahun seperti ini. Soalnya ia tidak suka ikut dalam acara orang dewasa yang menurut anak itu sangat membosankan.
"Jadi Mikaila mau dirumah aja sama mbak Tati?"
Anak itu memgangguk, "iya Bun, Mikaila janji nggak nakal kok."
Raina mengusak surai rambut anak itu, selanjutnya pandanganya teralih ke jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jam itu sudah menunjukan pukul empat sore, ia harus segera berangkat ke rumah Kala. Tapi sebelum itu tentu harus mengabari Rean.
^^^Anda. ^^^
^^^Mas, aku pergi ke ulang tahun Kala ya, mungkin pulangnya malem. ^^^
Tidak lama setelah mengirim pesan, balasan sudah muncul.
MyHusbu ♥
Hati-hati sayang, perginya sama pak Mardi ya. Nanti pulangnya aku jemput kamu.
Tanpa berniat membalas pesan dari Rean itu, Raina menyimpan ponselnya.
"Bunda berangkat dulu ya sayang, Mikaila baik-baik dirumah ya sayang."
"Iyaa Bun, daaa."
Raina mengambil kotak berisi kue tersebut dan langsung pergi keluar, meminta pak Mardi untuk mengantarkannya ke rumah Kala seperti perintah Rean.
Sekitar 20 menitan, mobil Raina baru saja sampai di rumah Kala. Ia langsung memasuki pagar memencet bel rumah itu.
Ceklek,
Pintu terbuka menampilkan sosok mama Kala yang tersenyum lebar melihat kedatangan Raina.
"Haii Tante."
__ADS_1
Ibu Kala langsung memeluk Raina sebentar, "aduh apa kabar sayang? Lama banget nggak ketemu."
"Iyaa Tante, udah lama...." Raina memberikan kotak kue itu pada ibu Kala. "Ini kuenya tante."
"Aduh makasih banyak banget ini loh, Na. Eh kok kamu baru dateng sih? Baru selesai ya bikin kue nya?"
Raina hanya mengangguk, meski sebenarnya tidak benar. Setelah pagi itu ibu Kala menelpon itu Raina langsung membuat kue dan selesai pada jam 11 pagi. Namun, Raina enggan datang di pagi itu karena malas bertemu Dewi.
Wajah Dewi yang selalu ingin mengbiarkan bendera perang padanya itu, ingin sekali rasanya ia cakar sampai tak berupa.
"Eh mbak Raina udah dateng?" basa-basi Dewi begitu Raina memasuki rumah itu.
Mama Dewi hanya memadang Raina dengan tatapan bertanya, sebelum menyenggol sang putri, "itu siapa?" bisiknya tepat di telinga Dewi.
"Ini Raina temen nya Kala." jawab ibu Kala, melihat besannya itu memandang Raina dengan bertanya-tanya.
"Hai tante." sapa Raina.
"Hallo Raina."
"Kamu duduk dulu Raina."
"Iya Tan."
Ibu Kala beranjak meletakan kue itu ke dapur meninggalkan Raina yang harus duduk berhadapan dengan Dewi dan ibunya.
Sepeninggalan ibu Kala, senyuman palsu Dewi meluruh.
"Harusnya mbak Raian nggak usah dateng sih! Cukup bikinin kue nya aja."
Tentu saja kalimat itu membuat Mamanya Dewi mencubit lengan putrinya.
"Ma, mbak Raina ini orang—"
"Aku dateng kesini bukan buat ribut sama kamu Wi, jadi tolong ya nggak usah ngomong macem-macem." ucapan Raina itu memotong ucapan Dewi.
"Iya Raina, Dewi ini becanda aja kok." bela Mama Dewi.
Memang mamanya sendiri adalah orang yang tidak suka keributan dan bukan orang yang suka mencari keributan seperti Dewi. Hafal dengan sifat anaknya yang memang kalimatnya selalu pedas, membuat Mamanya Dewi selalu memperbaiki keadaan seperti ini.
"Ma!"
Dewi tentu tidak terima dengan kalimat mamanya itu yang justru tidak membelannya, tapi ia hanya bisa menahan amarahnya saat melihat polototan mata mamanya.
***
Jam dinding menunjukan pukul enam sore, Dewi sudah menghubungi Kala perihal kapan lelaki itu pulang dan ternyata Kala lembur sehingga pulang pada pukul delapan malam.
