Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
31. Panik.


__ADS_3

Raina sampai di hotel pukul 2 siang, ia langsung mandi karena merasa tubuhnya pegal-pegal duduk beberapa jam di dalam, berendam sebentar di bak mandi hotel tentu saja membuat tubuhnya kembali fresh.


Saat baru saja keluar dari kamar mandi handphonenya bergetar, di layar muncul panggilan video dari Mama mertuanya. Dengan segera ia mendial tombol berwarna hijau.


Raina tadi memang langsung menonaktifkan kartunya, dan membeli kartu baru guna tidak dilacak oleh Rean. Ia benar-benar tidak mau Rean megikutinya sampai sini.


Terlihat dilayar Mama mertua dan Mikaila tengah duduk di sebuah tempat restauran yang memiliki tema anak-anak.


"Haii Bunda."


"Hai Sayang."


"Hallo Raina, udah sampai?"


"Udah Ma ini baru aja sampai hotel, aku habis mandi dan mau ganti baju."


"Wah kirain udah daru tadi, Mama mau nanya gimana hotel yang Mama siapin? Bagus kan?"


"Iyaa Ma, bagus banget kok."


"Terus ayah dimana Bunda?"


Nafas Raina tercekat, dia melupakan fakta jika akan mencurigakan jika selama seminggu melalui video call tidak nampak sama sekali wajah Rean.


Tadi setelah perdebatan alot, Raina berhasil terlepas dari Rean dan berangkat kesini sendiri. Rean tidak tahu keberadaannya, karena tiket sudah di sobek-sobek dan lelaki itu memang tidak tahu tempat yang dipilih ibunya untuk honeymoon mereka.


"Masih mandi sayang."


"Nggak mandi barengan?" goda Mama.


"Mama nih, eh iya aku tutup dulu ya, mau ganti baju dulu, masih pake bathrobe nih. Dadah sayang, dadah Mama."


"Dada juga Bunda."


Dengan segera Raina meletakkan handphonenya di nakas. Setelah itu ia bergegas membuka koper miliknya, betapa Raina dibuat melongo dengan isi koper yang dipersiapkan Mama mertuanya itu.


Hanya berisi pakaian yang kekurangan bahan, bahkan sebagian besarnya adalah baju dinas malam yaitu lingerie.


"Loh kok kaya gini semua."

__ADS_1


Akhirnya setelah mengeluarkan seluruh isi koper itu, Raina menemukan satu baju yang sedikit pantas. Dress biru tanpa lengan yang panjangnya satu jari diatas lutut, itu adalah pakaian yang paling sopan.


"Aku harus beli baju sih ini."


***


Hamparan pasir putih dan juga laut biru yang terlihat sepanjang mata memandang. Langit teramat cerah tetapi tidak begitu terik. Kacamata hitam dan dress berwarna biru sangat cocok ditubuh Raina.


Raja ampat, menjadi destinasi pilihan mama mertuanya, wajar saja pulau ini sangatlah terkenal dan manjadi surga dunia karena keindahannnya.


"Ternyata liburan sendirian nggak enak."


Hanya seorang diri tanpa siapapun yang ia kenal tentu membosankan, lebih baik menemani Mikaila bermain sepanjang hari daripada pergi berlibur seorang diri. Sebenarnya masalahnya dengan Rean juga membuat Raina semakin hilang mood saja, mengingat hal itu tentu ia tidaklah senang.


"Ke hotel aja deh tidur, ngantuk juga."


Raina melangkahkan kakinya, ia rasa pantai di siang hari seperti ini tidaklah mengasyikan terlalu ramai. Ia berencana kembali ke hotel saja dan menghabiskan waktu di pantai nanti saja saat sudah malam hari dan tempat ini sunyi, ia membutuhkan tempat yang tenang untuk menenangkan diri. Dan sepertinya pantai di malam hari cocok, toh hotelnya juga berada di bibir pantai jadi ia tentu bebas pergi ke pantai jam berapapun.


***


"Gimana udah ketemu?" Tanya Rean tidak sabaran pada orang seberang telepon.


Sebelum menutup telepon genggamnya Rean menghela nafas panjang, dihempaskan tubuhnya pada kursi kerja yang untungnya empuk.


Ia kembali ke kantor dan meminta bawahannya yang ahli IT untuk melacak dimana keberadaan Raina, Rean tidak bisa melacak dengan nomor telepon Raina karena nomornya sudah tidak aktif sehingga tidak bisa diketahui lokasinya.


Hal yang dilakukan hanyalah mencari tahu tiket yang dibeli mamanya itu tertuju kemana, tetapi mencari tahu hal itu tentu rumit sekali.


Tidak lama handphone Rean berbunyi.


"Ketemu?"


"Perjalanan ke raja ampat, sedangkan hotel yang dipesan adalah Ciaeara hotel & Resort."


Rean langsung menutup teleponnya dan menyeret kembali koper miliknya menuju luar ruangan, lebih tepatnya ke tempat sekretarisnya.


"Tolong pesankan saya tiket ke Raja Ampat, cari penerbangan paling cepat."


Meski dengan kernyitan di dahi, sekretaris itu mengangguk dan lekas mencari.

__ADS_1


"Tiket ke Raja Ampat? Kamu mau ngapain kesana Mas?"


Melihat siapa gerangan yang datang, Rean langsung mendecak sebal. Tidak bisakah wanita itu tidak melulu menganggunya.


"Kamu ngapain ada disini?"


"Tadi malem kamu nggak ke apartemen, Ethan tuh rewel ... Kamu mau ngapain ke Raja Ampat?"


"Jawab Mas jangan diem aja!!"


"Nyusul Raina."


"Jadi kalian berdua mau liburan gitu? Cuma berdua? Kamu nggak adil banget sih Mas, aku juga istri kamu. Kamu mau ninggalin aku sendiri? Gila kamu Mas."


Rean masih tidak bergeming dan tidak ingin menjawab kemarahan Erina tersebut. Rean justru mengalihakan pandangannya pada sang sekretaris yang merasa tidak nyaman melihat pertengkaran mereka.


"Gimana?"


"M-maaf pak Rean untuk penerbangan hari ini sudah habis."


"Kamu coba cek di semua aplikasi."


Penerbangan menuju indonesia timur untuk hari ini hanya dibatasi sampai jam 1, karena cuaca tidak mendukung dan ditakutkan pesawat mengalami turbolensi besar.


"Sudah pak, penerbangan paling cepat besok pagi."


Merasa tidak yakin, Rean mengecek sendiri dengan handphone miliknya, decakan sebal muncul di bibirnya saat ucapan sekretarisnya ini benar.


"Mas! Aku juga punya hak ya atas kamu!"


Lagi-lagi Rean tidak menjawab pertanyaan Erina, hanya melangkahkan pergi, meninggalkan kopernya begitu saja dan tidak peduli dengan teriakan Erina.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 19 November 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2