Saat ini ibu Kala tengah menjemput ponakan-ponakannya yang masih kecil untuk kesini, karena mereka pasti akan senang.
Sedangkan Raina baru saja selesai membantu menyiapkan makanan dan saat ini sedang sibuk dengan ponselnya. Raina tengan berbalas pesan dengan Rean, ia mengatakan sedang dalam perjalanan menyusul Raina.
Sedari tadi tatapan tidak mengenakan Dewi tujukan pada Raina.
"Mbak kapan cerainya, orang suami selingkuh kok masih betah aja, ciri-ciri istri yang takut sama suami tuh." cibir Dewi yang memang tidak bisa menahan mulutnya.
Raina menghela nafas pelan, di ruang tamu ini hanya ada dirinya dan Dewi.
"Kurang kerjaan banget ya, ngurusin rumag tangga orang segala."
__ADS_1
"Ya harus dong Mbak, aku seneng liat rumah tangga Mbak yang memang berantakan itu."
Tidak tahu saja si Dewi kalau Rean dan Raina sudah baikkan.
"Terserah, silahkan katakan apapun, telinga aku nggak bisa denger kok bisikan setan kaya kamu!"
Dewi berdiri dari duduknya, mana terima dia dikatai setan oleh Raina.
"Mbak ini rumah aku ya! Nggak usah kurang ajar disini."
"Siapa yang memulai duluan, kamu kan?"
"Ya tapi mbak seengaknya yang sopanlah!"
Raina mencebik, "aku sopan ke orang yang sopan ke aku juga, aku juga akan menghargai orang menghargai aku. Tapi untuk orang yang menjelekanku, aku juga akan menjelekkan orang itu balik."
"Menjelekkan mbak bilang? Kalau mbak sih pantas di jelekkan. Udah jelas rumah tangganya hancur karena suaminya selingkuh, lah aku? Aku nggak kurang apapun mbak, gabisa dijelekkan!"
Raina ikut berdiri, lalu memandang tajam ke arah Dewi.
"Aduh-aduh seorang perawan tua yang beruntung sekali mendapatkan suami seperti Kala, tapi masih saja julid mengurusi rumah tangga orang."
"Jaga bicara Mbak!"
Raina terkekeh, pandanganya seakan mengatakan Sekarang giliranku membalas kata-katamu.
"Kalimatku benar bukan? Kamu sama Kala itu beda jauh, Kala seseorang yang pikirannya telah dewasa, selalu menjaga perasaan orang lain dan sebisa mungkin Kala selalu menghindari pertengkaran dengan siapapun...." Raina menjunjuk Dewi.
"Sedangkan kamu wanita 26 tahun yang pikirannya masih kekanakan dan selalu mencari masalah, berbanding terbalik dengan sifat Kala." lanjut Raina.
"Nggak usah sok tau Mbak, aku sama mas Kala itu saling mencintai!"
Raina menautkan kedua alisnya, "Yakin? Coba kamu tanya ke Kala, apakah Kala terpaksa dengan perjodohan itu atau nggak?"
Raina masih ingat saat Kala mendatanginya dan memberikan sebuah undangan, dengan pandangan redupnya Kala mengatakan dirinya dijodohkan.
Perjodohan yang sebenarnya sama sekali tidak Kala inginkan, lalu saat ternyata isteri yang ia dapatkan modelan Dewi seperti ini, tambah kecewa saja dirinya.
"Nggak! Mas Kala nggak terpaksa."
"Aku cuma mau kasih saean Wi, kalau nggak semua orang disekitar kamu itu memiliki pikiran buruk. Kamu jangan ngajak berantem orang-orang yang baru kamu temui ini, nggak ada untungnya juga nambah musuh."
"Alah nggak usah sok bijak Mbak."
Raina mendegus, memang melelahkan berbicara dengan orang macam Dewi ini. "Terserah kamu!"
"Mbak mendingan pulang deh, aku nggak mau mbak disini."
"Sama, aku juga males banget liat kamu!"
Setelah itu Raina melangkahkan kakinya keluar dari rumah Kala, tidak apa ia tidak ikut memberikan kejutan pada Kala. Raina sangatlah malas harus berlama-lama berhadapan dengan Dewi.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 27 Desember 2021^^^
__ADS_1